5 Populer Internasional: 'Jebakan' Mic Bocor ala Amerika - Israel Curangi Gencatan Senjata
Rangkuman berita internasional terpopuler, salah satu isu yang menarik perhatian publik yakni adanya konspirasi jebakan mic bocor ala Amerika.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Sri Juliati
Ringkasan Berita:
- Rangkuman berita internasional terpopuler dalam 24 jam terakhir
- Salah satu isu yang menarik perhatian publik yakni adanya konspirasi jebakan "mic bocor" ala Amerika
- Ada pula soal gencatan senjata Gaza yang ducurangi Israel
TRIBUNNEWS.COM - Dunia internasional kembali diwarnai isu panas yang menarik perhatian publik.
Dari Washington, muncul dugaan “jebakan” mic bocor ala Amerika yang mengungkap pembicaraan rahasia di balik panggung diplomasi.
Sementara di Timur Tengah, Israel kembali dituding mencurangi kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang baru saja diumumkan.
Berikut berita populer internasional selengkapnya.
1. 'Jebakan' Mic Bocor Ala Amerika, Prabowo Korban Terbaru? Terjadi di Era Trump, Biden hingga Reagan
Di Amerika Serikat (AS), fenomena mikrofon bocor atau hot mic bukan hal yang baru.
Entah disengaja atau tidak, kasus ini kerap menimpa para pejabat negara di AS.
Nah, kasus hot mic kembali menyita perhatian global setelah obrolan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden RI Prabowo Subianto bocor ke publik.
Trump dan Prabowo terlihat berbincang serius di sela-sela menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza di Sharm El Sheikh, Mesir, Senin (13/10/2025).
Namun microfon yang berada di dekat mereka tetap menyala sehingga pembicaraan terdengar orang lain di ruangan itu.
Sejumlah media global menyoroti hal itu.
Reuters melaporkan dalam rekaman itu Prabowo meminta bertemu dengan Eric Trump, anak ketiga sang Presiden AS dari lima bersaudara.
Eric adalah seorang pengusaha pewaris kerajaan bisnis keluarga Trump.
Baca juga: Profil Eric Trump, Anak Donald Trump yang Diduga Dicari Prabowo saat KTT Gaza
Trump saat itu baru saja menyampaikan pidato kepada sejumlah pemimpin dunia dalam pertemuan di kota resor Sharm el-Sheikh, yang digelar setelah pengumuman gencatan senjata Gaza antara Israel dan Hamas.
Bukan kasus baru, kerap terjadi
Pada Senin 18 Agustus 2025 lalu di Gedung Putih AS, Donald Trump juga tertangkap kamera berbisik santai dengan sejumlah pemimpin Eropa.
Namun mikrofon di dekat mereka menyala.
Obrolan mereka terdengar wartawan yang hadir membicarakan seputar perang Rusia Vs Ukraina.
2. Peringatan Keras Trump ke Hamas: jika Tidak Mau Melucuti Senjata, Kami Bertindak
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada kelompok militan Palestina, Hamas.
Peringatan keras Donald Trump ini menyusul kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh AS.
Donald Trump memperingatkan bahwa jika Hamas tidak menunaikan janji untuk melucuti senjata, Washington akan mengambil tindakan tegas.
Bahkan, kata Trump, "mungkin dengan kekerasan" untuk melucuti kemampuan militer mereka.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa (14/10/2025), ketika ia ditanya mengenai jaminan bahwa Hamas akan benar-benar meletakkan senjata.
"Kami telah memberi tahu mereka bahwa kami ingin mereka melucuti senjata, dan mereka akan melucuti senjata."
"Dan jika mereka tidak melucuti senjata, kami akan melucuti mereka, dan itu akan terjadi dengan cepat dan mungkin dengan kekerasan," kata Trump, dikutip dari The Times of Israel.
"Mereka akan melucuti senjata," tegas Trump.
Trump mengklaim bahwa ia telah berkomunikasi dengan Hamas — walaupun kemudian mengklarifikasi bahwa pesan tersebut disampaikan melalui "orang-orangnya", merujuk pada utusan khusus AS, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner.
Baca juga: Hamas Serahkan 4 Jenazah Sandera setelah Israel Ancam Batasi Bantuan ke Gaza
Witkoff dan Kushner sebelumnya bertemu dengan negosiator tinggi Hamas untuk memastikan Washington akan meminta pertanggungjawaban Israel atas ketentuan rencana AS untuk mengakhiri perang di Gaza.
