Biden Bujuk Negara G7 Tambah Sanksi untuk Rusia
Amerika berencana memberikan sanksi tambahan terhadap Rusia atas perang yang berlanjut
Penulis:
Larasati Dyah Utami
Editor:
Erik S
Laporan Wartawan Tribunnews, Larasati Dyah Utami
TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON- Amerika Serikat (AS) berencana memberikan sanksi tambahan terhadap Rusia atas perang yang berlanjut dan semakin intensif di Ukraina.
Dilansir Reuters, Rabu (4/5/2022), Presiden AS Joe Biden pada Rabu mengatakan dia akan berbicara dengan para pemimpin lain dari negara-negara maju Kelompok Tujuh (G7) minggu ini tentang potensi sanksi tambahan terhadap Rusia atas perang yang berlanjut dan semakin intensif di Ukraina.
Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan Amerika Serikat terus berdiskusi dengan mitranya tentang sanksi lebih lanjut dan dapat mengambil "tindakan tambahan" untuk menekan Moskow.
Pada konferensi Wall Street Journal, Yellen tidak akan meninjau tindakan spesifik apa pun yang sedang dipertimbangkan, tetapi menekankan bahwa tindakan lebih lanjut mungkin dilakukan "jika Rusia melanjutkan perang ini melawan Ukraina."
Baca juga: Rusia Klaim Serangannya Telah Menewaskan 600 Pejuang Ukraina
Biden mengatakan kepada wartawan, "Kami selalu terbuka untuk sanksi tambahan" ketika ditanya tentang rencana AS setelah Uni Eropa mengusulkan sanksi terberatnya terhadap Rusia, termasuk embargo minyak bertahap.
"Saya akan berbicara dengan anggota G7 minggu ini tentang apa yang akan kami lakukan atau tidak lakukan," kata Biden.
Gedung Putih menolak mengatakan kapan Biden akan berbicara dengan para pemimpin negara G7 lainnya - Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Kanada, dan Italia.
Baca juga: Rusia Klaim Serangannya Telah Menewaskan 600 Pejuang Ukraina
Sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki menolak menyebutkan nama oligarki potensial yang dapat ditambahkan ke daftar sanksi AS, tetapi mengatakan Amerika Serikat terus meninjau opsinya.
"Saya akan mengatakan, tidak ada yang aman dari sanksi kami," katanya.
Langkah-langkah baru sudah diumumkan oleh UE termasuk sanksi terhadap bank top Rusia dan larangan penyiaran Rusia dari gelombang udara Eropa, serta embargo minyak mentah dalam enam bulan.