Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Khalil Al-Hayya, Bos Hamas Muncul Perdana setelah Gagal Dibunuh Israel

Khalil Al-Hayya, senior Hamas dan kepala negosiasi sebelumnya, muncul perdana di publik setelah Israel gagal membunuhnya dalam serangan di Qatar.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Khalil Al-Hayya, Bos Hamas Muncul Perdana setelah Gagal Dibunuh Israel
Tangkapan Layar YouTube Al Arabi
BOS HAMAS - Tangkapan layar YouTube Al Arabi, Minggu (5/10/2025), memperlihatkan Khalil Al-Hayya, senior Hamas dan kepala negosiasi sebelumnya, muncul perdana di publik dalam publikasi Telegram Hamas, setelah Israel gagal membunuhnya dalam serangan di Qatar pada 9 September lalu. 

TRIBUNNEWS.COM - Khalil al-Hayya, pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza sekaligus ketua tim negosiasi, muncul di hadapan publik untuk pertama kalinya sejak upaya pembunuhan terhadapnya gagal dalam serangan Israel di Doha, Qatar, pada 9 September lalu.

Khalil Al-Hayya muncul dalam sebuah klip video yang diunggah Hamas di akun Telegram resminya pada hari Minggu (5/10/2025).

Ia berbicara tentang kehilangan putranya, Humam al-Hayya, yang gugur dalam serangan udara Israel di Doha. 

"Tidak ada perbedaan antara syahid mana pun di Gaza dan putra saya. Mereka semua adalah korban kejahatan pendudukan," katanya dalam komentar pertamanya tentang upaya pembunuhan dan kematian putranya, manajer kantornya, dan beberapa rekannya. 

"Darah para martir akan tetap menjadi jalan kita menuju kemenangan dan Yerusalem, dan akan menjadi alasan untuk mempermalukan pendudukan," katanya.

Ia merasakan kesedihan yang mendalam seperti apa yang dirasakan rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza.

"Saat ini, kita hidup dalam bayang-bayang kepedihan, kebanggaan, dan martabat, dengan hilangnya ribuan rakyat kita, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia. Tuhan telah memuliakan kita dengan kehadiran anak, cucu, saudara, dan kerabat kita di antara mereka," lanjutnya.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kami adalah bagian dari keluarga besar ini, keluarga rakyat Palestina, khususnya di Gaza, yang hari ini mewakili seluruh bangsa dalam keteguhan dan pengorbanannya," tambahnya.

Kemunculan Khalil al-Hayya di publik terjadi satu hari sebelum delegasi Hamas dijadwalkan berangkat ke Kairo untuk melanjutkan negosiasi pada hari Senin (6/10/2025). 

Masih belum jelas apakah Khalil al-Hayya, yang memimpin delegasi pada putaran sebelumnya, akan berpartisipasi dalam perundingan mendatang.

Pada hari Selasa (9/9/2025), Israel meluncurkan serangan ke Doha, ibu kota Qatar, dalam operasi yang ia sebut menargetkan para pemimpin Hamas.

Baca juga: Hamas Setujui Usulan Gencatan Senjata, Utusan Trump ke Mesir Bahas Pembebasan Sandera di Gaza

Enam orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, termasuk termasuk Humam al-Hayya, putra anggota biro politik Khalil al-Hayya; direktur kantornya, Jihad Labad; tiga rekannya; dan seorang petugas keamanan Qatar.

Empat hari setelah serangan Israel di Doha, Hamas mengumumkan bahwa Khalil al-Hayya selamat dari upaya pembunuhan tersebut, lapor Al Arabiya

Pernyataan tersebut mengonfirmasi bahwa ia telah berpartisipasi dalam salat jenazah untuk putranya, Hammam, dan beberapa rekannya, yang gugur dalam operasi tersebut. 

Pengumuman ini disampaikan di tengah ketatnya pengaturan keamanan di Qatar.

Serangan Israel di Doha terjadi setelah pertemuan antara Hamas dan perdana menteri Qatar untuk membahas usulan gencatan senjata AS.

Presiden AS Donald Trump mengatakan ia diberitahu oleh Departemen Pertahanan (Pentagon) bahwa Israel berencana menyerang Doha.

Ia meminta Utusan Khususnya Steve Witkoff untuk memberi tahu Qatar, namun terlambat.

Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, mengatakan mereka menerima kabar dari AS sekitar sepuluh menit setelah serangan itu terjadi.

Dalam pernyataannya pada hari Selasa, Gedung Putih menepis tuduhan bahwa AS terlibat dalam serangan tersebut dan menegaskan semua itu keputusan Netanyahu.

