Pakistan dan Arab Saudi Kerja Sama Ala NATO, Transfer Nuklir Bikin Iran dan India Ketar-ketir
Arab Saudi dan Pakistan menjalin kerja sama pakta pertahanan bersama yang intinya, ancaman bagi satu adalah ancaman bagi lainnya.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Pakistan dan Arab Saudi Kerja Sama Ala NATO, Transfer Nuklir Bikin Iran-India Ketar-ketir
TRIBUNNEWS.COM - Pakistan dan Arab Saudi telah menandatangani perjanjian yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang pada intinya, bersumpah untuk saling membela.
Perjanjian ini serupa Pasal 5 NATO, lantaran menganggap serangan terhadap salah satu pihak sama dengan serangan terhadap keduanya.
Kerja sama pertahanan Arab Saudi dengan Pakistan bukanlah rahasia.
Baca juga: Gara-gara Air, Jenderal Pakistan Mengamuk, Ancam Rudal Bendungan India di Sungai Indus
Namun, hal yang mengkhawatirkan para pengamat geopolitik adalah konteks historis kolaborasi mereka, terutama terkait program nuklir Pakistan.
Bakal adanya transfer nuklir dari Pakistan ke Arab Saudi dikhawatirkan akan membuat kondisi geopolitik makin bergejolak, tulis laporan WN, dikutip Kamis (18/9/2025).
Ancaman Iran yang dirasakan Arab Saudi semakin memperparah kekhawatiran tersebut.
Sementara itu, para analis di India mempertanyakan apakah Arab Saudi akan mendukung Pakistan secara militer jika konflik kembali terjadi di masa mendatang, seperti Operasi Sindoor baru-baru ini.
"Secara resmi, India telah menyatakan akan 'mempelajari implikasi' dari pakta Arab Saudi dan Pakistan tersebut," tulis laporan WN.
Inilah mengapa Perjanjian Pertahanan Bersama Strategis (SMDA) Pakistan-Arab Saudi dianggap bermasalah.
Senjata Nuklir Pakistan untuk Arab Saudi?
Tidak ada bukti bahwa Pakistan telah mentransfer senjata atau teknologi nuklir ke Arab Saudi.
Namun, kemungkinan tersebut telah diperdebatkan di kalangan militer strategis selama bertahun-tahun.
"Keterikatan historis, budaya, dan militer, ditambah dengan kekhawatiran keamanan bersama—terutama terkait Iran—dan pergeseran geopolitik terkini di Timur Tengah, menjadikan isu ini terus berlanjut," tulis WN.
Isi Perjanjian Pertahanan Bersama Strategis Pakistan-Arab Saudi
Perjanjian Pertahanan Bersama Strategis Pakistan-Arab Saudi (SMDA) menyatakan kalau serangan terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap keduanya.
Perjanjian ini mencakup ketentuan pembagian intelijen, latihan militer gabungan, dan kerja sama keamanan siber.
Meskipun senjata nuklir tidak disebutkan, para analis khawatir kalau perjanjian ini dapat menjadi dasar bagi kerja sama nuklir di masa mendatang jika ancaman regional meningkat.
Dalam kasus Pakistan, hal ini jelas membuat India cemas, di mana komunitas mileter strategisnya sedang menganalisis secara saksama implikasi dari pakta ini.
Jejak Kerja Sama Arab Saudi dan Pakistan
Hubungan antara Arab Saudi dan Pakistan telah terjalin sejak tahun 1970-an, ketika Kerajaan negara Timur Tengah itu memberikan bantuan ekonomi, minyak murah, dan dukungan militer.
Sebagai imbalannya, Pakistan mengerahkan puluhan ribu pasukan ke Arab Saudi dan membantu melatih pasukannya.
Arab Saudi juga telah melakukan investasi besar di sektor pertahanan Pakistan.
Arab Saudi Bantu Biayai Program Nuklir Pakistan
Ada laporan yang menunjukkan bahwa Arab Saudi membantu mendanai pengembangan nuklir Pakistan.
Pada tahun 1980-an, seorang mantan pejabat CIA mengklaim bahwa Arab Saudi menyediakan lebih dari $1 miliar untuk upaya nuklir Pakistan.
Sebagai imbalannya, beredar rumor bahwa Arab Saudi mengharapkan akses ke senjata nuklir jika diperlukan di masa mendatang, terutama jika ada ancaman dari Iran.
Pada tahun 2003, sebuah sumber Pakistan mengklaim bahwa sebuah kesepakatan nuklir rahasia dibahas dalam kunjungan Putra Mahkota Saudi saat itu, Abdullah.
Kesepakatan tersebut diduga menawarkan bantuan nuklir kepada Arab Saudi dengan imbalan dukungan minyak yang berkelanjutan. Kedua negara membantah adanya perjanjian semacam itu.
Sinyal Putra Mahkota Saudi Inginkan Senjata Nuklir
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, yang menandatangani pakta pertahanan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, telah memberikan jawaban yang ambigu terkait isu nuklir di masa lalu.
Dalam sebuah wawancara CBS tahun 2018, dia mengatakan bahwa jika Iran membangun bom nuklir, Arab Saudi akan menyusul "sesegera mungkin."
Pernyataan ini pada saat itu memicu kekhawatiran global.
Mengingat hubungan dekat antara Pakistan dan Arab Saudi, para ahli yakin Pakistan bisa menjadi sumber bantuan nuklir yang paling memungkinkan, baik melalui transfer langsung maupun dukungan teknis untuk membangun senjata secara mandiri.
Program Energi Nuklir Arab Saudi
Secara resmi, Arab Saudi menyatakan bahwa mereka mengupayakan energi nuklir untuk tujuan damai.
Pada tahun 2010, negara ini mengumumkan rencana pembangunan 16 reaktor nuklir.
Kemajuannya berjalan lambat.
Perlu dicatat, Arab Saudi belum menandatangani Protokol Tambahan untuk Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), yang akan memungkinkan inspeksi internasional yang lebih ketat.
Pada tahun 2020, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Arab Saudi, dengan bantuan Tiongkok, telah membangun fasilitas untuk mengekstraksi uranium.
Hal ini legal menurut hukum internasional, tetapi meningkatkan kecurigaan tentang kemungkinan adanya niat penggunaan ganda.
Pakistan Jadi Jalan Utama Buat Arab Saudi Punya Nuklir
Pakistan adalah salah satu dari sedikit negara berpenduduk mayoritas Muslim yang memiliki senjata nuklir.
Pakistan sebelumnya telah menghadapi tuduhan proliferasi nuklir, termasuk melalui jaringan AQ Khan, yang terkait dengan Korea Utara, Libya, dan Iran.
Hubungan Pakistan yang kuat dengan Arab Saudi menjadikannya mitra yang masuk akal di masa depan jika Arab Saudi memutuskan untuk memperoleh senjata nuklir.
Jika Iran mengembangkan senjata nuklir, Arab Saudi mungkin akan berusaha "meminjam" atau membeli hulu ledak dari Pakistan.
"Para ahli khawatir bahwa pakta pertahanan yang baru akan membuat hasil seperti itu lebih masuk akal," tulis ulasan WN.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.