Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

China Lakukan Simulasi Serangan di Taiwan

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan 9 kapal dan 71 pesawat tempur telah terdeteksi di dekat pulau itu pada Minggu pagi waktu setempat.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in China Lakukan Simulasi Serangan di Taiwan
War on the Rocks
Patroli kapal fregat China. Militer China kembali menggertak Taiwan dengan menggelar latihan perang melibatkan empat kapal dan 57 pesawat tempur di perairan dekat Taiwan, Senin (9/1/2023). 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, TAIPEI - China telah mensimulasikan serangan presisi di Taiwan selama latihan militer gabungan di sekitar pulau itu.

Pernyataan ini disampaikan media pemerintah China pada hari Minggu kemarin.

Manuver yang melibatkan kapal induk itu diluncurkan sebagai respons atas perjalanan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen ke Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari laman Russia Today, Senin (10/4/2023), Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan sembilan kapal Angkatan Laut dan 71 pesawat tempur telah terdeteksi di dekat pulau itu pada Minggu pagi waktu setempat.

Sementara itu 45 pesawat, termasuk jet tempur, pesawat pengintai dan drone tampak menyeberang ke zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) pulau itu.

"Pesawat patroli Taiwan sendiri, serta kapal Angkatan Laut dan sistem rudal darat diaktifkan untuk 'merespons kegiatan ini'," kata kementerian itu.

Baca juga: Pertemuan Pengusaha Indonesia dan Tiongkok Perkuat Hubungan Indonesia-China

Rekomendasi Untuk Anda

Juru bicara Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), Kolonel Senior Shi Yi mengatakan pada Sabtu lalu, kapal dan pesawat yang 'mengelilingi' Taiwan itu merupakan bagian dari latihan.

Shi menggambarkan latihan tersebut sebagai peringatan 'melawan kolusi antara pasukan separatis yang mencari 'kemerdekaan Taiwan' dan kekuatan eksternal dan melawan aktivitas provokatif mereka'.

Permainan perang tiga hari bernama 'United Sharp Sword' diluncurkan pada Sabtu lalu, setelah kembalinya Tsai dari AS.

China selama ini memandang Taiwan, yang telah diperintah oleh pemerintah terpisah sejak akhir 1940-an, sebagai wilayah kedaulatannya dan menentang segala bentuk pengakuan diplomatik terhadap otoritas Taiwan.

Pada Jumat lalu, China memasukkan dua kelompok berbasis di Taiwan, ke dalam daftar hitam karena dituduh mempromosikan kemerdekaan pulau itu.

Sebagai bagian dari tur 10 harinya di Amerika Tengah dan Utara, Tsai bertemu dengan Ketua DPR AS Kevin McCarthy, yang berjanji akan terus mendukung Taiwan.

"Saya percaya ikatan kita lebih kuat sekarang daripada kapanpun atau kapan pun dalam hidup saya," kata anggota Kongres dari Partai Republik itu.

Sementara itu, delegasi AS yang dipimpin oleh Ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR Michael McCaul tiba di Taiwan pada Kamis lalu.

McCaul, yang bertemu dengan Tsai setelah kembali dari AS, memperingatkan China bahwa negara itu harus 'berpikir dua kali jika ingin menyerang'.

Pejabat di China telah menyatakan bahwa mereka mencari penyatuan kembali secara damai dengan Taiwan, namun menuduh AS mencampuri urusan dalam negerinya dan menuding politisi 'separatis' di pulau itu.

AS secara resmi memang telah mendukung kebijakan One-China, yang berarti hanya boleh ada satu pemerintah China.

Kendati demikian, AS telah menjual senjata ke Taiwan dan berjanji akan mempertahankan pulau itu jika ada serangan dari daratan.

Pertemuan Tsai dengan McCarthy pada Rabu lalu menandai kedua kalinya ia bertemu dengan seorang Ketua DPR AS dalam waktu kurang dari setahun.

Kunjungan pendahulu McCarthy, yakni Nancy Pelosi ke Taiwan sebelumnya dilakukan pada Agustus 2022, hal ini mendorong China 'meradang' dan menggelar latihan terbesarnya di Selat Taiwan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas