Perang, Represi, dan Ketakutan: Trauma yang Memuncak di Iran
Bom, represi pemerintah, dan rasa takut terus menggerus masyarakat Iran. Bagaimana trauma dari konflik terus memuncak? Apa yang bisa…
Serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) menargetkan Teheran serta berbagai wilayah di seluruh Iran. Tidak lama sebelum perang dimulai, warga turun ke jalan untuk berdemonstrasi menentang rezim teokratis. Republik Islam merespons dengan penindakan brutal. Protes yang menuntut kebebasan dan demokrasi telah merenggut ribuan nyawa warga Iran.
Warga Iran terus hidup dalam berbagai pembatasan yang diberlakukan pemerintah yang hampir tidak menoleransi penyimpangan dari interpretasinya terhadap Islam. Pemerintah menentukan jenis pakaian yang boleh dikenakan perempuan di ruang publik, dan penyimpangan sekecil apa pun dapat dihukum berat. Selain itu, sanksi terhadap Iran membuat kondisi ekonomi banyak warga semakin sulit.
Apa dampak tekanan terus-menerus seperti ini terhadap kesehatan mental seseorang?
Hidup dalam kewaspadaan tinggi meningkatkan risiko gangguan mental
“Angka kejadian gangguan kesehatan mental, terutama gangguan stres pascatrauma, gangguan kecemasan, dan depresi, lebih tinggi pada orang yang terus-menerus terpapar kekerasan,” kata psikolog Dana Churbaji, yang meneliti dampak perang dan pengungsian terhadap kesehatan mental di Universitas Münster, Jerman.
Pada individu yang terdampak, “dapat diamati perubahan persepsi mengenai seberapa aman dunia ini dan bagaimana mereka memandang kehidupan mereka sendiri.”
Seseorang yang mengalami kedinginan, ketakutan, atau kelaparan memiliki toleransi stres yang jauh lebih rendah, dan konflik kecil serta perbedaan pendapat dalam kehidupan pribadi dapat dengan cepat memicu pertikaian. Bagi mereka yang hidup dalam ketidakpastian seperti pemadaman listrik, kekurangan pangan, atau hilangnya komunikasi digital, kebutuhan dasar menjadi prioritas utama, menurut Churbaji.
“Ketika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, kekerasan dalam keluarga lebih sering terjadi,” kata psikolog tersebut kepada DW. “Hal ini merusak hubungan sosial, padahal hubungan sosial merupakan faktor nomor satu dalam membangun resiliensi.”
Dengan kata lain, mereka yang memiliki hubungan sosial yang stabil dan bisa berbagi cerita ke orang lain punya risiko lebih rendah mengalami gangguan stres pascatrauma atau PTSD. Jika faktor pelindung ini tidak ada, risiko mengalami kondisi tersebut meningkat.
Kapan gangguan stres pascatrauma berkembang?
Dalam situasi stres akut, banyak orang tidak menunjukkan gejala PTSD karena otak berada dalam mode siaga untuk bertahan hidup. Ketika mereka harus meninggalkan tanah air untuk menyelamatkan diri dan orang-orang yang mereka cintai, perhatian mereka terfokus pada keadaan darurat saat itu. PTSD biasanya baru berkembang setelahnya, jelas Churbaji.
“Ketika otak mencoba memahami dan berdamai dengan masa lalu, gejala PTSD mulai muncul. Gejala-gejala ini kemudian menghambat upaya seseorang untuk memulihkan kesejahteraan setelah melalui pengalaman sebagai pengungsi,” katanya.
Apa saja gejala PTSD?
Orang yang mengalami gangguan stres pascatrauma sering menunjukkan perilaku dan gejala berikut:
• Menghindari memikirkan pengalaman traumatis
• Reaksi ekstrem terhadap pemicu tertentu (misalnya bersembunyi di bawah meja ketika mendengar suara kembang api)
• Kilas balik: bagi penyintas, mengingat pengalaman traumatis bisa membuat seolah-olah pengalaman itu terjadi kembali. Ini juga disebut sebagai ingatan intrusif yang sulit ditahan
• Perubahan cara pandang yang cenderung mengarah pada ketidakpercayaan dan sinisme
• Perasaan bersalah yang kuat, yang dikenal sebagai “rasa bersalah penyintas”
• Gangguan tidur dan kesulitan berkonsentrasi
Churbaji menilai, tekanan psikologis juga bisa muncul dalam bentuk fisik jika penyintas tidak bisa berbicara secara terbuka di lingkungan yang tidak aman. Gejala tersebut dapat berupa sakit kepala, nyeri punggung, kram menstruasi, atau kelelahan.
Dampak tekanan berkepanjangan di Iran
Pengalaman traumatis juga berbeda antara peristiwa tunggal seperti serangan fisik dengan hidup dalam situasi perang serta kekerasan dalam waktu yang lama.
“Penganiayaan politik terhadap para pembangkang di Iran sudah berlangsung sangat lama. Protes terhadap rezim berulang kali ditekan secara keras dan penuh kekerasan,” kata psikolog klinis Rita Rosner kepada DW. “Warga Iran secara langsung terdampak oleh situasi traumatis yang berkepanjangan ini.”
Kondisi terus-menerus berada dalam keadaan siaga dapat menjadi sumber stres yang lebih besar dibandingkan mengalami satu peristiwa traumatis, seperti kecelakaan mobil serius.
“Peristiwa tunggal memiliki kemungkinan lebih kecil memicu reaksi stres,” kata profesor di Universitas Katolik Eichstätt-Ingolstadt tersebut. “Setiap peristiwa traumatis yang bertambah akan meningkatkan kemungkinan munculnya kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma.”
Churbaji juga mencatat bahwa rangkaian pengalaman traumatis — seperti yang dialami orang-orang di wilayah perang — sangat berbahaya, “terutama ketika berbagai aspek kehidupan ikut terdampak.”
Terlebih, jika seseorang yang menghadapi pengeboman dan represi politik juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga serta pelecehan seksual di tempat kerja, hal ini bisa memicu kerentanan yang jauh lebih besar terhadap PTSD.
Bagaimana cara menyembuhkan trauma?
Kondisi seperti PTSD dapat ditangani melalui dukungan psikososial. Bentuknya antara lain terapi kelompok atau terapi individu bersama tenaga profesional kesehatan mental. Namun, lingkungan sosial juga dapat memainkan peran penting.
Churbaji mengatakan dokter lokal, guru, dan pemimpin agama dilatih untuk membantu pasien serta orang-orang di bawah tanggung jawab mereka dalam menghadapi trauma.
Ketika bantuan tatap muka tidak tersedia, baik karena alasan keamanan maupun keterbatasan jumlah tenaga ahli, sumber daya daring bisa menjadi pilihan. Rosner, misalnya, merujuk pada Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Melalui program bertajuk “Problem Management Plus,” WHO menyediakan dokumen dalam 23 bahasa yang dirancang untuk membantu orang menghadapi situasi penuh tekanan.
Langkah-langkah ini dapat meredakan gejala. Namun, tidak ada metode yang dapat menghapus pengalaman traumatis perang dari ingatan.
“Anda tidak bisa menganggap bahwa apa yang telah terjadi dapat dihilangkan,” kata Churbaji. “Namun, sebagian besar orang tetap dapat kembali menjalani kehidupan yang bermakna.”
Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Adelia Dinda Sani
Editor: Hani Anggraini

Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.