Ilmuwan Inggris Desak Lebih Banyak Pembatasan untuk Melawan Gelombang Omicron
Pejabat kesehatan Inggris mengatakan Omicron menyebar jauh lebih cepat daripada strain Delta dan kemungkinan akan menjadi varian dominan di Inggris.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
TRIBUNNEWS.COM - Para ilmuwan Inggris pada Sabtu (11/12/2021) menyampaikan pandangan untuk membendung penyebaran varian Omicron.
Menurut para ilmuwan, pemerintah Inggris perlu memberlakukan pembatasan lebih ketat.
Dengan demikian, pemerintah Inggris dapat memperlambat pertumbuhan varian Omicron dan mencegah meluapnya pasien rawat inap, serta kematian akibat Covid-19.
Melansir Al Jazeera, pejabat kesehatan Inggris mengatakan Omicron menyebar jauh lebih cepat daripada strain Delta dan kemungkinan akan menjadi varian dominan di Inggris dalam beberapa hari.
Baca juga: Kasus Pertama Covid-19 Varian Omicron Terrkonfirmasi Muncul di Taiwan
Baca juga: Petugas Bandara Singapura Terpapar Varian Omicron dari Penumpang Transit
Kekhawatiran tentang varian baru membuat pemerintah Konservatif Perdana Menteri Boris Johnson memperkenalkan kembali pembatasan yang dicabut hampir enam bulan lalu.
Aturan di sebagian besar ruangan di Inggris mewajibkan penggunaan masker, menunjukkan sertifikat vaksin ketika memasuki klub malam, hingga orang-orang didesak untuk bekerja dari rumah (WFH).
Banyak ilmuwan mengatakan itu tidak mungkin cukup.
Baca juga: Temuan Terbaru: Booster Beri 70 hingga 75% Perlindungan terhadap Gejala Ringan Omicron
Baca juga: SYARAT Perjalanan Jarak Jauh saat Libur Nataru, Wajib Vaksin 2 Kali dan Rapid Test Antigen
Para ilmuwan di London School of Hygiene and Tropical Medicine menuturkan Omicron kemungkinan akan menyebabkan gelombang besar infeksi pada Januari.
Menurut prediksi mereka, Omicron dapat menyebabkan antara 25.000 dan 75.000 kematian di Inggris dalam lima bulan ke depan, jika tidak ada tindakan lain yang diambil.
Skenario paling pesimistis memperkirakan setengah juta orang dirawat di rumah sakit karena virus pada akhir April dan mengatakan penerimaan rumah sakit setiap hari bisa dua kali lipat dari puncak sebelumnya pada Januari 2021.
Jumlah infeksi akan tergantung pada seberapa banyak varian lolos dari perlindungan dari vaksin, dan seberapa efektif suntikan booster dalam memperkuat kekebalan, yang keduanya masih belum jelas.
Baca juga: Omicron Belum Ada di Indonesia, Wamenkes Akui Sejumlah Pintu Masuk Sudah Gunakan Metode Deteksi Baru
Baca juga: Pemerintah Inggris Siapkan Rencana C untuk Atasi Covid-19 Varian Omicron
Para ilmuwan di Afrika Selatan, tempat Omicron pertama kali diidentifikasi, mengatakan bahwa mereka melihat tanda-tanda bahwa hal itu dapat menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada Delta, tetapi mereka berhati-hati karena terlalu dini untuk menyimpulkannya.
“Dalam skenario kami yang paling optimis, dampak Omicron di awal tahun 2022 akan berkurang dengan tindakan pengendalian ringan seperti bekerja dari rumah,” kata Rosanna Barnard dari Pusat Pemodelan Matematika Penyakit Menular sekolah tersebut.
“Namun, skenario paling pesimistis kami menunjukkan bahwa kami mungkin harus menanggung pembatasan yang lebih ketat untuk memastikan [layanan kesehatan] tidak kewalahan.”
Sementara itu, pemerintah Johnson tidak mempertimbangkan langkah-langkah lebih ketat, tetapi akan menawarkan semua orang berusia 18 tahun ke atas meneriman suntikan vaksin pada akhir Januari 2022.
Badan Pengawas Kesehatan Inggris mengatakan pada Jumat (10/12/2021), baik vaksin AstraZeneca dan Pfizer tampak kurang efektif dalam mencegah infeksi simtomatik pada orang yang terpapar Omicron.
Namun, data awal menunjukkan bahwa efektivitas tampaknya meningkat antara 70 persen dan 75 persen setelah dosis vaksin ketiga .
Berita lain terkait Omicron
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan