Hamas Serahkan Jasad Sandera Israel yang Bisa Dijangkau, 19 Lainnya Masih di Gaza
Hamas mengatakan mereka menyerahkan jasad sandera yang bisa dijangkau di Gaza, sementara Trump dan Israel mengancamnya dengan serangan di Jalur Gaza.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Hamas mengumumkan kelompoknya menyerahkan semua jasad sandera yang dapat dijangkau dari bawah reruntuhan di Jalur Gaza, kesulitan untuk menemukan jasad sandera lainnya.
- Total ada 9 dari 28 jasad sandera yang telah diserahkan oleh Hamas dan telah diidentifikasi oleh Israel.
- Presiden AS Donald Trump mengatakan Hamas sedang berupaya menggali reruntuhan dan terowongan untuk mencari jasad sandera.
TRIBUNNEWS.COM - Sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), Brigade Al-Qassam, mengatakan kelompoknya telah menyerahkan semua jasad sandera Israel yang bisa dijangkau di Jalur Gaza.
"Brigade Izz ad-Din al-Qassam memutuskan untuk menyerahkan jenazah dua tahanan Israel di Jalur Gaza pada pukul 10 malam," kata Brigade Al-Qassam dalam sebuah pernyataan di Telegram, Rabu (15/10/2025) malam.
"Kami telah mematuhi apa yang telah disepakati dan menyerahkan semua tahanan hidup dan jenazah yang dapat kami jangkau," tambahnya.
Brigade Al-Qassam menunjukkan bahwa jenazah-jenazah yang tersisa membutuhkan upaya signifikan dan peralatan khusus untuk mencari dan mengekstraknya, dan mereka sedang berupaya keras untuk melakukannya.
Selain itu, Hamas menegaskan mereka telah menyerahkan 20 sandera lainnya yang masih hidup pada Senin (13/10/2025).
Setelah pernyataan itu, militer Israel mengumumkan Palang Merah menerima jenazah dua sandera tambahan di Gaza, sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza.
"Menurut informasi yang diterima Palang Merah, personelnya telah menyerahkan dua peti mati korban penculikan, dan peti-peti tersebut kini sedang dalam perjalanan menuju pasukan IDF dan Shin Bet di Jalur Gaza," kata militer dalam sebuah pernyataan, Rabu (15/10/2025).
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata tahap pertama dengan Israel, Hamas harus menyerahkan 28 jasad sandera, selain 20 sandera yang masih hidup.
Israel: Hamas Baru Serahkan 9 dari 28 Jasad Sandera
Hamas menyerahkan empat jasad pada hari Senin, empat jasad lagi pada hari Selasa dan dua jasad pada hari Rabu.
Empat jenazah yang diserahkan pada Senin diidentifikasi sebagai Daniel Peretz, Yossi Sharabi, Guy Illouz and Bipin Joshi.
Baca juga: Ancam Hamas, Trump Bisa Izinkan Israel Serang Gaza Lagi
Sementara empat jenazah yang diserahkan pada Selasa diidentifikasi sebagai Ouriel Baruch, Tamir Nimrodi dan Eitan Levy, sementara satu jenazah dikonfirmasi bukan milik sandera.
Sedangkan dua jasad yang dikembalikan pada Rabu diidentifikasi sebagai Inbar Hayman dan Sersan Mayor Muhammad al-Atarash.
Total, Israel mengonfirmasi sembilan jasad sandera telah dikembalikan dari Jalur Gaza, dan 19 lainnya belum diserahkan oleh Hamas, lapor CNN.
Hamas menyatakan kesulitan untuk menemukan sisa-sisa jasad di antara reruntuhan dua tahun setelah perang di Jalur Gaza.
Israel menghancurkan sebagian besar bangunan di Jalur Gaza dalam serangan besar-besaran sejak Oktober 2023, menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan membunuh sandera.
Laporan WAFA mencatat setidaknya 10.000 orang diperkirakan masih tertimbun reruntuhan bangunan akibat serangan Israel.
Sementara itu, Israel menuduh Hamas mengulur waktu dengan dalih kesulitan mencari jasad sandera di bawah reruntuhan.
Hal itu memicu kemarahan Israel dan mengancam akan membatasi masuknya bantuan ke Jalur Gaza serta menutup perlintasan Rafah hingga semua jasad diserahkan.
Pada Rabu, Radio Angkatan Darat Israel melaporkan proses pengambilan jasad sandera dari Jalur Gaza masih berlangsung dengan bantuan Palang Merah Internasional dan para mediator.
Mediator Qatar, mengatakan diskusi untuk tahap kedua dimulai di Sharm el-Sheikh, Mesir pada Selasa (14/10/2025).
Sementara itu, Israel membebaskan sekitar 2.000 warga Palestina dari penjara-penjara Israel dalam pertukaran tahanan yang disepakati dengan Hamas, lapor Al Arabiya.
Trump: Hamas Sedang Menggali Reruntuhan Mencari Jasad Sandera
Sekutu Israel, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Hamas sedang menggali di bawah reruntuhan dan terowongan untuk mencari jasad para sandera.
Trump mencatat beberapa jasad telah terkubur dalam waktu lama dan yang lainnya masih berada di bawah reruntuhan.
"Mereka sedang mencari mereka. Saya yakin akan hal itu. Mereka telah membawa kembali semua sandera yang masih hidup, dan mereka telah membawa kembali beberapa jenazah," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Rabu (15/10/2025).
"Saya tidak suka membicarakannya, tetapi mereka sebenarnya menggali di area yang sulit, dan mereka menemukan banyak jenazah, lalu mereka harus memisahkan jenazah-jenazah itu," lanjutnya, lapor Sky News.
Presiden AS mengatakan beberapa jasad mungkin telah diletakkan di terowongan dalam waktu yang lama.
"Beberapa jenazah sudah lama berada di sana. Beberapa berada di bawah reruntuhan, jadi mereka harus memindahkan reruntuhannya. Ada kuburan, dan beberapa jenazah berada di terowongan bawah tanah yang dalam tempat mereka tinggal untuk waktu yang lama," kata Trump.
Dalam pernyataan terpisah, Trump mengancam Hamas jika mereka tidak dapat mematuhi perjanjian gencatan senjata maka ia dapat mengizinkan Perdana Menteri Israel Netanyahu untuk melanjutkan serangan di Gaza.
Sementara itu, penasihat senior AS mengatakan mereka tidak percaya Hamas sejauh ini telah melanggar perjanjian gencatan senjata.
Sementara itu, jumlah korban jiwa mencapai 67.913 warga sipil Palestina dan 170.134 lainnya terluka dalam serangan Israel sejak 7 Oktober 2023, menurut data Kementerian Kesehatan Palestina per 14 Oktober 2025.
Israel menyalahkan Hamas atas kematian dan kehancuran di Jalur Gaza, menganggapnya sebagai balasan atas Operasi Banjir Al-Aqsa yang diluncurkan Hamas dan faksi-faksi sekutunya pada 7 Oktober 2023.
Pada 7 Oktober 2023, Hamas dan faksi lainnya menangkap 250 orang setelah membobol pertahanan Israel di perbatasan selatan, menyebut operasinya sebagai perlawanan terhadap pendudukan Israel di Palestina sejak tahun 1948.
Pada akhir September, Trump mengajukan proposal gencatan senjata untuk Israel dan Hamas yang ditengahi oleh mediator Qatar dan Mesir dengan partisipasi AS dan Turki.
Kedua pihak sepakat dan gencata senjata dimulai pada Jumat, 10 Oktober 2025, namun kesepakatan tersebut rapuh karena kedua pihak saling tuduh melanggar perjanjian.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.