Israel Bunuh 5 Jurnalis Al Jazeera, Arab Saudi, UEA, dan Qatar Meradang
Serangan Israel di Gaza tewaskan 5 jurnalis Al Jazeera. Arab Saudi, UEA, dan Qatar mengecam keras dan desak PBB bertindak.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Tiara Shelavie
TRIBUNNEWS.COM - Serangan udara Israel di Kota Gaza pada Minggu (10/8/2025) malam menewaskan enam orang, termasuk lima jurnalis jaringan berita Al Jazeera, memicu kecaman keras dari negara-negara Arab.
Menurut laporan CNN, para korban termasuk koresponden senior Anas Al-Sharif, Mohammed Qreiqeh, fotografer Ibrahim Al Thaher, Mohamed Nofal, serta jurnalis lainnya.
Mereka tewas saat berada di tenda bertanda “Pers” di dekat Rumah Sakit Al-Shifa.
Al Jazeera adalah jaringan media berita internasional yang berbasis di Doha, Qatar.
Dikutip dari Wikipedia, Al Jazeera didirikan pada tahun 1996 melalui dekrit kerajaan oleh Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani.
Al Jazeera awalnya merupakan saluran berita berbahasa Arab, namun kini telah berkembang menjadi jaringan multimedia global.
Al Jazeera beroperasi di 95 negara dan memiliki 70 biro berita dan sekitar 3.000 karyawan.
Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza terletak di kawasan Rimal Utara, Kota Gaza, Palestina.
Rumah sakit yang didirikan pada tahun 1946 oleh pemerintahan Inggris, dua tahun sebelum Inggris menarik diri dari Palestina, merupakan rumah sakit terbesar dan pusat medis utama di Jalur Gaza.
Fasilitas medis ini pernah selamat dari invasi Mesir tahun 1948 dan tetap beroperasi selama pendudukan Israel sejak 1967.
Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza juga pernah direnovasi besar-besaran oleh arsitek Israel pada 1980-an dengan dukungan Amerika Serikat.
Baca juga: Netanyahu Klaim Foto Anak Malnutrisi dan Kelaparan di Gaza adalah Palsu
Israel dan AS menuduh Hamas menggunakan rumah sakit ini sebagai pusat komando dan terowongan bawah tanah.
Tuduhan tersebut dibantah oleh Hamas dan otoritas kesehatan Gaza, yang menyatakan tidak ada infrastruktur militer di dalam kompleks rumah sakit.
Rumah sakit ini telah menjadi sasaran serangan berulang kali oleh militer Israel, termasuk serangan drone yang menewaskan lima jurnalis Al Jazeera pada 10 Agustus 2025.
Sasaran Langsung
Direktur rumah sakit, Dr Mohammad Abu Salmiya, mengatakan tenda tersebut menjadi sasaran langsung serangan.
Militer Israel (IDF) mengklaim Al-Sharif memimpin sel Hamas yang melakukan serangan roket terhadap warga sipil Israel, tuduhan yang dibantah keras oleh Al-Sharif sebelum kematiannya.
Upaya Putus Asa
Al Jazeera menyebut pembunuhan ini sebagai “upaya putus asa untuk membungkam suara-suara menjelang pendudukan Gaza.”
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) sebelumnya telah menyatakan “sangat khawatir” terhadap keselamatan Al-Sharif, mengingat adanya kampanye fitnah yang diarahkan kepadanya.
CPJ mencatat 186 jurnalis tewas sejak perang dimulai hampir dua tahun lalu, 178 di antaranya warga Palestina yang dibunuh Israel.
Dikutip dari laman resmi Committee to Protect Journalists (CPJ), Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) adalah organisasi independen nirlaba yang berpusat di New York, Amerika Serikat, yang bertujuan untuk membela kebebasan pers dan melindungi hak jurnalis di seluruh dunia.
Mereka mendokumentasikan serangan terhadap jurnalis, memberikan bantuan darurat, dan mengadvokasi kebijakan yang mendukung kebebasan media.
Kecaman Internasional
Kecaman internasional segera mengalir. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengutuk “kejahatan kelaparan dan pembersihan etnis” yang dilakukan Israel, menegaskan dukungan terhadap hak rakyat Palestina.
Baca juga: Serangan Drone Israel Bunuh 5 Staf Al Jazeera di Gaza Termasuk Jurnalis Anas al-Sharif
Uni Emirat Arab memperingatkan “konsekuensi bencana, termasuk hilangnya nyawa tak berdosa” dan mendesak PBB untuk bertindak.
Sementara itu, Qatar menuduh Israel melakukan pelanggaran hukum humaniter internasional secara terus-menerus.
Ketiga negara tersebut menegaskan kembali komitmen pada solusi dua negara sebagai jalan menuju perdamaian.
Kronologi Pembunuhan 5 Jurnalis Al Jazeera oleh Israel di Gaza
Pada Minggu (10/8/2025) malam, dunia dikejutkan oleh serangan udara Israel yang menewaskan lima jurnalis Al Jazeera di depan gerbang utama Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza.
Serangan ini memicu kecaman internasional dan memperkuat sorotan terhadap keselamatan jurnalis di zona konflik.
Peristiwa tragis ini terjadi ketika sebuah tenda liputan bertanda “Pers” di depan Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, menjadi sasaran serangan drone Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Tenda tersebut digunakan para jurnalis Al Jazeera untuk meliput perkembangan perang di wilayah tersebut.
Serangan mematikan itu merenggut nyawa lima jurnalis Al Jazeera yang tengah bertugas.
Mereka adalah Anas al-Sharif, koresponden senior yang dikenal gigih meliput dari garis depan; Mohammed Qreiqeh, koresponden lapangan; Ibrahim Zaher dan Mohammed Noufal, keduanya juru kamera; serta Moamen Aliwa, asisten produksi. Kelimanya tewas saat menjalankan tugas jurnalistik di tengah konflik bersenjata di Gaza.
Klaim Israel vs Bantahan Al Jazeera
IDF mengklaim bahwa Anas al-Sharif adalah “pemimpin sel teroris Hamas” dan menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan yang disengaja terhadap target militan.
Al Jazeera membantah keras tuduhan tersebut.
Pemimpin redaksi Mohamed Moawad menyatakan:
“Kami mengecam keras pembunuhan lima jurnalis kami di Gaza. Mereka adalah jurnalis terakreditasi yang menjalankan tugas profesional mereka untuk melaporkan kebenaran dari lapangan.
Tuduhan Israel terhadap Anas al-Sharif tidak berdasar dan tidak didukung bukti apa pun,”
Baca juga: Warga Gaza Tolak Pendudukan Netanyahu, Ngotot Bertahan meski Nyawa Taruhan
Pesan Terakhir Anas al-Sharif
Sebelum tewas, Anas sempat menulis wasiat tertanggal 6 April 2025.
Wasiat itu kemudian diunggah oleh tim adminnya di akun X pribadinya setelah kematiannya.
“Inilah wasiat dan pesan terakhir saya. Jika kata-kata ini sampai kepada Anda, ketahuilah bahwa Israel telah membunuh saya dan membungkam suara saya.”
“Tuhan tahu saya telah mengerahkan segenap upaya dan kekuatan untuk menjadi pendukung dan suara rakyat, sejak saya membuka mata terhadap kehidupan di kamp pengungsi Jabalia.”
“Jangan lupakan Gaza... Dan jangan lupakan saya dalam doa-doa kalian yang tulus memohon ampunan dan penerimaan,” katanya, dikutip dari CNN.
(Tribunnews.com/ Andari Wulan Nugrahani)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.