Ancaman untuk melucuti senjata ini muncul meskipun gencatan senjata yang ditengahi AS telah berlaku dan sebagian besar sandera yang masih hidup telah dibebaskan.
Namun, Trump menyoroti bahwa "tugas belum selesai" karena Hamas belum mengembalikan sisa jasad para sandera yang meninggal sesuai janji dalam kesepakatan.
"SEMUA DUA PULUH SANDERA KEMBALI dan merasa sebaik yang diharapkan. Beban besar telah terangkat, tetapi tugas BELUM SELESAI. YANG MENINGGAL BELUM DIKEMBALIKAN, SEPERTI YANG DIJANJIKAN!" tulis Trump di akun Truth Social-nya.
Meskipun batas waktu pengembalian jasad sandera telah terlewati, perjanjian gencatan senjata memberikan kelonggaran waktu bagi Hamas untuk menemukan jasad sandera yang tersisa.
3. Araghchi: Trump Tidak Bisa Disebut Presiden Perdamaian Jika Terus Memprovokasi Perang
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas kebijakan yang dinilainya memprovokasi perang di kawasan Asia Barat.
Menurut Araghchi, Trump tidak dapat mengklaim dirinya sebagai pembawa perdamaian di kawasan tersebut, sementara pada saat yang sama menjalankan kebijakan agresif dan bersekutu dengan pihak-pihak yang disebutnya sebagai penjahat perang.
Mengutip PressTV, dalam unggahan di platform X pada Selasa (14/10/2025), Araghchi menyebut klaim Trump bahwa Iran hampir mengembangkan senjata nuklir sebelum agresi AS-Israel terhadap fasilitas nuklirnya, sebagai kebohongan besar.
Ia menuduh kelompok berkepentingan pro-Israel telah memberi informasi palsu kepada Amerika Serikat.
“Sudah sangat jelas bahwa Presiden AS telah disesatkan dengan informasi palsu, seolah-olah program nuklir damai Iran berada di ambang persenjataan musim semi ini,” kata Araghchi.
“Itu hanyalah KEBOHONGAN BESAR, dan seharusnya dia sudah diberitahu bahwa tidak ada bukti sama sekali, sebagaimana dikonfirmasi oleh komunitas intelijennya sendiri.”
Araghchi juga mengecam keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam serangan udara terhadap kota-kota Iran pada awal tahun ini, yang menewaskan lebih dari 1.000 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
“Bagaimana mungkin bangsa Iran dapat diminta mempercayai tawaran perdamaian yang datang dari tangan yang sama yang membombardir rumah dan kantor di seluruh Iran hanya empat bulan lalu?” katanya.
Baca juga: Ali Khamenei Dilaporkan Cabut Aturan Pembatasan Jangkauan Misil, Iran Kembangkan Rudal Antarbenua?
Ia menegaskan bahwa seseorang tidak dapat disebut Presiden Perdamaian jika pada saat yang sama memprovokasi perang tanpa akhir dan bersekutu dengan para penjahat perang.
Menurut Araghchi, Trump hanya bisa menjadi Presiden Perdamaian atau Presiden Perang, dan tidak mungkin menjadi keduanya sekaligus.
Menteri luar negeri Iran itu juga menyinggung citra Trump sebagai pembawa damai, serta pernyataannya yang berjanji akan menciptakan perdamaian abadi di kawasan Timur Tengah bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
4. Israel Curangi Gencatan Senjata: Rafah Ditutup, Bantuan Dipangkas, Warga Tewas Ditembak
Gencatan senjata yang baru berjalan 5 hari di Jalur Gaza, kembali diuji usai Pemerintah Israel mengumumkan penundaan pembukaan perlintasan Rafah di perbatasan Mesir.
Tak hanya itu, dalam keterangan resmi yang dikutip The Guardian, pemerintah Israel juga turut memotong setengah aliran bantuan kemanusiaan menuju wilayah Palestina.
Militer Israel menegaskan pembatasan dilakukan sebagai hukuman atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran lantaran Hamas telat menyerahkan seluruh jenazah sandera Israel seperti yang disepakati dalam rumusan gencatan senjata yang disponsori AS.
Dimana militan Hamas seharusnya mengembalikan empat jenazah tambahan di awal pekan ini sehingga total delapan dari 28 jenazah telah dipulangkan, namun pengembalian jenazah baru dilakukan pada Selasa (14/10/2025).
