Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Macron Desak Eropa Jauhi Perseteruan Antara AS dan China Soal Taiwan

Eropa tidak boleh membiarkan dirinya terseret ke dalam konfrontasi antara AS dan China atas Taiwan yang mengikuti 'ritme Amerika'.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Macron Desak Eropa Jauhi Perseteruan Antara AS dan China Soal Taiwan
Odd ANDERSEN / AFP
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Eropa tidak boleh membiarkan dirinya terseret ke dalam konfrontasi antara Amerika Serikat (AS) dan China atas Taiwan yang mengikuti 'ritme Amerika'. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, PARIS - Eropa tidak boleh membiarkan dirinya terseret ke dalam konfrontasi antara Amerika Serikat (AS) dan China atas Taiwan yang mengikuti 'ritme Amerika'.

Pernyataan ini disampaikan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Minggu kemarin.

"Pertanyaan yang diajukan kepada kami, orang Eropa, apakah ini, apakah kami tertarik dengan solusi paksa untuk masalah Taiwan? Tidak. Hal terburuk adalah berpikir bahwa kami, orang Eropa, harus mengikuti setelan ini dan menyesuaikan diri dengan irama Amerika dan reaksi berlebihan China. Mengapa kita harus bergerak dengan kecepatan yang dipilih oleh orang lain?," kata Macron kepada surat kabar Prancis.

Dikutip dari laman Sputnik News, Senin (10/4/2023), Macron mencatat bahwa orang Eropa perlu 'bangun' dan memikirkan kepentingan mereka sendiri.

Baca juga: Emmanuel Macron: Berkaca dari Perang Rusia-Ukraina, Eropa Jangan Ikuti AS di Konflik China-Taiwan

"Prioritas kami bukan untuk menyesuaikan dengan agenda negara lain untuk semua wilayah dunia," jelas Macron.

Pernyataan Macron ini muncul setelah kunjungannya ke China pada minggu lalu, di mana ia memuji peran China di arena internasional dan menggarisbawahi pentingnya hubungan bilateral Prancis dan China di berbagai bidang.

Rekomendasi Untuk Anda

Serangkaian kontrak komersial pun telah ditandatangani antara perusahaan kedua negara selama kunjungan tersebut.

Situasi di sekitar Taiwan meningkat pada Agustus 2022 setelah Ketua DPR AS saat itu, Nancy Pelosi melakukan perjalanan ke pulau tersebut.

China pun mengutuk perjalanan Pelosi, yang dianggapnya sebagai isyarat dukungan untuk separatisme.

Merespons kehadiran Pelosi, negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu kemudian melancarkan latihan militer besar-besaran di sekitar pulau tersebut.

Terlepas dari reaksi akut China, kunjungan Pelosi akhirnya memicu gelombang perjalanan politisi Barat ke pulau itu.

Perlu diketahui, China memandang pulau itu sebagai provinsinya, sementara Taiwan bersikeras pada otonomi.

China menentang setiap kontak resmi negara asing dengan Taiwan dan menganggap kedaulatan China atas pulau itu tidak terbantahkan karena sesuai dengan kebijakan One China.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas