Tribun
Deutsche Welle

Turunnya Tingkat Kelahiran Jadi Peringatan Bagi Pemerintah Cina

Angka kelahiran di Cina kembali menurun sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan terus melambat di tengah kuatnya upaya pemerintah menyeimbangkan…

Turunnya Tingkat Kelahiran Jadi Peringatan Bagi Pemerintah Cina

Sepanjang tahun lalu, sebanyak 10,6 juta bayi lahir di seluruh Cina, menurut data resmi pemerintah yang dirilis Senin (17/1). Jumlah tersebut berkurang 12 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 12 juta angka kelahiran.

Menurut sensus teranyar, Cina memiliki 1,4 miliar penduduk pada akhir tahun 2021, atau naik sebanyak 480.000 penduduk dibandingkan tahun sebelumnya, lapor Biro Statistik Nasional di Beijing. Lambatnya pertumbuhan populasi dinilai bisa mengancam rencana Partai Komunis Cina untuk mengembangkan model perekonomian masa depan yang sepenuhnya mandiri dan ditopang oleh pasar dalam negeri.

Masalah rendahnya tingkat kelahiran sejak lama dianggap sebagai "bom waktu demografis" bagi Cina. Dengan nilai produksi perorangan yang lebih rendah dari rata-rata global, negeri tirai bambu itu diyakini akan kehabisan tenaga kerja untuk menopang populasi yang cepat menua.

Partai Komunis Cina menerapkan kebijakan satu anak sejak 1980an untuk menahan lonjakan populasi. Namun keberhasilan itu berubah menjadi petaka, ketika kurva jumlah usia kerja mencapai puncaknya pada 925 juta orang di tahun 2011, dan selanjutnya menurun lebih dini dari yang diperkirakan. Buntutnya pemerintah melonggarkan kebijakan dan mengizinkan setiap keluarga untuk punya tiga orang anak.

Namun kelonggaran tersebut gagal meyakinkan pasangan muda, yang lebih mengkhawatirkan kenaikan biaya hidup, lonjakan harga properti atau diskriminasi terhadap ibu di tempat kerja.

Bom waktu demografis

Saat ini angka populasi angkatan kerja di Cina yang berusia antara 16 hingga 59 tahun, anjlok di kisaran 882 juta orang, atau hanya mencakup 62 persen dari total populasi. Padahal satu dekade silam, angka tersebut masih berkisaran 70 persen. Pakar demografi meyakini, porsi angkatan kerja akan menjadi separuh dari jumlah populasi pada 2050.

Adapun populasi lansia saat ini ditaksir berjumlah 267 juta orang, atau naik hampir 19 persen dari tahun 2020. Porsinya terhadap jumlah total populasi adalah 18,9 persen.

Ancaman anjloknya angka tenaga kerja menguat ketika Presiden Xi Jinping semakin mengandalkan populasi sendiri untuk menopang ambisi Cina menjadi pusat industri teknologi global. Kompetitor lain seperti Jerman atau Jepang juga mengalami masalah penuaan populasi. Namun jika perekonomian negara-negara industri maju sudah lebih dulu menyerap investasi teknologi, perekonomian Cina masih mengandalkan pertanian dan industri padat karya.

Tingkat kelahiran di Cina sudah turun secara konstan sejak sebelum diterapkannya kebijakan satu anak. Menurut Bank Dunia, rata-rata jumlah anak per rumah tangga di Cina anjlok dari enam pada dekade 1960an, menjadi di bawah tiga anak pada 1980an. Tren serupa diamati pada kekuatan ekonomi baru Asia lain, seperti Korea Selatan atau Thailand.

Ahli demografi mengatakan pembatasan jumlah anak semakin mempercepat kejatuhan angka populasi. Kebijakan satu anak misalnya ditegakkan dengan hukuman tegas seperti pemecatan atau aborsi paksa. Akibatnya banyak orang tua yang memilih menggugurkan bayi perempuan. Ironisnya hal tersebut memicu ketimpangan demografi, di mana jumlah kaum laki-laki lebih banyak ketimbang kaum perempuan.

rzn/pkp (ap,afp)

Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas