Perang Thailand-Kamboja Terus Memanas, Menlu Thailand: Bukan Bangkok yang Memulai
Ledakan artileri, roket serta serangan udara memaksa lebih dari 500 ribu warga sipil dari kedua negara mengungsi menjadikan konflik bereskalasi parah.
Editor:
willy Widianto
Ringkasan Berita:
- Lebih dari 500.000 orang mengungsi akibat pertempuran tersebut.
- Militer Thailand juga melaporkan bahwa roket yang ditembakkan dari Kamboja telah mendarat di dekat Rumah Sakit Phanom Dong Rak di Surin pada Rabu pagi.
- Di negara tetangga Kamboja sebanyak 101.229 orang telah dievakuasi ke tempat penampungan yang aman dan rumah kerabat di lima provinsi kata juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja, Maly Socheata.
TRIBUNNEWS.COM, BANGKOK – Ketegangan di kawasan Asia Tenggara kembali memanas setelah bentrokan bersenjata antara Thailand dan Kamboja di wilayah perbatasan memasuki hari ketiga tanpa tanda-tanda mereda. Dentuman artileri, roket, dan serangan udara memaksa lebih dari 500.000 warga sipil dari kedua negara mengungsi, menjadikan konflik ini sebagai salah satu eskalasi paling serius dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Kamboja Tembakkan Sejumlah Rudal ke Desa di Thailand
Situasi kian mendapat sorotan internasional setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan turun tangan langsung dengan melakukan panggilan telepon guna menghentikan pertempuran, menyusul gagalnya gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi pada Oktober 2025.
Para pejabat dari Thailand dan Kamboja pada Rabu (10/12/2025) saling melontarkan tuduhan sebagai pihak pemicu konflik. Bentrokan sepanjang pekan ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 13 tentara dan warga sipil, serta memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah demi keselamatan.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri mengungkapkan bahwa skala evakuasi terus membesar seiring meningkatnya ancaman di wilayah perbatasan.
“Lebih dari 400.000 orang telah dipindahkan ke tempat penampungan yang aman di tujuh provinsi,” kata Surasant dalam konferensi pers pada Rabu.
Ia menambahkan bahwa evakuasi besar-besaran dilakukan karena situasi dinilai sebagai ancaman langsung terhadap keselamatan warga sipil.
Militer Thailand juga melaporkan bahwa roket yang ditembakkan dari wilayah Kamboja mendarat di sekitar Rumah Sakit Phanom Dong Rak di Provinsi Surin pada Rabu pagi. Insiden tersebut memaksa pasien serta tenaga medis berlindung di bunker darurat.
Sementara itu, di sisi Kamboja, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Nasional, Maly Socheata, menyebut sedikitnya 101.229 warga telah dievakuasi ke tempat aman dan rumah kerabat di lima provinsi yang berbatasan dengan Thailand.
Laporan media di kedua negara turut mengonfirmasi eskalasi militer. Cambodianess, situs yang dioperasikan Cambodian Media Broadcasting Corporation, melaporkan bahwa jet tempur F-16 milik Thailand menyerang dua wilayah di Kamboja, sementara penembakan artileri terus berlangsung di tiga wilayah lainnya.
Di sisi lain, portal berita Matichon Online melaporkan bahwa Angkatan Udara Thailand mengerahkan F-16 untuk menyerang “satu target militer Kamboja” di sepanjang perbatasan pada Rabu pagi.
Menurut surat kabar The Nation, yang mengutip sumber militer Thailand, roket dan artileri Kamboja menargetkan sedikitnya 12 titik garis depan di empat provinsi Thailand. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa tambahan akibat serangan tersebut.
Koresponden Al Jazeera, Rob McBride, yang melaporkan dari Provinsi Surin, mengatakan bahwa militer Thailand menyebut pertempuran kini terjadi di hampir seluruh provinsi perbatasan.
“Di Surin saja, terjadi baku tembak di lima lokasi berbeda, dan ribuan warga telah dievakuasi,” ujar McBride.
Ia menambahkan, kawasan perbatasan kini nyaris kosong.
“Sebagian besar orang telah meninggalkan tempat ini. Ratusan ribu warga di kedua sisi perbatasan kini mencari perlindungan, seperti yang pernah mereka lakukan pada konflik sebelumnya,” katanya.
Menurut McBride, pemerintah Thailand menegaskan keinginannya untuk damai, namun menilai keamanan warga belum dapat dipastikan selama serangan masih berlangsung.
Sementara itu dari Oddar Meanchey, barat laut Kamboja, koresponden Al Jazeera Barnaby Lo melaporkan kondisi pengungsian yang memprihatinkan. Di salah satu kamp yang menampung sekitar 10.000 pengungsi, banyak warga terpaksa berlindung di bawah tenda darurat dari terpal biru, sementara lainnya bahkan tidak memiliki perlindungan dari panas dan hujan.
“Banyak warga mengatakan bantuan yang tersedia tidak mencukupi,” ujar Lo.
Baca juga: Ibu dan Bayinya Sembunyi di Selokan Hindari Tembakan Tentara Thailand
Ia menambahkan bahwa ketakutan menjadi masalah terbesar di kalangan pengungsi.
“Ada kekhawatiran besar bahwa kekerasan akan meluas. Bahkan saat kami berada beberapa kilometer dari lokasi pertempuran, ledakan masih terdengar, membuat orang-orang bersiap untuk kembali berpindah,” katanya.
Lo juga mengungkap bahwa Ketua Senat Kamboja sekaligus mantan perdana menteri Hun Sen telah menyarankan adanya serangan balasan, sehingga konflik diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Bentrokan pekan ini tercatat sebagai yang paling mematikan sejak konflik lima hari pada Juli lalu, yang menewaskan puluhan orang dan menyebabkan sekitar 300.000 warga mengungsi, sebelum gencatan senjata rapuh disepakati melalui intervensi Presiden AS Donald Trump. Trump kembali menegaskan niatnya untuk menghentikan konflik.
“Saya harus melakukan panggilan telepon. Siapa lagi yang bisa mengatakan akan menghentikan perang antara dua negara yang sangat kuat, Thailand dan Kamboja,” kata Trump dalam pidato kampanye di Pennsylvania, AS Selasa malam waktu setempat.
Namun, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan belum melihat adanya peluang negosiasi, seraya menegaskan bahwa Bangkok tidak memulai bentrokan tersebut.
Sementara Kementerian Pertahanan Kamboja menuding Thailand melakukan penembakan “secara brutal dan membabi buta” ke wilayah sipil, tuduhan yang dibantah keras oleh pihak Thailand.
Sebagai sinyal memburuknya hubungan bilateral, Kamboja juga mengumumkan penarikan diri dari Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games) yang tengah berlangsung di Thailand, dengan alasan kekhawatiran keamanan.
Baca juga: Jet Tempur F-16 Thailand Ledakkan Kasino Milik Kamboja, Dituding Sudah Alih Fungsi Jadi Pusat Drone
Konflik berkepanjangan ini berakar dari sengketa perbatasan sepanjang 800 kilometer, warisan era kolonial, serta klaim tumpang tindih atas kuil-kuil bersejarah di wilayah yang belum ditetapkan secara permanen sebuah persoalan lama yang kerap memicu bentrokan bersenjata di antara dua negara tetangga tersebut.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.