Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Mengapa Google Ingin Lepaskan Jutaan Nyamuk di Amerika Serikat?

Program penelitian Debug milik Google berencana melepaskan jutaan nyamuk steril untuk memerangi spesies yang menyebarkan penyakit…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Mengapa Google Ingin Lepaskan Jutaan Nyamuk di Amerika Serikat?
Deutsche Welle
Mengapa Google Ingin Lepaskan Jutaan Nyamuk di Amerika Serikat? 

Apa cara terbaik untuk memeranginyamuk penyebar penyakit? Tambah jumlah nyamuk! Setidaknya itulah rencana para ilmuwan dalam program Debug milik Google. Para peneliti ingin melepaskan masing-masing 16 juta nyamuk di negara bagian Florida dan California, Amerika Serikat sebagai langkah awal. Setelah itu, mereka berencana mengulangi langkah yang sama pada tahun berikutnya.

Upaya mengurangi populasi nyamuk dengan menambahkan jutaan nyamuk baru memang terdengar bertentangan dengan logika pada awalnya. Namun untuk memahami proyek ini, kita perlu melihat jenis nyamuk yang sedang diperangi para peneliti, serta jenis nyamuk yang ingin mereka lepaskan.

Singkatnya, ini adalah pertarungan antara nyamuk "baik" melawan nyamuk "jahat".

'Pasukan nyamuk' Google

Rencana para peneliti adalah "membiakkan nyamuk jantan mandul dan melepaskannya ke populasi serangga liar," tertulis di situs Debug. "Ketika nyamuk betina liar kawin dengan nyamuk jantan mandul, telurnya tidak akan menetas. Populasi nyamuk akan terus berkurang dari generasi ke generasi."

Nyamuk jantan tersebut akan diinfeksi dengan bakteri bernama Wolbachia, yang membuatnya mandul.

Secara teori, pendekatan ini akan menghasilkan dua hal. Pertama, generasi nyamuk berikutnya akan menyusut karena telur yang dihasilkan nyamuk betina tidak berkembang. Kedua, jumlah gigitan terhadap manusia tidak akan bertambah meskipun jutaan nyamuk tambahan dilepaskan, karena nyamuk jantan tidak menggigit manusia.

Memisahkan nyamuk jantan dan betina bukanlah tugas yang mudah. Karena itu, para peneliti dalam program Debug tengah mengembangkan "teknologi yang menggabungkan sensor, algoritma, dan rekayasa baru untuk memilah nyamuk jantan dan betina secara cepat dan akurat."

Rekomendasi Untuk Anda

Teknologi bukan satu-satunya tantangan. Jutaan nyamuk tidak bisa begitu saja dilepaskan ke alam liar tanpa izin. Google telah mengajukan permohonan izin kepada Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat. Hingga kini, keputusan dari lembaga tersebut masih dinantikan.

Target utama: nyamuk Aedes aegypti

Target program Debug bukanlah nyamuk yang berasal dari Florida atau California. Para peneliti berupaya memerangi Aedes aegypti, spesies invasif yang berasal dari Afrika.

Spesies ini menyebarkan berbagai penyakit, termasuk demam berdarah, demam kuning, virus Zika, dan chikungunya; penyakit yang dapat menyebabkan nyeri sendi hebat selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Menurut Debug, sekitar 40 persen populasi dunia berisiko tertular penyakit yang dibawa oleh nyamuk ini, yang telah menyebar ke wilayah tropis, subtropis, dan beriklim sedang di berbagai belahan dunia.

Aedes aegypti adalah "nyamuk yang sangat berbahaya," kata Nathan Burkett-Cadena, dosen di Laboratorium Entomologi Medis Universitas Florida.

Karena bukan spesies lokal Florida, tidak ada hewan yang secara khusus bergantung pada nyamuk ini sebagai sumber makanan, jelas Burkett-Cadena dalam surat elektronik kepada DW.

"Jika Google mulai menargetkan spesies nyamuk asli, saya akan khawatir terhadap dampak lingkungan berantai yang mungkin terjadi," ujarnya.

Namun karena Aedes aegypti bukan spesies asli Florida, menurutnya hal tersebut seharusnya tidak menjadi masalah.

'Saya mencintai nyamuk'

Program Nyamuk Dunia (World Mosquito Program), organisasi yang dijalankan oleh Universitas Monash di Australia, juga memerangi nyamuk penyebar penyakit di berbagai negara. Mereka melepaskan nyamuk yang telah diinfeksi bakteri Wolbachia di 15 negara di benua Asia, Oseania, dan Amerika.

Berdasarkan pemantauan Program Nyamuk Dunia, Wolbachia dapat diwariskan dari satu generasi nyamuk ke generasi berikutnya, sehingga dalam jangka panjang mampu menurunkan jumlah nyamuk yang menyebarkan penyakit.

Organisasi tersebut menyatakan bahwa "di wilayah dengan tingkat Wolbachia yang tinggi, kami tidak melihat adanya wabah demam berdarah." Dengan demikian, tampaknya memang ada

cara untuk menekan populasi Aedes aegypti.

Namun, apakah langkah ini etis? Apakah manusia berhak melakukan intervensi terhadap alam hingga sejauh ini? Haruskah kita mengurangi populasi suatu spesies, bahkan spesies hama, hanya karena kita memiliki kemampuan untuk melakukannya? Para ahli entomologi menjawab, ya.

"Saya ‘mencintai' nyamuk," kata Burkett-Cadena. "Sebagian besar spesies nyamuk sama sekali tidak membahayakan manusia dan sebenarnya merupakan organisme yang indah. Namun, di banyak tempat, kehidupan manusia benar-benar terancam oleh spesies nyamuk invasif. Karena itu, mereka yang bertanggung jawab melindungi nyawa manusia harus mengambil tindakan."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diterjemahkan oleh Cinta Zanidya
Editor: Yuniman Farid

Sumber: Deutsche Welle
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas