Zelensky Minta Eropa Tak Lunak kepada Rusia setelah AS Kubur Harapan soal Tomahawk
Perang Rusia-Ukraina hari 1.335, Presiden Ukraina Zelensky minta sekutu Eropa bereaksi setelah ia gagal mendapat rudal Tomahawk dari AS.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Presiden Ukraina Zelensky berharap sekutu Eropa memberikan aksi nyata untuk Ukraina dalam menekan Rusia.
- Zelensky sebelumnya gagal untuk mendapatkan kepastian mengenai rudal Tomahawk AS.
- Zelensky menegaskan ia siap berunding dengan Rusia, namun harus ada gencatan senjata di garis depan terlebih dahulu.
TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia dengan Ukraina memasuki hari ke-1.335 pada Senin (20/10/2025), memperpanjang perang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.
Presiden Ukraina Zelensky mendesak sekutu-sekutunya agar tidak menenangkan Rusia setelah ia kembali dari perjalanan ke Amerika Serikat (AS).
Seruan itu disampaikan setelah ia gagal mengamankan rudal jelajah jarak jauh Tomahawk untuk menekan Rusia.
"Ukraina tidak akan pernah memberikan hadiah apa pun kepada teroris atas kejahatan mereka, dan kami mengandalkan mitra kami untuk menegakkan posisi ini," tulis Zelensky di media sosial, Minggu (19/10/2025).
Ia menyerukan langkah-langkah tegas dari sekutu-sekutu Eropa dan Amerika.
Menurutnya, sudah waktunya untuk pertemuan lain antara “The Coalition of the Willings” yang dipimpin Eropa.
Zelensky terbang ke Washington setelah berminggu-minggu ada seruan untuk persenjataan, berharap meningkatkan rasa frustrasi Trump terhadap Vladimir Putin setelah pertemuan puncak di Alaska gagal menghasilkan terobosan dalam perang.
Namun, Presiden Ukraina itu pulang dengan tangan kosong, sedangkan Trump mendesak Rusia dan Ukraina untuk mengambil langkah diplomatik guna mengakhiri perang, lapor The Guardian.
Pada Senin (20/10/2025), Rusia menyerang fasilitas energi di wilayah Chernihiv, menyebabkan lebih dari 55.000 pelanggan tanpa listrik.
Selain itu, Rusia menyerang tambang DTEK di wilayah Dnipropetrovsk saat 192 pekerja berada di bawah tanah, menyebabkan evakuasi darurat yang saat ini masih berlangsung.
Baca juga: Trump Buka Jalan Perdamaian: Yakin Konflik Rusia–Ukraina Segera Berakhir
Kabar Terbaru Perang Rusia-Ukraina
Perang Rusia dan Ukraina berawal dari ketegangan lama sejak bubarnya Uni Soviet pada 1991.
Setelah menjadi negara merdeka, Ukraina sering berselisih dengan Rusia soal perbatasan, jati diri bangsa, dan arah politiknya.
Situasi memanas pada tahun 2014 ketika terjadi Revolusi Maidan yang menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych, pemimpin yang dekat dengan Rusia.
Pemerintah baru Ukraina kemudian lebih memilih berhubungan dengan negara-negara Barat, dan hal ini dianggap mengancam pengaruh Rusia.
Sebagai reaksi, Rusia merebut wilayah Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk, sehingga pecah konflik bersenjata di kawasan Donbas.