Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Zelenskyy: Separuh Serangan Udara Rusia Terpusat di Pokrovsk

Presiden Ukraina mengatakan hampir 50 persen serangan Rusia terpusat di Pokrovsk ketika Moskow mengklaim telah mengepung wilayah itu.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Zelenskyy: Separuh Serangan Udara Rusia Terpusat di Pokrovsk
Facebook Zelensky
PRESIDEN UKRAINA ZELENSKY - Gambar diambil dari Facebook Presiden Ukraina pada Senin (8/9/2025), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berbicara dalam pertemuan "Coalition of the Willings" di Paris, Prancis, pada 4 September 2025. -- Pada 3 November 2025, Zelenskyy mengatakan separuh serangan Rusia dipusatkan di Pokrovsk. 
Ringkasan Berita:
  • Zelensky melaporkan serangan intensif Rusia di Pokrovsk, yang dijuluki "gerbang Donetsk".
  • Rusia mengklaim pasukannya mengepung pasukan Ukraina di Pokrovsk.
  • Perang Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.350 ketika serangkaian ledakan terdengar di wilayah Dnipropetrovsk.

TRIBUNNEWS.COM - Ketika Rusia mengklaim kemajuan pasukannya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melaporkan dominasi serangan Rusia di wilayah Pokrovsk.

Sekitar 26–30 persen pertempuran di garis depan dan 50 persen serangan bom udara berpemandu Rusia kini terfokus di sekitar kota Pokrovsk, Oblast Donetsk, menurut laporan Zelenskyy. 

"Musuh tidak berhasil dalam beberapa hari terakhir," kata Zelenskyy, seraya menambahkan, "Anda bisa melihat betapa sulitnya bagi tentara kita."

Zelenskyy menyebut sekitar 260–300 tentara Rusia masih berada di Pokrovsk.

Sementara Resimen Serbu ke-425 dan beberapa brigade lainnya bertempur mempertahankan kota itu. 

Ia juga melaporkan bahwa operasi pembersihan di Kupiansk masih berlangsung, dan pasukan Ukraina telah merebut 2–3 kilometer wilayah tambahan di sekitar Dobropillia, meski Rusia disebut tengah mempersiapkan serangan balasan.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan tentaranya menghancurkan apa yang digambarkannya sebagai formasi Ukraina yang terkepung di dekat stasiun kereta api dan zona industri Pokrovsk pada hari Senin (3/11/2025).

Rekomendasi Untuk Anda

Rusia mengklaim pasukan Ukraina telah memasuki wilayah Prigorodny di kota itu dan bersembunyi di sana, lapor Reuters.

Update Perang Rusia dan Ukraina

Perang Rusia dengan Ukraina memasuki hari ke-1.350 pada Selasa (4/11/2025), memperpanjang perang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Pada tengah malam, dilaporkan adanya ledakan di Pavlohrad, wilayah Dnipropetrovsk.

Baca juga: Ukraina Membalas, Serangan Drone Hantam Kilang Minyak Tertua Rusia Berkapasitas 4,8 Juta Metrik Ton

Angkatan Udara melaporkan adanya UAV yang mendekati kota dari arah timur laut.

Perang antara Rusia dan Ukraina berawal dari ketegangan panjang yang muncul sejak bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991.

Setelah menjadi negara merdeka, Ukraina sering berselisih dengan Rusia terkait persoalan batas wilayah, identitas nasional, serta arah politik—antara mempertahankan kedekatan dengan Moskow atau menjalin hubungan lebih erat dengan negara-negara Barat.

Situasi memuncak pada tahun 2014 ketika Revolusi Maidan menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych, yang dikenal pro-Rusia. Pemerintahan baru Ukraina kemudian memperkuat kerja sama dengan Barat, langkah yang dianggap Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan.

Sebagai tanggapan, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk, yang memicu konflik bersenjata di wilayah Donbas.

Ketegangan itu mencapai puncaknya pada Februari 2022, saat Presiden Vladimir Putin melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina dengan alasan menumpas kelompok neo-Nazi di Kyiv, melindungi warga keturunan Rusia di Donbas, serta mencegah Ukraina bergabung dengan NATO, yang dianggap mengancam keamanan Rusia.

Di sisi lain, Ukraina mendapat dukungan luas dari Amerika Serikat dan negara-negara NATO, baik dalam bentuk senjata maupun bantuan militer, untuk menghadapi agresi Rusia.

Berikut ini adalah perkembangan terbaru konflik Rusia–Ukraina.

  • Prajurit Ukraina Tewas Terkena Rudal Rusia Saat Akan Terima Penghargaan

Prajurit Ukraina berusia 43 tahun, Volodymyr Sviatnenko, tewas akibat serangan Rusia di wilayah Dnipropetrovsk pada 1 November. 

Ia dilaporkan meninggal saat menghadiri upacara pemberian penghargaan di lapangan terbuka, yang kemudian diserang rudal balistik Rusia.

Korps Marinir ke-30 Angkatan Laut Ukraina mengonfirmasi insiden tersebut dan menyatakan bahwa serangan terjadi di permukiman tanpa fasilitas militer. 

Komando korps telah memulai penyelidikan internal, dan beberapa pejabat telah dicopot sementara dari jabatan mereka.

Kejaksaan Khusus Dnipropetrovsk juga membuka penyelidikan atas dugaan kelalaian militer dalam mengatur pertemuan prajurit di area berisiko. 