AS menenangkan Qatar bahwa serangan seperti itu tidak akan terjadi lagi, membuktikannya dengan meresmikan perintah eksekutif pada 29 September yang menyatakan bahwa serangan terhadap Qatar sama dengan ancaman terhadap AS.

Khalil Al-Hayya

Khalil Ismail Ibrahim Al-Hayya yang dikenal juga dengan panggilan Abu Osama, lahir di Gaza pada 5 November 1960. 

Ia bukan sekadar tokoh politik, melainkan juga seorang ulama dan intelektual yang dikenal karena keteguhannya memperjuangkan hak rakyat Palestina di bawah pendudukan Israel.

Perjalanan pendidikannya menunjukkan sosok yang haus ilmu. 

Khalil al-Hayya meraih gelar sarjana dari Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Gaza pada tahun 1983, lalu melanjutkan studi magister di Universitas Yordania dalam bidang Ilmu Hadis. 

Ia kemudian menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Al-Qur’an dan Ilmu Islam Sudan pada tahun 1997. 

Aktivitas politiknya dimulai sejak masa Intifada pertama tahun 1987. 

Sejak itu, Al-Hayya menjadi bagian penting dalam struktur kepemimpinan Hamas. 

Ia pernah menjabat sebagai kepala biro media Hamas dan kemudian menjadi wakil kepala biro politik Hamas di Gaza. 

Dalam Pemilu 2006, Al-Hayya terpilih sebagai anggota Dewan Legislatif Palestina mewakili Kota Gaza.

Sebagai politisi dan diplomat, Al-Hayya dikenal memainkan peran penting dalam perundingan gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel

Ia kerap mewakili Hamas dalam dialog dengan mediator internasional, termasuk Qatar, Mesir, dan PBB.

Setelah tewasnya Yahya Sinwar pada Oktober 2024, Khalil Al-Hayya menjadi bagian dari kepemimpinan kolektif Hamas yang mengatur arah gerakan perlawanan dari luar Gaza.

Namun, perjuangan panjangnya tidak lepas dari pengorbanan. Dalam perang Gaza tahun 2014, rumah putranya Osama dihantam rudal Israel, menewaskan istri dan anak-anaknya, lapor Al Jazeera. 

Tragedi itu tidak mematahkan semangatnya, justru memperkuat tekadnya untuk melanjutkan perjuangan. 

Pada 9 September 2025, Israel kembali menargetkan dirinya dalam serangan udara di Qatar. 

Ia dilaporkan selamat, meski putranya, Himam, gugur dalam serangan tersebut.

Kini, Khalil Al-Hayya menjadi simbol keteguhan dan kontinuitas perjuangan Hamas di tengah tekanan global. 

Sosoknya yang religius, berwawasan luas, dan tenang dalam diplomasi menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam peta politik Palestina modern.

Update Serangan Israel di Jalur Gaza

Pada hari ini, Al Jazeera melaporkan setidaknya 11 orang, termasuk pencari bantuan, tewas akibat serangan Israel di Gaza sejak fajar.

Israel terus melakukan serangan di Jalur Gaza sejak Oktober 2023, menewaskan lebih dari 67.074 warga Palestina dan melukai sekitar 169.430 orang, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza pada Sabtu.

Bencana kemanusiaan di Jalur Gaza semakin parah, dengan 453 orang meninggal akibat kelaparan, termasuk 147 anak-anak.

Sejak 27 Mei 2025, serangan Israel terhadap warga Palestina yang tengah mencari bantuan telah menewaskan 2.603 orang dan melukai lebih dari 19.094 lainnya, dikutip dari WAFA.

Israel menyalahkan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) atas kehancuran di Gaza setelah Hamas meluncurkan Operasi Banjir Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, di mana ratusan warga Israel tewas dan sekitar 250 orang ditahan oleh Hamas.

Per 3 September 2025, diperkirakan masih ada 48 warga Israel dan warga asing yang ditawan di Gaza, termasuk sandera yang telah dipastikan tewas namun jenazahnya masih ditahan, menurut laporan OCHA.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan inisiatif baru yang ditujukan bagi Israel dan Hamas, setelah berlangsungnya KTT PBB yang menyoroti solusi dua negara yang digagas oleh Arab Saudi dan Prancis pada akhir September.

Pertemuan perdana untuk membahas usulan tersebut dijadwalkan digelar di Mesir pada hari Senin mendatang, dengan dihadiri oleh perwakilan dari Hamas, Israel, mediator asal Qatar, serta delegasi resmi dari Amerika Serikat.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas