Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Korea Selatan Diserbu Kutu Cinta, Warga Terganggu Meski Sebenarnya Tidak Berbahaya

Kutu cinta menginvasi Seoul, Korea Selatan. Sejumlah warga mengeluhkan keberadaan serangga itu meski sebenarnya tidak berbahaya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Korea Selatan Diserbu Kutu Cinta, Warga Terganggu Meski Sebenarnya Tidak Berbahaya
Tangkap layar YouTube KOREA NOW
INVASI KUTU CINTA - Kolase tangkap layar YouTube KOREA NOW 1 Juli 2025, memperlihatkan laporan mengenai invasi lovebugs di Korea Selatan. Sejumlah warga mengeluhkan keberadaan serangga itu meski sebenarnya tidak berbahaya. 

TRIBUNNEWS.COM – Lovebugs, atau yang dikenal sebagai kutu cinta atau serangga cinta, kembali menyerbu kawasan permukiman dan jalur pendakian di berbagai wilayah ibu kota Korea Selatan, Seoul.

Mengutip Chosun Daily, serangga ini biasanya muncul dalam jumlah besar pada bulan Juni dan Juli, tepat sebelum musim hujan, ketika suhu dan kelembapan meningkat.

Tahun ini, penyebaran kutu cinta dimulai lebih awal dari biasanya, sehingga memicu keluhan dari warga dan pemilik usaha.

Beberapa di antaranya bahkan menuntut pemusnahan massal, namun pihak berwenang masih bersikap hati-hati.

Serangga ini sebenarnya tidak berbahaya bagi manusia, bahkan justru bermanfaat karena memakan hama seperti tungau.

Choi Min-seok (28), yang gemar berlari di sepanjang Sungai Han sepulang kerja, baru-baru ini memutuskan untuk bergabung dengan pusat kebugaran karena serangan kutu cinta.

Kutu-kutu yang menempel di tubuh dan wajahnya membuatnya kesulitan berolahraga di luar ruangan.

INVASI KUTU CINTA - Segerombolan kutu cinta terjebak pada perangkap rol lengket (pita penangkap serangga dua sisi) yang dipasang di Gunung Gyeyang di distrik Gyeyang, Incheon pada tanggal 30 Juni 2025.
INVASI KUTU CINTA - Segerombolan kutu cinta terjebak pada perangkap rol lengket (pita penangkap serangga dua sisi) yang dipasang di Gunung Gyeyang di distrik Gyeyang, Incheon pada tanggal 30 Juni 2025. Sejumlah warga mengeluhkan keberadaan serangga itu meski sebenarnya tidak berbahaya. (Kantor Distrik Gyeyang-gu)
Rekomendasi Untuk Anda

“Ketika saya berlari dengan pakaian tipis lalu tak sengaja menelan kutu cinta, saya kehilangan motivasi untuk melanjutkan lari,” ujarnya.

Di Pasar Daejo, Distrik Eunpyeong, pada 1 Juli lalu, permukaan tanah tampak menghitam akibat ribuan kutu mati.

Park Gyun-sang (77), yang telah menjalankan pabrik di kawasan tersebut selama 45 tahun, tampak sibuk membersihkan serangga dari etalasenya.

“Beberapa hari lalu, serangga-serangga ini masuk ke semangkuk bubuk kedelai, dan saya harus membuang semuanya,” katanya.

Baca juga: PMI Asal Cilacap Meninggal Akibat Kecelakaan Kerja di Korea Selatan, Berikut Kronologinya

Lee Sang-chul (50), pemilik kios kue ikan, menambahkan, “Bahkan dengan penutup kaca, serangga tetap bisa masuk. Saya selalu khawatir hal ini mengganggu pelanggan.”

Di Pasar Jeil, seorang pedagang buah berusia 68 tahun, Cho Ki-jun, terus-menerus mengusir kutu cinta yang mengerubungi pajangan buahnya.

Dua kipas kecil diarahkan ke buah-buahan, bukan ke dirinya.

“Cuacanya sangat panas. Seharusnya saya menyejukkan diri, tapi malah memakai kipas untuk mengusir serangga. Sungguh ironis,” katanya.

Kutu cinta merupakan spesies invasif.

Di Korea Selatan, serangga ini mulai muncul pada tahun 2015, ketika telurnya ditemukan di Incheon.

Populasinya mulai meningkat tajam sejak 2022.

Serangga ini diyakini berasal dari China bagian utara, karena hasil uji genetik menunjukkan kemiripan dengan spesies yang ditemukan di wilayah seperti Shandong.

Nama kutu cinta berasal dari kebiasaan jantan dan betina yang tetap menempel satu sama lain saat terbang dan kawin.

Larva kutu cinta membantu menguraikan bahan organik di dalam tanah dan menyuburkannya, sehingga dianggap bermanfaat dan tidak termasuk dalam daftar hama yang perlu dikendalikan.

Kutu cinta dewasa juga mengeluarkan zat asam untuk mengusir predator seperti katak dan kodok.

Beberapa distrik, seperti Mapo, memilih menyemprotkan air alih-alih menggunakan insektisida dalam penanganannya.

Menurut data pemerintah kota Seoul, jumlah pengaduan terkait kutu cinta meningkat tajam, dari 4.418 pada 2022, menjadi 5.600 pada 2023, dan 9.296 pada tahun lalu.

Baru-baru ini, foto dan video yang memperlihatkan tumpukan kutu mati setinggi lebih dari 10 sentimeter di jalur pendakian Gunung Gyeyang, Incheon, beredar di media sosial.

Baca juga: Masyarakat Diminta Tak Salah Paham soal  Wacana Serangga Jadi Sumber Protein di Program MBG

“Dibanding dua tahun terakhir, jumlah kutu cinta meningkat drastis akhir pekan lalu di gunung tersebut,” kata pejabat distrik Gyeyang, Wang Hyeon-jeong, Selasa (1/7/2025), dikutip dari PBS News.

Gunung setinggi 395 meter itu diduga menyediakan kondisi cuaca panas dan lembap yang ideal bagi kutu cinta, menurut Kementerian Lingkungan Hidup.

Faktor inilah yang mungkin mendorong lonjakan populasi.

Di Seoul dan wilayah lain, belum dapat dipastikan apakah jumlah kutu cinta tahun ini benar-benar lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kementerian menyatakan akan meninjau tingkat keparahan kasus tahun ini setelah populasi kutu cinta mulai menghilang, kemungkinan sekitar pertengahan Juli.

Mengenal Lovebug

Mengutip WAPT, lovebug—juga dikenal sebagai lalat bulan madu atau lalat berkepala dua—merupakan bagian dari keluarga lalat.

Siklus hidupnya berlangsung antara empat hingga lima minggu.

Mereka memulai hidup sebagai telur dan larva di daerah berumput tinggi.

Jantan biasanya menetas lebih dulu, disusul oleh betina.

Lovebug dewasa memakan nektar dan membantu menyerbuki tanaman.

Selama masa hidupnya, lovebug jantan dan betina akan menempel satu sama lain untuk kawin selama tiga hingga lima hari.

Lovebug jantan akan mati segera setelah proses kawin selesai, diikuti oleh betina setelah ia bertelur.

Proses ini terus berulang ribuan kali setiap hari, menjaga populasi lovebug tetap stabil dan besar.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas