Pembatasan Wilayah Diperlonggar, Kasus Covid di China Melonjak dan Warga Pilih Bersembunyi di Rumah
Usai kebijakan pelonggaran wilayah diberlakukan, jumlah kasus positif Covid di sebagian wilayah China mengalami lonjakan tajam.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti
TRIBUNNEWS.COM, BEIJING – China dilaporkan tengah mengalami gelombang lonjakan kasus positif Covid-19 secara signifikan, kenaikan ini terjadi setelah pemerintah memutuskan untuk melonggarkan aturan-aturan pembatasan wilayah.
Pelonggaran awalnya dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang sempat melambat selama tiga tahun terakhir, namun usai kebijakan ini diberlakukan jumlah kasus positif Covid di sebagian wilayah di China mengalami lonjakan tajam.
Pemerintah Beijing mencatat setidaknya pasien positif Covid di wilayahnya telah tembus mencapai 1.133 kasus per hari.
Baca juga: China Hentikan Aplikasi Pelacak Covid-19 usai Diakhirinya Pembatasan Skala Besar
Lonjakan tersebut menambah jumlah pasien Covid di Beijing dimana saat ini kasus baru Covid melonjak 10.815 termasuk 8.477 tanpa gejala. Angka itu bahkan menjadi kasus harian tertinggi sepekan terakhir.
Tak hanya Beijing, Pusat keuangan Shanghai juga dilaporkan mengalami peningkatan dengan 11 kasus bergejala dan 120 kasus tanpa gejala hanya dalam kurun waktu satu hari.
Imbas lonjakan ini, salah satu ahli kesehatan di China telah mengeluarkan peringatan, terkait potensi lonjakan kasus positif usai pemerintah melonggarkan sejumlah pembatasan diantaranya membuka kawasan perbatasan, mengurangi cakupan tes Covid serta memperbolehkan pasien melakukan isolasi mandiri.
"Saat ini, epidemi di China menyebar dengan cepat, dan dalam keadaan seperti itu, sekuat apa pun pencegahan dan pengendaliannya, akan sulit untuk benar-benar memutus rantai penularan." ujar Ahli epidemiologi terkemuka Zhong Nanshan, dikutip The Straits Time.
Kendati aturan Covid-19 mulai dilonggarkan, namun warga China kini masih bersikap berhati-hati. Berada toko-toko, restoran dan kereta bawah tanah bahkan hanya dibuka sebagian. Ini lantaran banyak warga memilih tetap waspada terhadap kemungkinan penyebaran infeksi baru.
Sementara itu, antrean panjang terlihat di luar apotek di seluruh kawasan Beijing pada Minggu (11/12/2022). Antrian ini terjadi lantaran para penduduk berebut mendapatkan obat flu dan demam serta alat tes antigen yang jumlahnya kian menipis seiring dengan melonjaknya Covid.
Khawatir kondisi ini kian memicu kepanikan warga, pemerintah China menuturkan bahwa sebanyak 106.000 dokter dan 177.700 perawat akan dialihkan ke unit perawatan intensif guna mengatasi lonjakan pasien Covid di China
“Tolong lindungi diri Anda. Cobalah sebisa mungkin untuk tidak keluar. Jadilah orang pertama yang bertanggung jawab atas kesehatan Anda sendiri, mari kita hadapi ini bersama.” ujar pesan yang dibagikan manajemen kondominium di distrik Dongcheng.