Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Perang Chip AS-Cina: Siapa yang Kuasai Masa Depan AI?

Pembatasan AS terhadap chip canggih mendorong Cina membangun ekosistem semikonduktornya sendiri. Meski masih tertinggal di lini paling…

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Perang Chip AS-Cina: Siapa yang Kuasai Masa Depan AI?
Deutsche Welle
Perang Chip AS-Cina: Siapa yang Kuasai Masa Depan AI? 

Empat tahun lalu, Amerika Serikat (AS) memperketat tekanan terhadap ambisi teknologi Cina dengan memberlakukan pembatasan ekspor pada chip canggih, yang dikenal sebagai semikonduktor, yang digunakan dalam akal imitasi (AI), pusat data, dan pertahanan nasional.

Pemerintahan Joe Biden bertujuan membatasi kemampuan Beijing dalam mengembangkan teknologi yang dapat memperkuat kekuatan militer dan finansialnya, sekaligus mempersempit kesenjangan antara dua ekonomi terbesar dunia.

Pembatasan ini mendorong Beijing mempercepat upaya kemandirian chip, sebuah tujuan yang telah dicanangkan sebelumnya dalam rencana Made in China 2025. Sejak itu, pemerintah Cina menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk membangun produksi semikonduktor domestik.

Chip sebagai isu keamanan nasional

Beijing memberikan subsidi besar, keringanan pajak, dan berbagai insentif biaya untuk membina pesaing lokal bagi NVIDIA, perusahaan AS di balik chip AI mutakhir Blackwell, serta TSMC, produsen chip kontrak terbesar di dunia untuk semikonduktor canggih dan pengembang teknologi manufaktur chip N2.

SMIC, tulang punggung rencana kemandirian Cina, mencatat pendapatan rekor sebesar 9,3 miliar dolar AS (sekitar Rp148,8 triliun) tahun lalu, sementara HuaHong, foundry atau pabrik chip pihak ketiga dalam rantai pasok semikonduktor terbesar kedua di daratan Cina, beroperasi pada kapasitas 106% akibat tingginya permintaan, menurut laporan keuangan kuartal IV 2025.

Namun, meskipun Cina berupaya keras mengejar perusahaan teknologi besar AS, Ryu Yongwook, asisten profesor di National University of Singapore, menilai kemajuan tersebut sering dilebih-lebihkan.

“Beijing ingin mencapai kemandirian chip, tetapi level saat ini masih jauh dari itu,” ujarnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Cina tertinggal dari AS dalam riset, desain, dan inovasi, serta juga berada di belakang Taiwan dan Korea Selatan dalam hal produksi, menurut Ryu.

Produsen chip Cina naik dalam rantai nilai

Meski demikian, Cina telah mencapai terobosan berarti dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Rhodium Group, negara tersebut kini menguasai sekitar 30% pangsa pasar global untuk chip legacy, komponen penting dalam kendaraan, peralatan industri, dan elektronik konsumen.

Chip ini memang bukan yang paling cepat atau paling canggih, tetapi diproduksi dalam skala besar oleh perusahaan Cina, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan pesaing global.

“Ekspansi produksi Cina akan menekan harga chip secara global dan memberi tekanan pada vendor non-Cina,” kata John Lee dari East-West Futures.

Fenomena ini sudah terlihat di beberapa sektor, seperti wafer silikon karbida, material penting untuk chip berdaya tinggi.

Terobosan dalam chip canggih

Cina juga membuat kemajuan dalam chip yang lebih maju, dengan berhasil memproduksi prosesor kelas 7 nanometer yang kini digunakan pada smartphone terbaru Huawei.

Chip ini sebanding dengan produk yang dirilis oleh TSMC pada 2018 untuk pelanggan Barat, tetapi masih tertinggal dibandingkan dengan chip 3 nm dan 5 nm dalam hal kecepatan, efisiensi daya, dan biaya produksi.

Tim Rühlig dari European Union Institute for Security Studies menyebut ambisi chip Cina menghadapi “tembok batas” teknologi dan sanksi AS.

“Ada batasan sejauh mana Anda bisa berkembang tanpa akses ke chipset paling canggih milik AS,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Cina mungkin membutuhkan “sekitar satu dekade” untuk mengejar ketertinggalan.

Mencerminkan perubahan prioritas, Rencana Lima Tahun terbaru Partai Komunis Cina tidak lagi terlalu menekankan dominasi chip. Dokumen tersebut lebih menyoroti AI dan memperkenalkan kerangka “model-chip-cloud-application,” yang menempatkan chip sebagai bagian dari ekosistem komputasi yang lebih luas.

Rencana B Cina memicu rivalitas baru

Cina kini lebih fokus pada kecedrasan buatan atau akal imitasi (AI) praktis berbasis tugas untuk industri yang membutuhkan daya komputasi lebih rendah, sesuatu yang dapat ditangani oleh chip domestik.

Meski tidak berada di garis depan teknologi, sistem chip dan AI Cina menawarkan kinerja kuat dengan biaya jauh lebih rendah. Hal ini mendorong adopsi cepat di Global South, di mana pemerintah dan perusahaan semakin memilih solusi Cina dibandingkan Barat.

Firma intelijen pasar TrendForce mencatat bahwa platform AI Cina seperti DeepSeek dan Qwen milik Alibaba telah menguasai sekitar 15% pasar model AI global pada akhir 2025.

Hal ini menjadi ancaman jangka panjang bagi dominasi global perusahaan teknologi AS seperti Microsoft dan Google, yang diperkirakan menghabiskan rekor 700 miliar dolar AS (sekitar Rp11,2 kuadriliun) tahun ini untuk infrastruktur AI menurut Goldman Sachs.

Keunggulan AS menghadapi tantangan nyata

Ada hambatan lain bagi ambisi Silicon Valley untuk menciptakan AI yang melampaui kecerdasan manusia. Pada Januari, penyedia intelijen pasar ICIS memperingatkan bahwa pusat data AS, yang bergantung pada chip kelas atas, dapat segera dibatasi oleh jaringan listrik yang tertekan.

Sebaliknya, sektor energi Cina yang berkembang pesat memberikan keuntungan tambahan. Dengan perkiraan kapasitas cadangan listrik mencapai 400 gigawatt pada 2030, Cina dapat membangun pusat data dalam skala besar meski chipnya kurang efisien.

“Energi murah adalah faktor sangat penting, bukan hanya untuk chip tetapi juga untuk AI dan teknologi maju lainnya,” kata Ryu Yongwook.

ICIS melihat tiga kemungkinan hasil dalam persaingan chip:

AS mempertahankan keunggulan dengan memperbaiki jaringan listriknya. AS tetap memimpin riset AI dengan chip canggih, sementara sistem AI Cina menyebar di Global Selatan. Jika ketegangan geopolitik meningkat, dua ekosistem AI terpisah dapat muncul.

Meskipun garis akhir masih jauh, industri chip menghadapi masa depan di mana pesaing Cina tidak hanya menawarkan harga lebih rendah, tetapi juga semakin cepat menutup kesenjangan dalam kecanggihan dan keandalan produk.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid

Sumber: Deutsche Welle
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas