Tribun

Beralih Menuju Pertanian Hijau, Petani Jerman Wajib Kurangi Pemakaian Pupuk Nitrat

Mulai Kamis ini, petani di Rhine-Westphalia Utara diharuskan menggunakan pupuk nitrat 20 persen lebih sedikit

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Beralih Menuju Pertanian Hijau, Petani Jerman Wajib Kurangi Pemakaian Pupuk Nitrat
Ist
Ilustrasi - Petani di negara bagian terpadat di Jerman harus sangat membatasi penggunaan teknik pemupukan yang efektif di bawah serangkaian pembatasan baru,yang tampaknya ditujukan untuk membuat industri lebih 'hijau 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, BERLIN - Petani di negara bagian terpadat di Jerman harus sangat membatasi penggunaan teknik pemupukan yang efektif di bawah serangkaian pembatasan baru,yang tampaknya ditujukan untuk membuat industri lebih 'hijau'.

Mulai Kamis ini, petani di Rhine-Westphalia Utara diharuskan menggunakan pupuk nitrat 20 persen lebih sedikit di daerah yang dianggap memiliki tingkat bahan kimia yang 'bermasalah'.

Ini mencakup sepertiga dari lahan pertanian provinsi yang dapat digunakan.

Aturan tersebut tampaknya tidak populer di kalangan beberapa petani lokal dan pejabat politik.

Baca juga: Rusia Sebut Badan HAM PBB Abaikan Pelecehan Terhadap Wanita Ukraina di Negara Uni Eropa

Dikutip dari laman Russia Today, Kamis (8/12/2022), Wakil Presiden Asosiasi Pertanian Rhenish, Erich Gussen memperingatkan bahwa peraturan baru itu mengindikasikan bahwa kualitas panen para petani akan lebih rendah dan mengisyaratkan petani harus menerima peraturan tanpa perlawanan.

"Ada kemarahan besar diantara para petani, yang benar-benar membuat kami kesal. Jika ladang gandum membutuhkan 200 kg pupuk untuk hasil yang optimal, petani sekarang terpaksa menggunakan 40 kg lebih sedikit. Itu berarti hasil panen dan kualitas gandum akan menurun!," kata Gussen pada Kamis waktu setempat.

Menteri Pertanian dan Perlindungan Knsumen Rhine-Westphalia Utara, Silke Gorissen menggambarkan perluasan di menit-menit terakhir dari daerah rendah nitrat sebagai 'langkah mundur'.

Ia mengklaim bahwa dirinya telah lama mencari pengecualian untuk petani konstituen yang telah membuktikan diri sebagai pengurus tanah yang bertanggung jawab.

Inisiatif serupa, yang sedang berlangsung di Belanda dalam beberapa bulan terakhir pun telah menghadapi penolakan lokal tingkat tinggi.

Negara itu dilaporkan berusaha untuk membeli atau menutup paksa sebanyak 3.000 pertanian demi memenuhi target lingkungan Uni Eropa (UE).

Meskipun pendukung pertanian di negara tersebut mengklaim bahwa mereka memiliki beberapa teknik pertanian berkelanjutan yang paling canggih.

Ikuti kami di
Berita Lainnya
© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas