China Kecam NATO, Sebut Dunia akan Terus Dilanda Perang Selama NATO Masih Bersikap 'Perang Dingin'
China telah mempertahankan netralitas terkait krisis Ukraina meskipun ada tekanan kuat dari AS dan sekutu NATO-nya untuk mengutuk Rusia.
Penulis:
Fitri Wulandari
Editor:
Dewi Agustina
Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari
TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa dunia akan terus dilanda perang dan gejolak geopolitik selama NATO terus bersikap seolah-olah masih berperang dalam Perang Dingin dan Tirai Besi belum runtuh.
"Berpegang teguh pada mentalitas Perang Dingin mengarah pada antagonisme dan konfrontasi. Berakhirnya Perang Dingin lebih dari tiga dekade lalu tidak berarti berakhirnya pemikiran zero-sum dan mentalitas Perang Dingin. Tembok Berlin telah diruntuhkan, namun pagar ideologi dan prasangka berdasarkan nilai-nilai masih berdiri," kata Juru bicara Kementerian tersebut, Wang Wenbin dalam sebuah pengarahan di Beijing.
Baca juga: Beda dengan NATO dan Uni Eropa, Rusia Respons Positif Peta Jalan Ukraina yang Dibuat China
Dikutip dari laman Russia Today, Sabtu (25/2/2023), Wang melontarkan komentarnya ini saat China memperingati satu tahun operasi militer Rusia di Ukraina.
Sebelumnya pada Jumat kemarin, Kementerian Luar Negeri China merilis rencana 12 poin untuk mengakhiri pertempuran Rusia dan Ukraina, sebuah peta jalan yang dianggap oleh Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg kurang 'kredibilitas', karena China selama ini telah mempertahankan hubungan dekatnya dengan Rusia.
Wang mencatat bahwa NATO yang dibentuk pada 1949 untuk memberikan keamanan kolektif melawan Uni Soviet, terus ada selama tiga dekade setelah runtuhnya Uni Soviet.
"Blok militer Barat itu bahkan terus-menerus berusaha untuk melampaui zona pertahanan tradisional dan ruang lingkupnya serta memicu ketegangan dan menciptakan masalah di Asia-Pasifik. Jika mentalitas Perang Dingin seperti itu terus berlanjut dan tidak terkendali, konfrontasi dan krisis akan menjadi masa depan bagi kita semua," tegas Wang.
China telah mempertahankan netralitas terkait krisis Ukraina meskipun ada tekanan kuat dari Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO-nya untuk mengutuk Rusia.
Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengancam pada Kamis lalu bahwa China akan menghadapi 'konsekuensi serius' jika membantu Rusia menghindari sanksi AS atau memberikan bantuan ke Rusia.
Baca juga: China Sindir Barat: Pengiriman Senjata ke Ukraina Picu Perang Babak Baru
"Kami pasti akan terus menjelaskan kepada pemerintah China dan perusahaan serta bank di yurisdiksi mereka tentang aturan apa yang terkait dengan sanksi kami dan konsekuensi serius yang akan mereka hadapi jika melanggarnya," kata Yellen pada KTT G20 di New Delhi, India.
Wang pun menuduh AS menerapkan standar ganda, bersikeras untuk menghormati kedaulatan Ukraina bahkan saat AS secara sembrono melanggar kedaulatan negara lain.
Ia juga mennghina Duta Besar AS untuk China, Nicholas Burns, karena menepis laporan China tentang hegemoni AS sebagai 'propaganda kasar dan kekuatan besar yang tidak layak'.
"Kami ingin mengatakan kepada Duta Besar AS bahwa diplomasi yang kuat dan koersif adalah hal yang benar-benar tidak layak untuk sebuah kekuatan besar," kata Wang.
Baca tanpa iklan