Tribun

Perdana Menteri Belgia Kutuk Aksi Kekerasan yang Dilakukan Demonstran Anti-Covid              

Polisi saat ini sedang menganalisis rekaman video unjuk rasa untuk mencari tahu siapa yang melakukan kekerasan

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Eko Sutriyanto
Perdana Menteri Belgia Kutuk Aksi Kekerasan yang Dilakukan Demonstran Anti-Covid              
Freepik
Ilustrasi virus corona 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, BELGIA - Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo mengecam kekerasan yang dilakukan demonstran anti Covid-19 terhadap aparat kepolisian selama aksi unjuk rasa baru-baru ini.

Dikutip dari laman Sputnik News, Rabu (24/11/2021), hari Minggu lalu, unjuk rasa anti-Covid yang berlangsung di Belgia berubah menjadi aksi kekerasan.

Demonstran mulai melemparkan batu dan benda-benda lainnya ke petugas polisi.

Polisi akhirnya membalas dengan menyemprotkan gas air mata serta meriam air.

Dalam aksi unjuk rasa anti-Covid itu, polisi memperkirakan ada 35.000 orang yang tergabung, menyusul pengumuman pemerintah Belgia yang menegaskan bahwa tindakan tegas terhadap pelaku pelanggaran Covid-19 akan tetap berlaku hingga 4 Desember mendatang.

Baca juga: Pengawas Obat-obatan Uni Eropa Rekomendasikan Penggunaan Darurat Pil Anticovid

Selama aksi tersebut, 3 petugas polisi pun terluka dan dua tersangka ditangkap.

"Kekerasan tidak dapat diterima, terutama terhadap aparat kepolisian dan dalam masa sulit seperti yang kita alami saat ini," kata De Croo, dalam konferensi pers, Senin kemarin 

Menurutnya, serangan terhadap polisi adalah pelanggaran dan tidak ada kaitannya dengan kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Ia mencatat bahwa polisi saat ini sedang menganalisis rekaman video unjuk rasa untuk mencari tahu siapa yang melakukan kekerasan.

Hingga saat ini, jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 di Belgia terus mengalami peningkatan sejak akhir September lalu, dengan rata-rata kasus infeksi harian selama 7 hari terakhir sebanyak 10.000 orang.

Mulai Sabtu lalu, pemerintah Belgia pun menetapkan aturan bahwa mengenakan masker adalah hal yang wajib bagi semua orang yang berusia 10 tahun ke atas.

Selain itu, diterapkan pula aturan pembatasan pertemuan yakni sebanyak 50 orang di dalam ruangan dan 100 orang di luar ruangan, lalu hanya 20 persen staf yang boleh berada di kantor pada waktu yang sama. 

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas