Trump Tolak Proposal Balasan Iran
Iran menolak proposal damai AS, memperketat aturan di Selat Hormuz, dan mengancam kapal negara pendukung sanksi. Donald Trump menyebut…
Iran menolak proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang karena dianggap berisi "tuntutan berlebihan" dari Presiden AS Donald Trump, menurut media pemerintah Iran.
Press TV pada Minggu (10/05) menyebut proposal Washington sebagai “upaya untuk memaksa menyerah.” Menurut media tersebut, menerima proposal itu sama saja dengan Iran tunduk pada "tuntutan berlebihan" Trump.
Sebagai balasan, Iran mengajukan proposal tandingan yang telah ditolak Trump dan disebutnya "benar-benar tidak bisa diterima." Proposal Iran mencakup penghentian perang di semua front, pembayaran reparasi perang oleh AS, pengakuan penuh atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi AS, serta pengembalian aset Iran yang disita.
Qatar: Hormuz jangan jadi alat tekanan politik
Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman al-Thani memperingatkan agar Selat Hormuz tidak dijadikan alat tekanan politik.
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, al-Thani mengatakan penggunaan Selat Hormuz sebagai "pressure tool" hanya akan memperdalam krisis di kawasan Teluk, menurut Kementerian Luar Negeri Qatar.
Doha mengatakan al-Thani juga menegaskan bahwa upaya mediasi untuk mengakhiri perang perlu direspons semua pihak.
Iran ancam mempersulit kapal negara pendukung sanksi AS
Iran memperingatkan kapal dari negara-negara yang mendukung sanksi AS akan menghadapi kesulitan melintasi Selat Hormuz.
Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan kepada kantor berita resmi IRNA bahwa Iran telah menerapkan "sistem hukum dan keamanan baru" di selat tersebut. Dengan sistem itu, setiap kapal yang melintas wajib berkoordinasi dengan Iran.
Akraminia mengatakan aturan tersebut "sudah mulai berlaku" dan akan membawa "keuntungan ekonomi, keamanan, dan politik" bagi Republik Islam Iran.
Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat dan Bahrain menyusun rancangan resolusi PBB yang menyerukan Iran menghentikan segala pembatasan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Laba Aramco melonjak di tengah krisis
Perusahaan minyak Arab Saudi Aramco melaporkan lonjakan laba sebesar 25,5% pada kuartal pertama 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan itu dipicu lonjakan harga minyak dan gas di tengah perang antara AS, Israel, dan Iran.
Dalam pernyataannya kepada bursa saham Saudi, Aramco mengatakan laba bersih kuartalan naik menjadi 120,13 miliar riyal Saudi (sekitar Rp521 triliun), dari sebelumnya 95,68 miliar riyal Saudi (sekitar Rp415 triliun) pada kuartal pertama 2025.
Dengan gencatan senjata yang masih rapuh dan Iran membatasi lalu lintas hidrokarbon melalui Selat Hormuz, Aramco menyebut kenaikan pendapatan terutama didorong oleh harga dan volume penjualan produk olahan dan kimia yang lebih tinggi, serta kenaikan volume dan harga minyak mentah.
Aramco yang mayoritas sahamnya dimiliki pemerintah Arab Saudi merupakan eksportir minyak terbesar di dunia.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani
Editor Melisa Lolindu

Baca tanpa iklan