Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Israel Rilis Foto Abu Obeida Bersama 3 Petinggi Militer Hamas

Militer Israel merilis foto Abu Obeida, juru bicara Brigade Al-Qassam sayap militer gerakan Hamas, bersama tiga petinggi militer lainnya di Gaza.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Israel Rilis Foto Abu Obeida Bersama 3 Petinggi Militer Hamas
Facebook IDF
PETINGGI MILITER HAMAS - Foto yang dirilis oleh Facebook militer Israel (IDF) pada Kamis (4/9/2025), memperlihatkan (dari kiri ke kanan): Mohammad Deif, kepala Brigade Al-Qassam yang dibunuh Israel pada 13 Juli 2024; Hudayfa al-Kahlout atau Abu Obeida, juru bicara militer Brigade Al-Qassam yang diklaim Israel dibunuh pada 30 Agustus 2025; Rafi Salama, komandan Brigade Khan Yunis yang dibunuh bersama Deif; dan Mohammad Odeh, kepala staf intelijen Brigade Al-Qassam yang diduga masih hidup. 

TRIBUNNEWS.COM - Tentara Israel merilis foto baru Abu Obeida, juru bicara Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) yang diklaim tewas dalam serangan udara Israel di lingkungan Al-Rimal di Kota Gaza pada 30 Agustus 2025.

Sehari setelah serangan tersebut, Israel mengklaim mereka telah membunuh Abu Obeida dan mengungkap nama aslinya sebagai Hudhaifa al-Kahlout.

Serangan tersebut menewaskan 11 orang termasuk anak-anak, dan melukai 20 lainnya.

Beberapa hari kemudian, militer Israel mengatakan mereka menemukan sebuah dokumen di Jalur Gaza yang memperlihatkan foto Abu Obeida bersama tiga petinggi militer Hamas.

Dalam foto itu, terlihat Hudhaifa al-Kahlout bersama komandan sayap militer Hamas, Mohammed Deif yang tewas dalam serangan Israel pada 13 Juli 2024, dan komandan Brigade Khan Yunis Rafa'a Salama yang tewas dalam serangan terpisah tahun lalu.

Ketiga petinggi militer tersebut ditandai dengan tulisan "eliminated' (dieliminasi), istilah yang digunakan Israel untuk menandai pembunuhan anggota kelompok perlawanan.

Hanya Mohammad Odeh, orang dalam foto tersebut yang tidak ditandai dengan "eliminated".

Rekomendasi Untuk Anda

Israel menulis keterangan pada Mohammad Odeh sebagai kepala staf intelijen Brigade Al-Qassam.

Baca juga: Bunyi Peringatan Keras Al Qassam Buat Tentara Israel: Sandera dan Prajurit IDF Bakal Bertumbangan!

Israel tidak menyebutkan apakah Mohammad Odeh telah dibunuh, namun karena tidak adanya label "eliminated", ia diduga masih hidup.

Militer Israel menyatakan Hudhaifa al-Kahlout, yang biasanya bersembunyi di balik topeng, berperan sebagai wajah Hamas dan bertanggung jawab menyebarkan pandangan Hamas.

Hudhaifa al-Kahlout sebagai Abu Obeida, berupaya mempengaruhi kesadaran publik di Israel untuk menekan pemerintah mereka agar penyepakati pertukaran para tahanan, lapor Al Arabiya.

Serangan Israel di Jalur Gaza

Hingga saat ini, Israel masih melanjutkan serangannya ke Jalur Gaza sejak Oktober 2023.

Israel mengklaim telah menguasai 40 persen wilayah Kota Gaza dalam serangan yang bertujuan untuk menduduki kota tersebut.

Pada hari Rabu (3/9/2025), Israel memulai Operasi Gideon 2 yang merupakan lanjutan dari Operasi Gideon 1 untuk menduduki Kota Gaza.

Militer Israel mengklaim pendudukan kota tersebut dapat memperkuat cengkeraman mereka di wilayah yang diklaim sebagai pusat kekuatan Hamas.

Serangan Israel di distrik Zeitoun dan Sheikh Ridwan di Kota Gaza pada hari ini menewaskan 53 orang.

Pada Kamis (4/9/2025) dini hari, serangan udara Israel menghantam kawasan tenda pengungsi. 

Menurut laporan koresponden Al-Arabiya, Ahmed Al-Bata, empat warga Palestina tewas akibat bom yang dijatuhkan di sebuah rumah di lingkungan Al-Sabra, Kota Gaza. 

Di Tal al-Hawa, barat daya Gaza, serangan ke tenda pengungsi juga menewaskan empat orang, termasuk tiga anak-anak. 

Sementara itu, serangan drone di Al-Nasr melukai sejumlah orang.

Setidaknya, 64.231 warga Palestina dibunuh dan 161.583 lainnya terluka akibat serangan Israel di Jalur Gaza, menurut laporan WAFA Agency pada hari Kamis.

Menurut laporan media resmi pemerintah Palestina tersebut, ada 2.356 warga Palestina yang dibunuh Israel ketika mereka mencari bantuan dan lebih dari 17.244 lainnya terluka dalam serangan Israel.

Israel menuding Hamas bertanggung jawab atas kehancuran dan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.

Sebelumnya, pada 7 Oktober 2023, Hamas meluncurkan Operasi Banjir Al-Aqsa yang menembus pertahanan selatan Israel dan menahan sekitar 250 orang. 

Hamas menyebut operasi itu sebagai perlawanan terhadap pendudukan Israel sejak 1948 di tanah Palestina dan upaya perebutan kompleks Masjid Al-Aqsa.

Sebagai respons, Israel menutup semua jalur masuk ke Gaza dan melancarkan serangan besar-besaran. 

Walau kemudian membuka kembali akses terbatas, pada 2 Maret 2025 Israel kembali melakukan blokade penuh di semua perlintasan perbatasan, termasuk Rafah dan Kerem Shalom. 

Pemblokiran ini menyebabkan kelaparan massal, menewaskan lebih dari 322 orang hingga akhir Agustus 2025, di mana UNICEF dan WHO menyebut kondisi ini sebagai “kelaparan massal buatan manusia.”

Meski pada Mei 2025 Israel dan AS membentuk Gaza Humanitarian Foundation (GHF) untuk menyalurkan bantuan, distribusinya masih terbatas. 

Bahkan, ada laporan bahwa tentara Israel menembaki warga yang mencoba mengambil bantuan. 

Menjelang akhir Agustus 2025, Israel memang mengizinkan sekitar 300 truk bantuan masuk setiap hari, namun jumlah itu dinilai jauh dari cukup.

Bantuan untuk kebutuhan tempat tinggal, seperti tiang tenda, juga belum diizinkan masuk, menurut laporan Reuters.

Sementara itu, perundingan antara Israel dan Hamas yang ditengahi oleh Qatar dan Mesir masih berjalan alot, di mana kedua pihak sulit menemukan titik temu terkait tuntutan untuk mengakhiri perang genosida di Gaza.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas