Eropa Khawatir AS akan 'Khianati' Mereka dan Paksa Ukraina Menyerah
Perang Rusia–Ukraina kini memasuki hari ke-1.381. Eropa khawatir AS dapat memaksa Ukraina dalam perundingan untuk mengakhiri perang dengan Rusia.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Majalah Jerman melaporkan bahwa para pemimpin negara Eropa khawatir dengan sikap Amerika Serikat dalam upaya perundingan dengan Rusia.
- Eropa menyebut posisi Ukraina sangat berbahaya setelah AS mengajukan 28 poin rencana perdamaian.
- Perang Rusia–Ukraina kini memasuki hari ke-1.381 ketika delegasi Ukraina melanjutkan diskusi dengan tim AS di Amerika.
TRIBUNNEWS.COM - Mitra dekat Ukraina, negara-negara Eropa, memperingatkan negara yang sedang berperang dengan Rusia itu, Amerika Serikat (AS) mungkin bisa memaksa mereka menyerah.
Majalah Jerman, Der Spiegel, menulis laporan yang disebut sebagai "bocoran informasi" tentang panggilan telepon antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan beberapa pemimpin negara Eropa.
"(Presiden Prancis) Emmanuel Macron dilaporkan telah memperingatkan Volodymyr Zelenskyy bahwa ada kemungkinan AS akan mengkhianati Ukraina di wilayah, tanpa kejelasan tentang jaminan keamanan," lapor majalah Jerman Der Spiegel pada hari Kamis (4/12/2025).
Der Spiegel mengatakan pihaknya memperoleh ringkasan bahasa Inggris dari panggilan telepon hari Senin (1/12/2025).
Inti panggilan telepon itu adalah keraguan Eropa mengenai kedekatan AS dengan Rusia mengenai pembicaraan terkait rencana perdamaian untuk mengakhiri perang.
Presiden Prancis menggambarkan fase negosiasi yang menegangkan saat ini sebagai "bahaya besar" bagi presiden Ukraina yang sedang berjuang.
Sementara Kanselir Jerman, Friedrich Merz, dilaporkan menambahkan pemimpin Ukraina perlu sangat berhati-hati.
"Mereka mempermainkan Anda dan kami," kata Friedrich Merz berbicara tentang delegasi AS yang ke Rusia minggu ini, menurut laporan tersebut.
Rombongan delegasi tersebut termasuk utusan Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner.
Majalah Der Spiegel mengatakan para pemimpin lain yang juga anggota NATO, menyuarakan kekhawatiran mereka mengenai sikap mitranya, AS.
Salah satunya Presiden Finlandia Alexander Stubb, yang dekat dengan Trump lewat golf, dilaporkan memperingatkan mereka, "Kita tidak boleh meninggalkan Ukraina dan Volodymyr (Zelenskyy) sendirian dengan orang-orang ini."
Baca juga: Inggris Gandeng Norwegia, Negara-negara NATO Bakal Memburu Kapal Selam Rusia di Atlantik Utara
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte juga dilaporkan mengatakan dia setuju dengan pemimpin Finlandia bahwa mereka perlu melindungi Zelenskyy.
Pihak majalah Der Spiegel mencoba berbicara dengan "beberapa" peserta panggilan tersebut, yang mengonfirmasi bahwa panggilan tersebut memang terjadi, dua di antaranya mengatakan bahwa pernyataan tersebut benar.
Sementara itu pemerintah Ukraina menolak berkomentar mengenai laporan tersebut, lapor The Guardian.
Ukraina saat ini berupaya meyakinkan AS, sebagai penengah dalam perundingan dengan Rusia, agar perang dapat diakhiri tanpa syarat yang merugikan negaranya.
Bulan lalu, AS menyerahkan proposal perdamaian baru yang konon disusun dengan Rusia dan memuat 28 poin, kepada Ukraina.
Ukraina mengonfirmasi kabar itu, yang disusul dengan rencana delegasi Ukraina ke AS dan pertemuan delegasi AS dengan Presiden Rusia Putin di Kremlin.
Update Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia–Ukraina kini memasuki hari ke-1.381 pada Jumat (5/12/2025), menandai berlanjutnya konflik panjang yang berawal dari invasi besar-besaran Rusia pada 24 Februari 2022.
Peringatan serangan udara dibunyikan di Kyiv pada pukul 01.47 waktu setempat, sebelum berakhir beberapa menit kemudian.
Perang tersebut berakar sejak bubarnya Uni Soviet pada 1991.
Setelah merdeka, Ukraina berada dalam dilema strategis untuk mempertahankan keterikatan historis dengan Rusia atau menjalin hubungan lebih erat dengan negara-negara Barat.
Perbedaan orientasi politik, persoalan perbatasan, hingga upaya membangun identitas nasional memperburuk hubungan kedua negara.
Ketegangan memuncak pada 2014 melalui Revolusi Maidan, ketika gelombang protes besar menumbangkan presiden Ukraina yang dianggap pro-Moskow.
Tak lama setelah itu, Rusia menganeksasi Krimea dan memberikan dukungan kepada kelompok separatis di wilayah Donbas, memicu konflik berkepanjangan di Ukraina timur.
Situasi kembali memburuk pada 2022. Dengan alasan melindungi warga etnis Rusia serta mencegah Ukraina masuk ke NATO, Moskow melancarkan invasi besar-besaran yang kemudian dikecam oleh banyak negara.
Sebagai respons, Ukraina menggalang dukungan internasional—terutama dari Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO—untuk memperkuat pertahanan dan mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
Seiring perkembangan situasi, berikut adalah berita terbaru mengenai perang Rusia–Ukraina.
-
Zelenskyy Gali Info soal Perundingan Delegasi AS dan Putin
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengirim timnya ke Washington untuk melanjutkan diskusi dengan AS mengenai rencana perdamaian.
Dalam pidato malamnya, Zelenskyy menegaskan timnya akan mencari informasi tentang diskusi antara delegasi AS dan Presiden Rusia Putin di Kremlin pada 2 Desember lalu.
"Hari ini, perwakilan Ukraina akan melanjutkan diskusi mereka di Amerika Serikat dengan tim Presiden Trump. Tugas kita sekarang adalah mendapatkan informasi lengkap tentang apa yang dikatakan di Rusia dan dalih lain apa yang diajukan Putin untuk memperpanjang perang dan menekan Ukraina – untuk menekan kita, kemerdekaan kita," kata Zelenskyy, dikutip dari Pravda pada hari Kamis.
Pemimpin Ukraina itu menyerukan kepada mitra Ukraina agar terus membantu negaranya hingga perang berakhir dan keamanan terjamin.
Militer Ukraina dari unit "Hantu" dikabarkan berhasil menghancurkan jet tempur MiG-29 Rusia di wilayah lapangan terbang militer Kacha di Krimea yang diduduki.
"Pasukan khusus GUR terus secara sistematis melemahkan sistem pertahanan udara Moskow di semenanjung yang diduduki sementara, menghancurkan radar, sistem antipesawat, dan kini juga pesawat tempur Angkatan Bersenjata Rusia," demikian bunyi laporan Kementerian Pertahanan Ukraina.
Sebelum serangan itu, Gubernur Sevastopol yang dipasang Rusia, Mykhailo Razvozhayev, melaporkan adanya peringatan serangan udara pada hari Kamis.
Menurutnya, dua target udara ditembak jatuh di atas laut pada jarak yang cukup jauh dari pantai di sisi utara.
-
Belanda akan Beri Bantuan Militer untuk Ukraina
Belanda lagi-lagi menggelontorkan bantuan militer untuk Ukraina.
Kali ini, pemerintah Belanda akan mengalokasikan 35 juta euro untuk mendukung Angkatan Bersenjata Ukraina selama musim dingin.
Dana fantastis tersebut akan digunakan untuk membiayai pasokan dan peralatan medis.
"Hari ini, Belanda mengumumkan alokasi dana sebesar 35 juta euro melalui UCAP untuk membiayai pasokan medis, peralatan, dan dukungan praktis lainnya guna membantu pasukan Ukraina bertahan hidup di musim dingin," tulis Menteri Luar Negeri Belanda, David van Wiel di platform X pada hari Kamis.
Pada 1 Desember lalu, Belanda mengumumkan akan mengalokasikan 250 juta euro kepada Ukraina untuk pasokan senjata di bawah program PURL.
Dalam kerangka pendanaan ini, Belanda membeli sistem pertahanan udara dan amunisi untuk pesawat tempur F-16 dari AS untuk kebutuhan Angkatan Bersenjata Ukraina.
Pada bulan Oktober, Belanda mengumumkan paket bantuan senilai 200 juta euro untuk Ukraina, yang akan digunakan untuk membeli sistem anti-drone, lapor Suspilne.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.