Tribun
BBC

Bisakah kita sukses dengan menjadi orang baik?

Kadang-kadang kita diberi tahu bahwa seseorang terlalu baik untuk sukses, atau bahwa orang baik tidak punya kemampuan untuk menjadi…

Kita semua setuju bahwa menjadi baik itu bagus, menjadi baik itu bermoral, tetapi apakah kebaikan hati menuntun kita pada kesuksesan dalam hidup? Lagi pula, bukankah kebaikan berarti mendahulukan kepentingan orang lain? Bukankah itu membutuhkan pengorbanan diri?

Namun coba lihat orang-orang terkenal ini: Gareth Southgate, salah satu manajer timnas Inggris yang paling sukses; Jacinda Ardern, perdana menteri Selandia Baru; dan James Timpson, bos waralaba reparasi sepatu Timpson. Ketiganya jelas merupakan “pemenang” di bidangnya, tetapi semuanya menempatkan kebaikan pada inti strategi mereka untuk sukses.

Mereka mendapati bahwa pendekatan yang lebih welas asih dan "lebih lembut" terhadap manajemen olahraga, politik, dan bisnis membuahkan hasil positif, tidak hanya bagi orang-orang yang bekerja untuk mereka, tetapi juga bagi mereka sendiri. 

Gagasan tradisional (kapitalis) barat bahwa Anda harus tak kenal ampun, ambisius, dan fokus untuk menjadi nomor satu jika ingin sukses mulai terbantahkan.

Baca juga:

Ada semakin banyak bukti ilmiah bahwa orang baik bisa menjadi pemenang. Pada tahun 2020 saya menjadi bagian dari sebuah tim di University of Sussex yang melakukan studi tentang sikap publik terhadap kebaikan – studi terbesar yang pernah dilakukan tentang topik ini. Lebih dari 60.000 orang dari 144 negara diminta untuk mengisi kuesioner yang disebut The Kindness Test yang diluncurkan di acara radio yang saya bawakan – All in the Mind di BBC Radio 4 dan Health Check di BBC World Service.

Ketika ditanya di mana orang-orang melihat paling banyak tindakan kebaikan, tempat kerja mendapat peringkat ketiga setelah rumah dan fasilitas kesehatan — baik sebagai tempat orang-orang menyaksikan tindakan kebaikan dan tempat kebaikan benar-benar dihargai.

Jadi, tempat yang barangkali mendapat reputasi sebagai kompetitif dan impersonal, di mana orang-orang saling sikut untuk posisi, merupakan tempat untuk lebih banyak empati dan pertimbangan dari yang mungkin Anda pikirkan.

Kita harus ingat bahwa ini adalah studi yang self-selecting (datanya diperoleh melalui pelaporan mandiri, bukan pengukuran objektif), dan bila dilihat sekilas, hasil sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan konsultan branding yang memiliki 1.500 pegawai di Inggris tidak begitu positif, dengan hanya satu dari tiga responden yang sangat setuju bahwa bos mereka baik hati, sementara seperempatnya menganggap pemimpin organisasi mereka tidak baik hati.

Tapi bila kita menggali lebih dalam hasilnya, kita akan mendapati bahwa responden yang punya bos yang baik hati lebih cenderung mengatakan mereka akan bertahan di perusahaan setidaknya untuk satu tahun lagi, bahwa tim mereka menghasilkan pekerjaan yang luar biasa dan bahwa perusahaan mereka sehat secara finansial.

Sementara itu, 96% karyawan yang ikut serta dalam survei mengatakan bahwa bermurah hati dalam bekerja penting bagi mereka, mengindikasikan bahwa kebaikan hati itu penting jika suatu organisasi ingin sukses.

Ide ini didukung oleh penelitian dari Joe Folkman, ahli psikometri yang berbasis di Amerika Serikat (psikometri adalah cabang psikologi yang mendalami tes dan pengukuran).

Ia mempelajari penilaian feedback 360-derajat dari lebih dari 50.000 pemimpin dan menemukan bahwa pemimpin yang lebih disukai oleh para stafnya juga cenderung dianggap lebih efektif. Bahkan, pemimpin yang tidak disukai namun efektif begitu jarang sehingga kemungkinannya terjadi hanya satu dari 2000.

Halaman
12
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di
Berita Lainnya
© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas