Kuba Membeli Lebih dari 300 Drone dari Rusia dan Iran
Kuba disebut-sebut telah membahas rencana penggunaan drone untuk menyerang target-target Amerika Serikat, seperti pangkalan angkatan…
Berdasarkan intelijen rahasia yang dikutip Axios, Kuba telah memperoleh lebih dari 300 drone militer.
Laporan yang diterbitkan pada hari Minggu (17/05) itu menuduh bahwa Kuba telah mendiskusikan rencana penggunaan drone militer untuk menyerang pangkalan angkatan laut AS di Guantanamo Bay, kapal-kapal militer Amerika, dan kemungkinan juga Key West, Florida.
Pemerintahan Trump disebut khawatir terhadap perkembangan teknologi perang drone serta keberadaan penasihat militer Iran di Havana. Axios mengutip seorang pejabat senior AS yang mengatakan bahwa situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran serius.
"Ketika teknologi seperti itu berada sangat dekat, ditambah adanya berbagai aktor berbahaya mulai dari kelompok teroris, kartel narkoba, Iran hingga Rusia, hal itu tentu mengkhawatirkan,” ujar pejabat yang tidak disebutkan namanya itu. "Ancamannya terus berkembang.”
Pejabat AS juga mengatakan kepada Axios bahwa sejak 2023 Kuba telah membeli drone serang dari Rusia dan Iran, dan kini sedang berupaya memperoleh lebih banyak lagi.
Kuba menanggapi laporan Axios
Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodríguez Parrilla, menuduh Amerika Serikat merekayasa "kasus palsu” untuk membenarkan sanksi ekonomi dan kemungkinan intervensi militer terhadap Kuba.
"Tanpa alasan yang sah sama sekali, pemerintah AS dari hari ke hari sedang membangun narasi palsu untuk membenarkan perang ekonomi yang kejam terhadap rakyat Kuba dan kemungkinan agresi militer,” tulis Rodriguez di X pada hari Minggu (17/05). "Kuba tidak mengancam siapa pun dan tidak menginginkan perang.”
Namun, Rodriguez tidak secara langsung menyinggung tuduhan terkait drone dalam pernyataannya tersebut.
AS meningkatkan tekanan terhadap Kuba
Laporan Axios ini muncul di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat terhadap Kuba.
Pada akhir pekan lalu, sejumlah media AS melaporkan bahwa pemerintah AS sedang mengambil langkah untuk mendakwa Raúl Castro, mantan presiden Kuba sekaligus adik dari pemimpin lama Kuba, Fidel Castro.
Direktur CIA, John Ratcliffe, juga mengunjungi negara kepulauan tersebut pada Kamis (14/05) lalu.
Media AS CBS News mengutip seorang pejabat CIA anonim yang mengatakan bahwa Ratcliffe memperingatkan Kuba agar tidak menjadi "tempat aman bagi musuh-musuh di belahan Barat.”
Pemerintahan Trump juga secara efektif memutus pengiriman minyak ke Kuba dengan mengancam tarif terhadap negara mana pun yang mengekspor minyak ke negara Karibia tersebut.
Kebijakan itu disebut telah menyebabkan pemadaman listrik besar-besaran di seluruh Kuba.
Sebelumnya pada bulan Mei, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan "mengambil alih” Kuba "hampir seketika.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid
