Perekam Suara Black Box Heli Black Hawk Ditemukan, NTSB: Tak Ada Kerusakan
Perekam suara helikopter militer Amerika Serikat Black Hawk ditemukan, tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan pada eksterior kotak hitam tersebut.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
TRIBUNNEWS.COM - Tim pencarian berhasil menemukan perekam suara atau kotak hitam milik helikopter militer Amerika Serikat Black Hawk.
Penemuan perekam suara ini dikonfirmasi oleh Todd Inman, anggota Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB), pada Sabtu (1/2/2025).
"Saya bisa melaporkan kepada Anda sekarang bahwa kami sudah menemukan kotak hitam Sikorsky," kata Inman, seperti dikutip dari CNN.
Sikorsky merujuk pada jenis helikopter UH-60 Black Hawk yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.
Menurut Inman, meskipun perekam suara ditemukan, tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan pada eksterior kotak hitam tersebut.
Ia menjelaskan bahwa perekam suara kokpit pada helikopter Black Hawk merekam transmisi radio serta suara-suara di kokpit, termasuk percakapan pilot dan suara mesin.
"Sikorsky memiliki perekam suara kokpit dan perekam data penerbangan digital," tambah Inman, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai fungsi perekam yang ditemukan.
Inman juga mengungkapkan bahwa perekam suara yang ditemukan sempat terendam air.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan hal yang langka.
"Ini bukan hal yang tak biasa bagi kami menerima perekam dengan intrusi air. Kami selalu bisa menangani," ujarnya.
Sebagai langkah penanganan, tim akan merendam perekam suara dalam air terionisasi selama satu malam dan kemudian mengeringkannya dalam oven vakum untuk menghilangkan kelembapan.
Baca juga: Kecelakaan American Airlines-Black Hawk, Laporan FAA Ungkap Kurangnya Staf Menara Kontrol Bandara
UH-60 Black Hawk
Helikopter UH-60 Black Hawk adalah helikopter serbaguna yang dibuat oleh Sikorsky Aircraft, sebuah anak perusahaan dari Lockheed Martin.
UH-60 Black Hawk digunakan oleh Angkatan Darat AS.
Helikopter Black Hawk memiliki kapasitas untuk mengangkut hingga 12 tentara dalam konfigurasi tempur.
Selain itu, helikopter ini juga digunakan untuk berbagai misi lainnya, termasuk pencarian dan penyelamatan, serta evakuasi medis.
Helikopter ini didukung oleh dua mesin turbin yang memberikan kemampuan terbang di medan yang sulit dan cuaca buruk.
Sejak pertama kali diperkenalkan pada 1978, lebih dari 5.000 unit Black Hawk telah diproduksi, dan saat ini helikopter ini digunakan oleh militer AS dan 35 negara di seluruh dunia.
Kotak Hitam Pesawat American Airlines
Sebelumnya, pejabat setempat mengonfirmasi kalau kotak hitam pesawat American Airlines sudah ditemukan.
Kotak hitam ini terdiri dari dua perekam: perekam data penerbangan dan perekam suara kokpit.
Kedua perangkat tersebut kini sedang dianalisis di laboratorium Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB), yang berada dekat dengan lokasi kecelakaan, seperti yang dilaporkan oleh CBS.
Kotak hitam, yang dirancang untuk tahan terhadap kerusakan.
Alat ini menyimpan informasi penting mengenai komunikasi antara pilot dan bagaimana sistem pesawat beroperasi selama penerbangan.
Keberadaan kotak hitam menjadi petunjuk utama dalam upaya memahami penyebab kecelakaan.
Seperti yang dikutip dari USA Today, ada dua jenis kotak hitam yang diharuskan untuk dipasang pada pesawat komersial, termasuk pesawat lebih kecil dan pesawat pribadi.
Pertama, Cockpit Voice Recorder (CVR), yang merekam segala percakapan di kokpit, termasuk komunikasi pilot dan suara mesin.
Kedua, Flight Data Recorder (FDR), yang mengawasi parameter penting seperti kecepatan, ketinggian, dan arah penerbangan.
Fungsi utama kedua perekam ini adalah untuk membantu penyelidik merekonstruksi secara akurat apa yang terjadi sebelum kecelakaan.
Tabrakan Maut di Udara, Tidak Ada Korban Selamat
Pada Rabu (29/1/2025) malam, pesawat American Airlines 5342 terlibat dalam tabrakan udara dengan helikopter Black Hawk yang sedang berusaha mendarat di Bandara Nasional Ronald Reagan Washington (DCA) di Arlington, Virginia, Amerika Serikat.
Tragedi ini mengakibatkan 67 orang tewas, yang terdiri dari penumpang pesawat dan awak helikopter, CNN melaporkan.
Pesawat American Airlines tersebut membawa 60 penumpang dan empat awak, sedangkan helikopter militer Angkatan Darat Amerika itu membawa tiga tentara.
Menurut laporan dari Badan Penerbangan Federal (FAA), pada malam kecelakaan, hanya satu pengendali lalu lintas udara bertanggung jawab untuk mengatur pergerakan pesawat dan helikopter yang terbang di sekitar Bandara Nasional Ronald Reagan.
Biasanya, ada dua pengendali yang mengurus kedua jenis transportasi ini secara terpisah untuk meminimalkan kesalahan koordinasi.
Baca juga: Kotak Hitam Pesawat American Airlines Ditemukan, Jadi Petunjuk tentang Tabrakan dengan Black Hawk
Pada malam tersebut, pihak bandara memutuskan untuk menggabungkan kedua tugas itu.
Keputusan ini biasanya diambil saat volume lalu lintas penerbangan mulai berkurang, sekitar pukul 21.30.
Akan tetapi, laporan menyebutkan bahwa penggabungan ini dilakukan lebih awal dari yang seharusnya, mengingat masih banyak pesawat dan helikopter yang berada di ruang udara bandara pada saat itu.
Posisi pengendali yang mengatur lalu lintas udara, yang tidak sesuai dengan kondisi tersebut, diduga menjadi faktor utama yang menyebabkan kesalahan koordinasi dan akhirnya tabrakan tragis antara pesawat dan helikopter."
Dua Pesawat Hancur
Pesawat ditemukan terbalik dalam tiga bagian di perairan setinggi pinggang, sementara bangkai helikopter juga ditemukan di lokasi yang sama.
Petugas masih melanjutkan pencarian.
Menurut pejabat tinggi Angkatan Darat, kondisi penerbangan dinyatakan aman saat pesawat jet tiba dari Wichita, Kansas.
Selain itu, pilot helikopter Black Hawk yang terlibat dalam kecelakaan ini dikenal sangat berpengalaman dan telah menerbangi rute tersebut sebelumnya, termasuk pada malam hari.
Jonathan Koziol, Kepala Staf Penerbangan Angkatan Darat, mengungkapkan bahwa kedua pilot sudah terbiasa dengan kepadatan lalu lintas udara di sekitar Washington.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebutkan bahwa ketinggian helikopter bisa jadi menjadi faktor penyebab tabrakan tersebut.
Pada saat kecelakaan, helikopter seharusnya tidak terbang lebih dari 200 kaki di atas tanah.
Sampai saat ini belum ada kejelasan apakah batas ketinggian tersebut telah terlampaui.
Investigasi Panjang
Penyelidikan terhadap penyebab kecelakaan ini diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan.
Para penyelidik menegaskan mereka belum bisa berspekulasi tentang faktor penyebab tabrakan.
(Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.