Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-1.272: Ukraina dan Rusia Ributkan Jaminan Keamanan, Perang Berakhir?
Belum ada tanda berakhir, perang Rusia–Ukraina telah berlangsung selama 1.272 hari pada Senin (18/8/2025).
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia–Ukraina telah berlangsung selama 1.272 hari pada Senin (18/8/2025).
Di tengah bayang-bayang perang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Ukraina meningkat.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky memuji tawaran jaminan keamanan untuk Ukraina sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Jaminan ini disebut-sebut sebagai kunci menuju penyelesaian konflik.
Pernyataan tersebut muncul setelah utusan Donald Trump untuk Ukraina, Steve Witkoff, mengumumkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyetujui jaminan keamanan ala NATO untuk Kyiv.
Klaim ini menandai potensi terobosan signifikan dalam perundingan.
Meski demikain, serangan Rusia terhadap Ukraina berlanjut hingga Minggu malam.
Walau ada pertemuan puncak (KTT) antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, Jumat (15/8/2025) dan perundingan para pemimpin Eropa dan Zelensky di Gedung Putih, kekerasan di lapangan masih jauh dari kata usai.
Pertikaian kedua negara bukanlah konflik yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari ketegangan historis yang terus membara sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991.
Saat Ukraina mendeklarasikan kemerdekaannya, hubungan antara Moskow dan Kyiv mulai dipenuhi kecurigaan dan perebutan pengaruh.
Ketegangan meningkat tajam pada 2014, ketika Revolusi Euromaidan menggulingkan pemerintahan pro-Rusia di Ukraina.
Baca juga: Mengapa Trump Tidak Perintahkan Tangkap Putin Saat Bertemu di Alaska?
Sebagai respons, Rusia mencaplok Krimea dan mulai mendukung kelompok separatis bersenjata di wilayah Donbas.
Konflik yang semula bersifat regional ini akhirnya meletus menjadi invasi skala penuh pada Februari 2022, menandai babak baru dalam sejarah perang modern Eropa.
Perang ini bukan hanya soal wilayah dan kekuasaan, tetapi juga soal narasi, legitimasi, dan masa depan tatanan internasional.
Di hari ke-1.272, dunia menyaksikan bahwa akar konflik masih dalam dan jalan menuju perdamaian masih panjang.
Berikut rincian lengkap peristiwa yang terjadi dalam perang Rusia-Ukraina hari ke-1.272:
Jaminan Keamanan Ukraina
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, memuji keputusan untuk menawarkan jaminan keamanan kepada Ukraina.
Hal itu disebut sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Zelensky membuat pernyataan tersebut saat ia bersiap bertemu Donald Trump di Washington.
Ia menekankan bahwa jaminan keamanan harus praktis dan memberikan perlindungan di darat, udara, dan laut.
Menurutnya, jaminan tersebut juga harus dikembangkan dengan partisipasi negara-negara Eropa.
Utusan Trump Klaim Jaminan Keamanan
Utusan Trump untuk Ukraina, Steve Witkoff, mengatakan Vladimir Putin telah menyetujui jaminan keamanan ala NATO untuk Ukraina.
Hal ini disebut sebagai "Article 5-like".
Jaminan itu menjadi bagian dari kesepakatan akhir untuk mengakhiri perang. Klaim ini tampak seperti perubahan besar bagi Putin.
Namun, Witkoff sebelumnya dikenal keliru dalam mengumumkan kesepakatan perundingan.
Ia diketahui tidak bisa berbahasa Rusia dan datang ke pertemuan tanpa penerjemah.
Baca juga: Melania Trump Tulis Surat ke Putin, Singgung Penderitaan Anak-anak Korban Perang Ukraina
Rusia Minta Jaminan Keamanan
Rusia sepakat bahwa perjanjian damai di masa depan harus memberikan jaminan keamanan bagi Kyiv.
"Moskow juga membutuhkan jaminan keamanan yang kredibel," kata Mikhail Ulyanov, utusan Rusia untuk organisasi internasional.
Ulyanov menekankan Rusia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan jaminan keamanan yang efisien.
Pernyataan itu datang meskipun Rusia berulang kali menginvasi negara lain.
Sementara itu, Rusia tidak pernah diserbu oleh negara lain sejak Perang Dunia II.
Eropa Tolak Rencana Trump
Para pemimpin kelas berat Eropa bergabung dengan Volodymyr Zelensky di Gedung Putih.
Mereka bertemu dengan Donald Trump dalam upaya menolak rencana yang didukung AS.
Rencana itu memungkinkan Rusia untuk mengambil lebih banyak wilayah Ukraina.
Mereka diharapkan untuk menentang rencana pertukaran tanah yang memberi imbalan pada agresi Rusia.
Delegasi tersebut mencari kejelasan tentang jaminan keamanan yang bersedia ditawarkan AS.
Delegasi itu termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan PM Inggris Keir Starmer.
Hadir pula PM Italia Giorgia Meloni, Sekjen NATO Mark Rutte, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan Presiden Finlandia Alexander Stubb.
AS Abaikan Keluhan Rusia
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menanggapi keluhan Rusia tentang "akar penyebab" perang.
Ia menyinggung "keluhan historis panjang" Rusia dalam wawancara dengan CBS.
Rubio menyatakan AS tidak akan fokus pada semua hal itu.
Menurutnya, fokus utama adalah apakah Rusia akan berhenti berperang atau tidak.
Pihaknya juga akan fokus pada apa yang diperlukan untuk menghentikan pertempuran.
Baca juga: Makna Senyuman Vladimir Putin di Alaska, Benarkah Trump dan AS Tikam Ukraina dari Belakang?
Serangan Rusia Berlanjut
Serangan Rusia terhadap Ukraina berlanjut hingga Minggu malam.
"Sebuah serangan rudal di kota Kharkiv melukai 11 orang," kata Wali Kota Kharkiv.
Sebuah serangan bom terarah di sebuah komunitas di Oblast Sumy menyebabkan seorang wanita terluka.
Fasilitas sipil juga rusak dalam serangkaian serangan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.