Perang Meletus, 100.000 Warga Kamboja Angkat Kaki Tinggalkan Rumah
Konflik memanas di perbatasan Thailand–Kamboja. Lebih dari 100.000 warga mengungsi, ribuan lainnya dievakuasi, sementara bentrokan terus meluas.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Konflik bersenjata di sekitar wilayah sengketa Kuil Preah Vihear kembali meledak, memaksa lebih dari 100.000 warga Kamboja meninggalkan rumah akibat serangan artileri, jet, dan drone.
- Thailand mengevakuasi sekitar 3.000–5.000 warga dari desa-desa dekat garis tembak di Si Sa Ket, Surin, dan Sa Kaeo, menyusul rentetan ledakan yang merembet ke kawasan permukiman.
- Dalam sepekan, sedikitnya 13 orang termasuk tentara dan warga sipil tewas. Kedua negara saling tuduh melanggar gencatan senjata.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja memasuki fase paling berbahaya dalam satu dekade terakhir, memaksa ratusan warga angkat kaki dari wilayahnya.
Setidaknya lebih dari 100.000 warga Kamboja terpaksa mengungsi pada Rabu (10/12/2025) setelah konflik bersenjata kembali pecah di wilayah sengketa yang telah diperebutkan selama seabad.
Adapun wilayah sengketa yang dimaksud merujuk pada area di sekitar Kuil Preah Vihear, sebuah kompleks candi bersejarah yang terletak di perbatasan Thailand–Kamboja.
Zona ini telah lama menjadi titik panas karena kedua negara mengklaim kepemilikan atas sebagian wilayah di sekitar kuil, terutama daerah penyangga dan tebing curam di sisi utara kompleks.
Meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) pada 1962 menetapkan bahwa kuil berada di wilayah Kamboja, wilayah di sekelilingnya termasuk area kecil seluas sekitar 4,6 km2 tetap menjadi sumber perselisihan.
Sengketa inilah yang memicu bentrokan berkala, bahkan beberapa hari terakhir ledakan artileri, serangan udara, dan tembakan drone terdengar bersahutan dari arah kompleks kuil kuno yang menjadi pusat klaim kedua negara.
Situasi tersebut yang kemudian mendorong masyarakat sipil melarikan diri ke pagoda, sekolah, rumah kerabat, dan tempat perlindungan darurat lainnya.
Di Samraong, Kamboja barat laut, jurnalis AFP melaporkan deretan keluarga meninggalkan pagoda tempat mereka berlindung sejak Senin (8/12/2025).
Suasana berubah kacau ketika otoritas memperingatkan bahwa lokasi itu sudah tidak aman lagi setelah pesawat tempur Thailand terbang rendah di sekitar area tersebut.
“Kami harus pergi sekarang. Tempat ini bisa kena serangan,” ujar Seut Soeung, 30 tahun, sambil menepi di pinggir jalan bersama keluarganya dan tumpukan barang seadanya.
Thailand Mulai Evakuasi Warga
Tak hanya di Kamboja, otoritas Thailand juga melaporkan perpindahan penduduk dari beberapa desa di Provinsi Si Sa Ket dan Surin yang berada dekat garis tembak.
Pemerintah Thailand belum merilis angka pasti, tetapi pejabat keamanan setempat memperkirakan 3.000 hingga 5.000 warga telah meninggalkan rumah mereka sejak serangan artileri mulai merembet ke permukiman yang berdekatan dengan area sengketa Preah Vihear.
Meski sebagian warga konflik ini bukan pengalaman pertama. Niam Poda, petani tebu 62 tahun dari Sa Kaeo, Thailand, mengatakan ia terpaksa mengungsi untuk kedua kalinya dalam lima bulan.
“Saya sedang mencuci pakaian ketika ledakan besar terdengar. Saya hanya sempat mengambil beberapa baju. Saya berharap bisa kembali mengurus tebu saya dengan tenang,” katanya.
Otoritas lokal menyebutkan saat ini jumlah pengungsi tidak sebesar di Kamboja, akan tetapi perpindahan tersebut menunjukkan eskalasi serius di lapangan.
Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan terjadi, pemerintah pusat mengklaim telah menyiagakan tambahan unit medis dan logistik di wilayah perbatasan untuk mengantisipasi lonjakan pengungsi jika baku tembak kembali meningkat.
Dengan situasi yang belum stabil, Bangkok menyatakan fokus utamanya adalah menjaga keselamatan warga sebelum mempertimbangkan langkah diplomasi lebih lanjut.
Konflik yang terus melebar meningkatkan kekhawatiran bahwa jumlah pengungsi dari kedua negara bisa bertambah secara signifikan jika gencatan senjata tidak segera tercapai.
Bentrokan Memasuki Pekan Berdarah, Korban Tewas Bertambah
Berdasarkan laporan pejabat keamanan dan tim medis di kedua negara yang dikutip dari CNA, setidaknya 13 orang tewas dalam sepekan terakhir, termasuk tentara dan warga sipil yang terkena serangan artileri.
Ketegangan memuncak awal pekan lalu setelah kedua negara saling menuduh melanggar gencatan senjata hasil mediasi internasional.
Insiden pertama terjadi ketika pasukan Thailand melaporkan tembakan mortir dari wilayah Kamboja yang jatuh di desa perbatasan.
Kamboja membantah tuduhan tersebut dan mengklaim bahwa Thailand lebih dulu memulai tembakan.
Selang dua hari kemudian, bentrokan kembali pecah di tiga titik sepanjang perbatasan 817 kilometer.
Senjata berat, artileri jarak jauh, dan kendaraan lapis baja dilaporkan digunakan oleh kedua pihak.
Serangan tersebut mengenai sejumlah pemukiman, memaksa ribuan warga Thailand dan lebih dari 100.000 warga Kamboja mengungsi.
Hingga kini kedua negara masih berada dalam posisi saling serang ringan, meskipun intensitasnya menurun pada dua hari terakhir.
Analis militer memperingatkan bahwa tanpa komitmen gencatan senjata baru, potensi pecahnya bentrokan besar kembali tetap tinggi dan dapat memperluas jumlah korban.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.