Nyaris Berakhir di Piring Makan, Nyawa Anjing-Anjing di NTT Ini Terselamatkan
Seorang pemilik rumah jagal anjing dan seoarng pemilik restoran daging anjing di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang telah menyajikan…
Para bebisnis daging anjing ini berpartisipasi dalam program Models for Change yang diinisiasi Humane World for Animals, untuk mengakhiri perdagangan daging anjing di Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Sekitar satu juta anjing setiap tahunnya menderita kebrutalan yang mengerikan untuk perdagangan daging di Indonesia. Sepuluh anjing yang kami selamatkan di sini hampir menjadi bagian dari statistik mengerikan itu, ” ucap Direktur kampanye Ending Dog and Cat Meat untuk Humane World for Animals, Julie Sanders.
Program serupa telah membantu para pedagang daging anjing dan kucing di Korea Selatan, Vietnam, dan India untuk beralih ke mata pencaharian yang lebih berkelanjutan tanpa membahayakan kesejahteraan hewan dan kesehatan manusia.
Sepuluh anjing yang ditemukan hidup di rumah jagal di NTT juga diselamatkan oleh Humane World for Animals dan mitra lokal Jakarta Animal Aid Network (JAAN).
Provinsi NTT adalh salah satu lokasi perdagangan daging anjing, dengan ribuan anjing setiap tahunnya diambil dari jalanan dan rumah-rumah di NTT dan provinsi-provinsi tetangga.
Menghindari rabies
Pergerakan massal anjing dengan status penyakit yang tidak diketahui ini menurut Humane World for Animals turut berperan dalam penyebaran rabies di NTT, yang terutama ditularkan melalui gigitan anjing. Terdapat 78 kasus manusia yang terkonfirmasi rabies di NTT pada tahun 2025.
Program Models for Change diimplementasikan atas kesepakatan dengan pemerintah Provinsi NTT. Program ini mendukung tujuan pemerintah lokal untuk menjadikan NTT sebagai provinsi bebas rabies pada tahun 2030.
Direktur kampanye Ending Dog and Cat Meat untuk Humane World for Animals, Julie Sanders mengatakan: "Setiap bisnis daging anjing atau kucing yang ditutup sebagai bagian dari Models for Change mewakili langkah nyata menuju penghapusan perdagangan ini, menjaga kesejahteraan hewan, dan melindungi masyarakat di seluruh negeri dari risiko penularan rabies,” tandasnya.
Humane World for Animals dan JAAN mendukung dua pedagang di Kota Kupang dengan hibah satu kali untuk membantu mereka memulai usaha baru. Boly, yang menjalankan rumah potong anjing selama lebih dari 15 tahun, berencana membuka toko kelontong yang menjual kebutuhan sehari-hari seperti beras, sabun, dan perlengkapan rumah tangga.
Solusi konstruktif
Boly menyebutkan, "Ketika saya memikirkan ribuan anjing yang telah saya bunuh dalam 15 tahun terakhir atau lebih, itu membuat saya sangat sedih dan saya sangat senang bisa meninggalkan perdagangan ini. Saya tahu bahwa penyembelihan anjing juga berbahaya karena risiko tertular rabies. Jadi kesempatan ini datang tepat pada saat yang tepat dalam hidup saya.” Saya sekarang menantikan pembukaan toko serba ada saya yang menyediakan semua kebutuhan komunitas kami, tetapi tidak ada lagi daging anjing! Saya sangat berharap 10 anjing yang diselamatkan akan menjalani kehidupan bahagia di keluarga yang merawat mereka.”
Pemilik restoran daging anjing, Akim, yang membeli daging anjing dari Boly untuk dijual kepada pelanggan, berencana menjual bahan bangunan. Akim berujar: "Dulu saya biasa menyembelih sekitar lima anjing setiap hari untuk dimasak di restoran saya, tetapi setelah wabah rabies besar di Kota Kupang pada tahun 2023, permintaan pelanggan menurun tajam. Keluarga saya sudah lama ingin saya berhenti melakukan perdagangan ini, dan saya semakin khawatir tentang hubungan antara perdagangan daging anjing dan penyebaran rabies yang merupakan masalah besar di sini. Tetapi saya tidak akan bisa beralih profesi tanpa program Models for Change, jadi saya sangat berterima kasih untuk itu. Sekarang saya merasa memiliki masa depan yang lebih cerah untuk saya dan keluarga saya.”
Humane World for Animals dan JAAN berharap penutupan dan penyelamatan anjing-anjing ini akan membantu menumbuhkan rasa empati yang lebih besar terhadap hewan di masyarakat luas, serta meningkatkan kesadaran tentang risiko kesehatan masyarakat yang terkait dengan perdagangan daging anjing.
Dr. Melky Angsar, yang bertanggung jawab atas kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner di Kantor Peternakan Nusa Tenggara Timur menyebutkan perdagangan daging anjing menimbulkan ancaman kesehatan masyarakat bagi masyarakat karena penyebaran rabies. ”Masyarakat kita akan lebih aman dan sehat tanpa perdagangan daging anjing. Proyek seperti Models for Change mewujudkan hal itu dengan menyediakan cara praktis untuk mengalihkan orang dari perdagangan ini dan menuju masa depan yang berkelanjutan bagi mereka dan keluarga mereka.”
Setelah penutupan, 10 anjing yang diselamatkan dibawa ke Klinik Hewan Kupang untuk vaksinasi dan perawatan veteriner. Setelah masa karantina, mereka akan diterbangkan ke penampungan JAAN di Bogor, Jawa Barat untuk memulihkan diri sepenuhnya secara fisik dan emosional sebelum diadopsi oleh keluarga setempat.
*Editor : Yuniman Farid

Baca tanpa iklan