Palang Merah Internasional, yang memantau proses pertukaran jenazah, menilai pencarian di tengah puing Gaza merupakan tantangan besar sehingga proses ini memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu.
Kendati demikian, Israel menilai keterlambatan ini sebagai sengaja menunda komitmen.
Alasan itu yang mendorong Pemerintahan Netanyahu untuk mengambil langkah agresif, mengurangi jumlah truk bantuan dari 600 menjadi hanya 300 unit per hari, serta menunda pembukaan perlintasan Rafah yang sebelumnya dijadwalkan dibuka Rabu (15/10/2025).
Pemerintah Israel juga menyatakan bahwa langkah ini sejalan dengan mekanisme gencatan senjata, yang memungkinkan pengaturan ulang bantuan bila pihak lawan belum menepati komitmen, termasuk dalam hal pengembalian jenazah.
Israel Tembak Mati 9 Warga Palestina
Selain melakukan pembatasan, militer Israel dilaporkan melakukan kekerasan, menembak mati sembilan warga Palestina dalam dua insiden terpisah di Kota Gaza dan Khan Younis.
Militer Israel menyatakan bahwa pasukannya melepaskan tembakan setelah peringatan berulang kali kepada sejumlah warga yang dianggap mendekati posisi militer dengan niat mencurigakan.
Dalam insiden pertama, lima orang tewas oleh serangan pesawat tak berawak saat mereka memeriksa rumah di distrik Shuja’iya, Kota Gaza.
Insiden kedua terjadi di tenggara Khan Younis, menewaskan seorang warga dalam serangan serupa.
Sementara itu, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengecam tindakan Israel dan menilai penembakan tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata. Hamas menuding Israel berusaha menghindari komitmen terhadap mediator internasional.
Ketegangan ini muncul setelah kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Presiden Amerika Serikat Donald Trump berhasil membebaskan sandera Israel terakhir yang masih hidup dan memulangkan sebagian tahanan Palestina dari Israel.
Meskipun gencatan senjata dimaksudkan untuk menahan kekerasan dan memulai pemulihan, peristiwa Selasa menunjukkan rapuhnya implementasi di lapangan, di tengah upaya Israel dan Hamas untuk mempertahankan posisi masing-masing.
5. Krisis Kepemimpinan di Madagaskar: Rajoelina Kabur, Militer dan Parlemen Berebut Kekuasaan
Krisis politik Madagaskar semakin memuncak.
Presiden Andry Rajoelina dikabarkan melarikan diri ke luar negeri di tengah gelombang protes besar-besaran yang dipimpin oleh kelompok muda “Gen Z Madagaskar”.
Dalam situasi yang kacau, parlemen memutuskan untuk memakzulkan presiden, sementara unit militer elit mengklaim telah mengambil alih kekuasaan.
BBC dan Al Jazeera melaporkan, pemungutan suara pemakzulan dilakukan pada Selasa (14/10/2025).
Tindakan tersebut dilakukan selang beberapa jam setelah Rajoelina mengonfirmasi dirinya meninggalkan negara itu.
Andry Rajoelina menyebut langkah itu diambil demi “melindungi nyawa” setelah unit tentara elit CAPSAT membelot dan menguasai stasiun televisi nasional.
“Saya terpaksa mencari tempat aman untuk melindungi hidup saya,” ujar Rajoelina dalam siaran langsung berdurasi 26 menit.
Lokasinya saat ini belum diketahui.
Media Prancis RFI melaporkan ia kemungkinan diterbangkan dengan pesawat militer Prancis.
Di hari yang sama, Rajoelina mengumumkan pembubaran parlemen melalui unggahan di platform X (Twitter).
Keputusan itu ditolak oleh oposisi yang justru menuduhnya melanggar konstitusi.
“Saya telah memutuskan untuk membubarkan Majelis Nasional. Rakyat harus didengarkan kembali. Beri jalan bagi kaum muda,” tulisnya.
Langkah presiden tersebut memperburuk situasi.
Parlemen menolak dekrit itu dan memulai proses pemakzulan dengan alasan Rajoelina telah “meninggalkan jabatannya”.
Dalam respons di Facebook, Rajoelina mengecam langkah parlemen dan menyebut tindakan militer sebagai “inkonstitusional”.
(Tribunnews.com)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.