Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Deepfake Jadi Ancaman Serius Seluruh Masyarakat

meskipun teknologi deepfake kian canggih, di Jepang sudah ada sejumlah lembaga dan perusahaan berbasis AI yang berupaya mendeteksi keaslian konten vis

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Deepfake Jadi Ancaman Serius Seluruh Masyarakat
Tribunnews.com/Ricard Susilo
DEEPFAKE - Dai Yamamoto, Senior Project Director, Data & Security Research Laboratory, Fujitsu Limited (kanan) dan Kotaro Nakayama, Representative, NABLAS Inc. (kiri). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO –  Saat ini, siapa pun dapat menghasilkan media berkualitas tinggi dengan mudah, namun sangat sulit untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.

"Deepfake merupakan ancaman serius bagi seluruh anggota masyarakat saat ini," ujar Kotaro Nakayama, Representative Nablas Inc., kepada Tribunnews.com, Selasa (24/6/2025).

Deepfake adalah teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan manipulasi konten visual dan audio untuk membuatnya terlihat dan terdengar seolah-olah asli, padahal sebenarnya palsu.

Istilah “deepfake” berasal dari gabungan kata “deep learning” dan “fake”.

Meskipun begitu, kata dia, di Jepang sudah ada kelompok AI yang mampu mendeteksi keaslian suatu gambar maupun video, seperti AI Research Institute, sebuah perusahaan rintisan (start-up) dari Universitas Tokyo.

Nakayama menekankan bahwa saat ini ada tiga aspek utama yang perlu menjadi perhatian, yakni sistem dan hukum, pendidikan, serta teknologi berikut teknologi penangkalnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Deteksi deepfake, memiliki kemampuan dan keterbatasan yang bisa didekati dengan model hibrida, pendekatan multimoda, serta dukungan untuk model yang belum diketahui.

Baca juga: Video Deepfake Bupati Sampang Picu Kegaduhan, Pemkab Ancam Tempuh Jalur Hukum

“Tindakan yang harus dilakukan masyarakat di bidang hukum mencakup pembuatan, revisi, dan optimalisasi hukum serta sistem sosial, sekaligus menjaga perlindungan hak asasi manusia,” jelasnya.

Di bidang pendidikan, Nakayama menekankan pentingnya pemahaman terhadap kemampuan dan keterbatasan teknologi AI.

"Yang harus ditakuti adalah hal yang memang pantas ditakuti.

Sebaliknya, manfaatkan secara efektif apa yang memang seharusnya digunakan. Pendidikan moral sebaiknya menjadi pelengkap dari pendidikan literasi," ujarnya.

Sementara di bidang teknologi, ia menyoroti pentingnya kemampuan mendeteksi keaslian gambar, teks, audio, dan video.

“Keaslian konten serta manajemen konten perlu terus dikaji dan diteliti lebih dalam,” tambahnya.

Nakayama juga mengingatkan bahwa kejahatan berbasis AI terhadap perusahaan sudah menjadi ancaman nyata saat ini dan akan terus berkembang di masa depan.

“Penipuan besar-besaran dengan berpura-pura sebagai eksekutif perusahaan, serangan terhadap informasi dan bukti, kerusakan reputasi merek akibat misinformasi di media sosial, pencurian identitas yang menyebabkan kebocoran informasi rahasia, penipuan klaim asuransi, hingga manipulasi harga saham—semuanya adalah ancaman sangat serius bagi masyarakat saat ini dan mendatang,” tegasnya.

Topik deepfake ini juga menjadi bahasan menarik dalam kelompok Pencinta Jepang. Bagi yang ingin bergabung secara gratis, dapat mengirimkan nama lengkap, alamat, dan nomor WhatsApp ke email: tkyjepang@gmail.com.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas