Tribun
Deutsche Welle

Opini: Erdogan Sedang Berjuang agar Tetap Berkuasa

Presiden Turki baru-baru ini mengancam akan mengusir 10 duta besar karena menyerukan pembebasan aktivis Osman Kavala. Erdogan sekali…

Setiap kali Turki menjadi berita utama karena alasan apapun, hanyalah masalah waktu sebelum Presiden Recep Tayyip Erdogan kemudian muncul dengan reaksi yang sama sekali tidak dapat dipahami.

Yang paling segar dalam ingatan adalah ketika Erdogan pada Sabtu (23/10) menginstruksikan Kementerian Luar Negeri untuk menyatakan "persona non grata” terhadap 10 duta besar negara-negara Barat karena menyerukan pembebasan aktivis Osman Kavala yang ditahan semena-mena.

Menariknya, dua hari setelah pengumuman itu, Erdogan melunak dan menarik ancamannya. "Kami percaya bahwa para duta besar ini, yang telah memenuhi komitmennya terhadap Pasal 41 dari Konvensi Wina, akan lebih berhati-hati dalam pernyataan mereka sekarang,” katanya dalam sebuah pernyataan yang disiarkan lewat televisi.

Jelas bahwa Erdogan tidak hanya gemar mengobarkan konflik dengan Barat, tetapi ia juga membutuhkannya.

Lagi pula, buat apa ia rela mengacaukan hubungan dengan mitra NATO-nya yang paling penting - AS, Prancis dan di atas segalanya Jerman? Apalagi hal itu terjadi hanya kurang dari seminggu setelah Angela Merkel melakukan kunjungan terakhirnya ke Istanbul. Tampaknya pujian Erdogan atas hubungan Jerman-Turki saat kunjungan Merkel itu hanya sebagai basa-basi belaka.

Barat selalu jadi sasaran

Erdogan sekali lagi telah menggunakan alat yang teruji ampuh untuk mengalihkan perhatian dari masalahnya sendiri di dalam negeri.

Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa partai Erdogan, AKP, yang merupakan partai penguasa di Turki, telah kehilangan dukungan secara besar-besaran. Mereka yang menyatakan masih akan mendukungnya dalam pemilihan tidak sampai 30%.

Kemudian, pada Kamis (21/10), satuan tugas internasional dalam melawan pencucian uang (FATF), telah mengumumkan secara resmi bahwa Turki berada dalam "daftar abu-abu” atas kegagalannya memerangi pencucian uang dan pendanaan teroris.

Langkah ini sejatinya hanya disambut dengan sedikit fluktuasi harga di bursa saham Istanbul. Tapi, ketika Bank Sentral Turki secara tiba-tiba dan mengejutkan menurunkan suku bunga utamanya, nilai tukar mata uang asing kolaps, dan mata uang Turki mengalami penurunan paling tajam dalam beberapa dekade.

Halaman
12
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas