Rusia Kembali Bombardir Ukraina Sehari setelah Pertemuan Trump dan Zelensky
Serangan ini terjadi beberapa saat setelah pertemuan Donald Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan para pemimpin Eropa kelar
Penulis:
Bobby W
Editor:
Endra Kurniawan
TRIBUNNEWS.COM - Rusia kembali menaikkan eskalasi ketegangan dengan Ukraina setelah mereka menyerang kota Kremenchuk, pada Selasa malam (19/8/2025) waktu setempat.
Mirisnya, Serangan ini terjadi beberapa saat setelah pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan para pemimpin Eropa di Washington, pada Senin (18/8/2025) lalu selesai dilaksanakan.
Serangan Rusia di kota yang terletak di Ukraina tengah ini pun meninggalkan gumpalan asap tebal menggantung.
Dikutip dari Reuters, Wali Kota Kremenchuk, Vitalij Maletskij menyebut serangan terbaru Rusia ini adalah tanda bahwa Presiden Vladimir Putin tidak menginginkan perdamaian.
"Sekali lagi, dunia telah melihat bahwa Putin tidak menginginkan perdamaian—dia ingin menghancurkan Ukraina," ujar Vitalij sembari mengunggah sebuah foto yang menunjukkan gumpalan asap hitam membubung ke atas dan membentang di langit di Kremenchuk.
Vitalij juga menyatakan puluhan ada sejumlah ledakan lainnya yang mengguncang kota dan ditengarai mengarah ke infrastruktur energi dan transportasi di kota mereka.
Ia memperingatkan warga setempat untuk tidak mendekati atau menyentuh amunisi klaster yang tidak meledak dari rudal Rusia yang ditemukan di kota tersebut.
Berikut adalah isi unggahan Vitalij selengkapnya:
Pada saat yang sama ketika Putin melalui sambungan telepon meyakinkan Trump bahwa ia menginginkan perdamaian, dan ketika Presiden Volodymyr Zelensky sedang melakukan pembicaraan di Gedung Putih bersama para pemimpin Eropa mengenai perdamaian yang adil, tentara Rusia memulai serangan masif berikutnya terhadap Kremenchuk.
Puluhan ledakan terdengar di seluruh kota, dengan infrastruktur energi dan transportasi menjadi sasaran utama.
Mengenai dampak serangan ini akan dilaporkan lebih lanjut oleh Administrasi Wilayah Poltava.
Baca juga: Macron Sebut Putin Predator dan Minta Eropa Tak Mudah Percaya: Jarang Menepati Komitmennya
Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada pasukan pertahanan udara yang dengan berani dan melampaui batas kemampuan mereka berhasil menangkis serangan tersebut.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada para petugas pemadam kebakaran yang segera bertindak melakukan pemadaman.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Kremenchuk atas ketahanan dan keteguhan hati yang ditunjukkan dalam situasi sulit ini.
Mengenai bangunan yang mengalami kerusakan, sebuah komisi khusus akan segera menentukan tingkat kerusakan untuk setiap apartemen dan rumah.
Dapat dipastikan, tidak ada warga yang akan dibiarkan tanpa bantuan dan dukungan!
Dunia sekali lagi menyadari bahwa Putin tidak benar-benar menginginkan perdamaian—ia justru berambisi menghancurkan Ukraina.
Namun, untuk setiap kejahatan yang dilakukannya, ia harus mempertanggungjawabkan. Karena kami tidak akan pernah lupa dan memaafkan!
Kami tetap mempertahankan barisan! Semua akan kembali menjadi milik Ukraina!
Laporan Kerusakan
Adapun menurut laporan Angkatan Udara Ukraina, Serangan bombardemen terhadap kota Kremenchuk ini merupakan serangan terbesar yang dilakukan Rusia kepada Ukraina sepanjang bulan Agustus 2025.
Melalui laporan yang sama, militer Ukraina menyebut Moskow telah meluncurkan 270 drone dan 10 rudal selama bulan Agustus ini.
Meskipun mereka menyatakan telah berhasil menjatuhkan 230 drone Rusia, pihak Ukraina mengatakan masih ada 16 unit yang lolos dan menimpa wilayah kedaulatan negara mereka.
"Sementara upaya keras untuk memajukan perdamaian sedang berlangsung di Washington, D.C.... Moskow terus melakukan hal yang bertentangan dengan perdamaian: lebih banyak serangan dan kehancuran," tulis Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha di platform X.
Baca juga: Ukraina Ledakkan Kereta Rusia Pengangkut Bahan Bakar, Hancurkan Jalur Kereta Api di Zaporizhzhia
Gubernur wilayah Poltava, tempat Kremenchuk berada, menyatakan tidak ada korban jiwa akibat serangan terbaru Rusia tersebut, namun demikian, hampir 1.500 rumah tangga kehilangan aliran listrik.
Kementerian Energi Ukraina menyatakan serangan tersebut merusak fasilitas energi yang mereka miliki hingga membuat kebakaran besar.
Di lain pihak, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan serangannya di wilayah Kremenchuk ditujukan untuk merusak salah satu kilang minyak yang turut memasok energi bahan bakar bagi militer Ukraina.
Kremenchuk sendiri merupakan salah satu lokasi kilang minyak terbesar di Ukraina.
Pejabat Rusia juga mengklaim serangan drone Ukraina pada malam hari menyebabkan kebakaran di sebuah kilang minyak dan atap rumah sakit di wilayah Volgograd.
Kedua belah pihak diketahui saling menargetkan infrastruktur termasuk fasilitas minyak di wilayah masing-masing.
(Tribunnews.com/Bobby)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.