Serangan itu menewaskan serta melukai personel militer dan warga sipil, dengan dugaan penggunaan dua rudal balistik dan tiga drone kamikaze oleh Rusia, lapor Suspilne.

  • Ukraina Siapkan Kontrak Baru bagi Prajurit dengan Jaminan dan Gaji Lebih Baik

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan pemerintah Ukraina sedang menyiapkan sistem kontrak baru bagi prajurit berpengalaman agar mereka dapat terus bertugas secara sukarela setelah masa mobilisasi. 

Kontrak ini akan memiliki durasi fleksibel antara satu hingga lima tahun dengan jaminan persyaratan layanan yang jelas.

Zelenskyy menegaskan bahwa pemerintah ingin mempertahankan personel militer setelah perang berakhir dan sedang menyiapkan skema pendanaan yang adil untuk sistem ini. 

Menteri Pertahanan Denys Shmyhal menambahkan bahwa kontrak baru akan mencakup kenaikan gaji bulanan, bonus penandatanganan, dan peningkatan fasilitas sosial. 

Selain itu, bagi kontrak 2–5 tahun, akan diberikan penundaan mobilisasi selama satu tahun setelah masa kontrak berakhir, lapor Suspilne.

  • Ukraina Targetkan Produksi 800 Drone Pencegat per Hari Akhir November

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan bahwa pada akhir November 2025, Ukraina menargetkan produksi 600–800 drone pencegat per hari. 

Ia menyebut target ini sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan udara negara di tengah serangan Rusia.

Zelenskyy menegaskan bahwa meski ada kendala pasokan komponen, semua perusahaan yang memproduksi senjata jarak jauh masih beroperasi. 

Ia juga menyoroti bahwa drone kamikaze Shahed kini menjadi ancaman lebih serius dibanding rudal balistik, sehingga Ukraina terus meningkatkan produksi dan penggunaan drone pencegat, termasuk model yang memiliki sistem pelacakan otomatis (homing).

  • Trump: AS Belum Pertimbangkan Kirim Rudal Tomahawk ke Ukraina

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan ia belum benar-benar mempertimbangkan untuk mengirimkan rudal jelajah jarak jauh Tomahawk ke Ukraina, meski laporan CNN menyebut Pentagon telah menyetujui opsi tersebut. 

Trump menegaskan belum siap mengambil langkah itu dan menilai pengiriman senjata tidak akan menyelesaikan perang.

"Tidak, tidak juga. Bisa saja terjadi, bisa saja berubah, tapi saat ini, saya belum siap," kata Trump.

Ia juga menyarankan agar Rusia dan Ukraina “dibiarkan berjuang hingga siap berdamai,” seraya menolak menetapkan batas waktu untuk mengakhiri perang. 

Sementara itu, Rusia memperingatkan bahwa pengiriman rudal Tomahawk akan merusak hubungan bilateral dan tidak akan mengubah situasi di medan perang.

"Sebagaimana situasi saat ini dan tahun-tahun sebelumnya telah menunjukkan, jelas bahwa militerisasi dan pengiriman senjata – terutama kepada rezim teroris – tidak akan menghasilkan penyelesaian. Lebih lanjut, tindakan tersebut akan bertentangan dengan janji kampanye yang dibuat oleh pemerintahan AS saat ini," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova mengomentari laporan tersebut.

Trump sebelumnya berjanji menengahi perdamaian antara Kyiv dan Moskow, namun hingga kini upaya negosiasi tersebut belum menunjukkan hasil nyata, lapor Russia Today.

  • Italia Siapkan Paket Bantuan Militer ke-12 untuk Ukraina

Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang menyiapkan paket bantuan militer ke-12 untuk Ukraina sejak invasi Rusia dimulai pada 2022. 

Ia menegaskan bahwa posisi Italia tetap mendukung Ukraina dan bantuan baru akan disusun tanpa melemahkan pertahanan nasional.

Sejak awal perang, Italia telah mengirim 11 paket bantuan dengan nilai total sekitar 2,5–3 miliar Euro, termasuk dua baterai pertahanan udara SAMP/T. 

Paket ke-12 ini diperkirakan akan siap pada akhir 2025. Italia juga menyatakan kesiapannya bergabung dengan inisiatif NATO Daftar Persyaratan Ukraina yang Diprioritaskan (PURL) untuk pengadaan senjata seperti rudal Patriot dengan dana Eropa.

  • Ukraina Terima Sistem Pertahanan Udara Patriot Tambahan dari Jerman

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan bahwa Kiev telah menerima tambahan sistem pertahanan udara Patriot buatan AS yang dikirim oleh Jerman. 

Dalam unggahan di X, Zelenskyy berterima kasih kepada Kanselir Jerman Friedrich Merz dan menegaskan bahwa sistem tersebut sudah mulai beroperasi di Ukraina.

Ia menambahkan bahwa Ukraina masih membutuhkan lebih banyak sistem pertahanan udara untuk melindungi infrastruktur vital dan kota-kota utama, serta terus berupaya mendapatkannya melalui kerja sama politik dan langsung dengan produsen.

Sementara itu, Rusia mengklaim telah menghancurkan sekitar 40 peluncur Patriot sejak 2023 dan menilai bantuan militer Barat tidak akan mengubah situasi di medan perang. 

Ukraina sebelumnya menyebut tengah menyiapkan kontrak untuk 25 sistem Patriot baru, yang kemungkinan akan didanai melalui pinjaman Uni Eropa menggunakan aset Rusia yang dibekukan, lapor Pravda.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas