Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-1.398: Sumy Memanas, Ukraina Bantah Rusia Kuasai Desa Perbatasan
Tentara Ukraina melaporkan pertempuran sengit melawan upaya terobosan pasukan Rusia di wilayah Sumy pada Minggu (21/12/2025).
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1.398 pada Senin (22/12/2025) dengan pertempuran masih berlangsung di sejumlah wilayah.
- Ukraina melaporkan bentrokan sengit di Sumy dan membantah klaim Rusia menguasai desa perbatasan, di tengah laporan pemindahan paksa warga sipil.
- Di sisi diplomasi, AS dan Ukraina menyebut pembicaraan di Miami produktif namun tanpa terobosan.
- Kremlin membantah rencana perundingan tiga pihak dan mengkritik revisi proposal damai AS.
TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia–Ukraina telah memasuki hari ke-1.398 pada Senin (22/12/2025).
Konflik panjang ini berawal dari ketegangan yang tersisa setelah bubarnya Uni Soviet pada 1991.
Sejak Ukraina menyatakan kemerdekaannya, hubungan dengan Moskow tidak pernah sepenuhnya stabil, diselimuti perebutan pengaruh dan saling curiga di ranah politik maupun keamanan.
Puncak friksi muncul pada 2014, ketika Revolusi Euromaidan menggulingkan pemerintah Ukraina yang dianggap dekat dengan Rusia.
Tak lama kemudian, Rusia menganeksasi Krimea dan memberi dukungan kepada kelompok separatis di kawasan Donbas.
Ketegangan tersebut, berubah menjadi perang besar pada Februari 2022, saat Rusia melancarkan invasi penuh ke wilayah Ukraina.
Hingga kini, pertempuran masih berlangsung tanpa kejelasan kapan akan berakhir.
Tentara Ukraina melaporkan pertempuran sengit melawan upaya terobosan pasukan Rusia di wilayah Sumy pada Minggu (21/12/2025).
Konflik yang sebelumnya dipandang sebagai persoalan perebutan wilayah kini berkembang menjadi pertarungan kepentingan geopolitik, persaingan narasi kekuatan global, serta taruhan masa depan tatanan keamanan internasional.
Sejumlah analis menilai akar permasalahan sangat rumit, sehingga jalan menuju perdamaian masih tampak jauh dan penuh rintangan.
Berikut rangkuman perkembangan terbaru perang Rusia–Ukraina pada hari ke-1.398 pada Senin (22/12/2025):
Baca juga: Jenderal Ukraina Sebut Perang Dunia III Bisa Pecah dalam Setahun, Putin Akan Menyerang 3 Negara NATO
Sumy Memanas, Ukraina Bantah Rusia Kuasai Desa Perbatasan
Tentara Ukraina melaporkan pertempuran sengit melawan upaya terobosan pasukan Rusia di wilayah Sumy pada Minggu (21/12/2025).
Bentrok terjadi setelah muncul laporan bahwa Moskow secara paksa memindahkan sekitar 50 warga sipil dari sebuah desa perbatasan.
Perkembangan ini menandai kemajuan baru Rusia di wilayah yang sebagian besar terhindar dari pertempuran darat intens sejak Ukraina merebut kembali wilayah tersebut pada serangan balasan 2022.
Gugus tugas gabungan Ukraina mengatakan pertempuran saat ini berlangsung di desa Grabovske.
Pasukan Ukraina disebut berupaya mengusir tentara Rusia kembali ke wilayah Rusia.
Militer Ukraina juga membantah laporan media yang menyebut pasukan Rusia telah memasuki desa Ryasne yang berdekatan.
Sebelumnya, ombudsman hak asasi manusia Ukraina menyatakan pasukan Rusia memindahkan paksa sekitar 50 orang dari Grabovske ke Rusia.
Hingga kini belum ada komentar resmi dari pihak Rusia.
Pada Sabtu (20/12/2025), militer Rusia mengklaim telah merebut desa Vysoke yang terletak tidak jauh dari Grabovske.
AS–Ukraina Klaim Pembicaraan Miami Produktif
Utusan Amerika Serikat dan Ukraina mengeluarkan pernyataan bersama pada Minggu (21/12/2025) terkait pembicaraan di Miami, dilansir The Guardian.
Kedua pihak menyebut pertemuan tersebut berlangsung produktif dan konstruktif.
Namun, tidak ada terobosan nyata yang diumumkan dalam upaya mengakhiri invasi Rusia ke Ukraina.
Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, menyatakan delegasi Ukraina telah menggelar serangkaian pertemuan selama tiga hari di Florida.
Baca juga: Rusia Akhiri Perjanjian Pasca-Soviet dengan Eropa, Zelensky: Pemilu Ukraina Bukan Urusan Putin
Pertemuan tersebut melibatkan mitra Amerika dan Eropa.
Negosiator utama Ukraina, Rustem Umerov, menyampaikan pernyataan serupa melalui media sosial X.
Witkoff menegaskan prioritas bersama adalah menghentikan pembunuhan dan memastikan keamanan yang terjamin.
Ia menambahkan bahwa perdamaian harus menjadi fondasi bagi stabilitas dan kemakmuran jangka panjang Ukraina.
Kremlin Bantah Opsi Perundingan Tiga Pihak
Kremlin pada Minggu (21/12/2025) membantah bahwa pembicaraan tiga pihak antara Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat sedang dipertimbangkan.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Washington mengusulkan format trilateral.
Usulan tersebut berpotensi menjadi negosiasi tatap muka pertama antara Moskow dan Kyiv dalam enam bulan terakhir.
Namun Zelenskyy menyatakan skeptisisme bahwa format tersebut akan menghasilkan kemajuan.
Kantor berita Rusia melaporkan ajudan kebijakan luar negeri Presiden Vladimir Putin, Yuri Ushakov, menolak adanya persiapan pembicaraan tersebut.
Ushakov mengatakan tidak ada pihak yang secara serius membahas inisiatif itu.
Baca juga: Gagal Pakai Aset Rusia, Uni Eropa Beri Pinjaman 90 Miliar Euro ke Ukraina
Sementara itu, perwakilan Rusia dilaporkan berada di Florida selatan untuk berdiskusi dengan AS mengenai Ukraina.
Seorang utusan Kremlin pada Sabtu (20/12/2025) menyebut pembicaraan bilateral tersebut berlangsung secara konstruktif.
Rusia Kritik Revisi Proposal Perdamaian AS
Rusia kembali mengkritik upaya Eropa dan Ukraina untuk mengubah proposal Amerika Serikat guna mengakhiri perang di Ukraina.
Moskow menilai perubahan tersebut tidak meningkatkan prospek perdamaian.
Ajudan Presiden Rusia, Yuri Ushakov, mengatakan revisi yang diusulkan justru berpotensi memperpanjang konflik.
Ia menyebut proposal dari Eropa dan Ukraina tidak memperbaiki rencana Washington.
Ushakov menambahkan bahwa perubahan itu tidak meningkatkan peluang tercapainya perdamaian jangka panjang.
Ia mengaku belum melihat secara detail proposal yang dimaksud.
Ushakov menegaskan bahwa pernyataannya bukanlah sebuah ramalan.
Intelijen AS: Putin Masih Ingin Kuasai Ukraina
Laporan intelijen Amerika Serikat memperingatkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin belum meninggalkan ambisinya di Ukraina.
Intelijen menilai Putin masih ingin merebut seluruh wilayah Ukraina.
Selain itu, ia disebut berupaya merebut kembali sebagian wilayah Eropa yang pernah berada di bawah kekuasaan Soviet.
Laporan tersebut dikutip Reuters dari enam sumber yang mengetahui isi intelijen AS.
Salah satu sumber menyebut laporan terbaru berasal dari akhir September.
Baca juga: Serangan Ratusan Drone Ukraina Sasar 7 Wilayah Rusia: Rostov dan Oryol Tanpa Listrik di Musim Dingin
Penilaian intelijen ini bertentangan dengan pernyataan Putin yang membantah menjadi ancaman bagi Eropa.
Anggota Komite Intelijen DPR AS dari Partai Demokrat, Mike Quigley, mengatakan intelijen secara konsisten menunjukkan ambisi teritorial Rusia.
Ia menambahkan bahwa negara-negara Eropa Timur, termasuk Polandia dan negara Baltik, sangat yakin akan ancaman tersebut.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.