Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Reporter New York Times Seret Google AI, xAI, dan OpenAI ke Pengadilan

Perusahaan-perusahaan AI kenamaan tersebut dituding membajak buku-buku mereka dan memasukkannya ke dalam model bahasa besar (LLM)

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Bobby W
Editor: Endra Kurniawan
zoom-in Reporter New York Times Seret Google AI, xAI, dan OpenAI ke Pengadilan
Freepik.com/rawpixel.com
ILUSTRASI AI - Ilustrasi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang diunduh dari laman freepik.com, Rabu (4/6/2025). Berikut top 10 perusahaan AI yang memimpin pasar dunia. 
Ringkasan Berita:
  • Jurnalis investigasi John Carreyrou menggugat sejumlah perusahaan AI besar (termasuk xAI, OpenAI, Google, dan Meta) atas dugaan penggunaan buku berhak cipta tanpa izin untuk melatih model AI.
  • Gugatan diajukan di pengadilan federal California bersama lima penulis lain, menuduh karya mereka dimasukkan ke dalam model bahasa besar (LLM).
  • Kasus ini menambah daftar sengketa hak cipta AI, sekaligus menjadi gugatan pertama yang melibatkan xAI sebagai tergugat.

TRIBUNNEWS.COM - Seorang jurnalis investigasi New York Times sekaligus penulis buku "Bad Blood," John Carreyrou, resmi menggugat xAI, Anthropic, Google, OpenAI, Meta Platforms, dan Perplexity ke pengadilan pada hari Senin (22/12/2025) waktu setempat.

Jurnalis yang terkenal karena mengungkap skandal perusahaan pelayanan kesehatan Theranos pada 2018 ini mengadukan perusahaan-perusahaan tersebut ke pengadilan lantaran dugaan penggunaan buku-buku berhak cipta karyanya tanpa izin untuk melatih sistem kecerdasan buatan mereka.

Adapun John Carreyrou mengajukan gugatan tersebut di pengadilan federal California bersama lima penulis lainnya.

Mereka menuduh perusahaan-perusahaan AI kenamaan tersebut telah membajak buku-buku mereka dan memasukkannya ke dalam model bahasa besar atau Large Language Mode (LLM).

LLM sendiri adalah model kecerdasan buatan yang dirancang untuk memahami dan menghasilkan bahasa manusia secara alami.

Model LLM ini dilatih menggunakan data teks yang sangat besar dari berbagai sumber untuk mempelajari pola, struktur, dan makna dalam bahasa.

Penggunaan karya-karta John Carreyrou beserta lima penulis lainnya tanpa izin oleh perusahaan-perusahaan AI untuk melatih LLM inilah yang menjadi pokok permasalahan pengaduan.

Rekomendasi Untuk Anda

Gugatan ini diajukan karena Carreyrou dan penggugat lainnya menilai karya-karyanya tanpa izin digunakan melalui LLM sebagai penggerak chatbot perusahaan-perusahaan tersebut.

Adapun gugatan ini merupakan salah satu dari beberapa kasus hak cipta yang diajukan oleh penulis dan pemilik hak cipta lainnya terhadap perusahaan teknologi terkait penggunaan karya mereka dalam pelatihan AI. 

Dikutip dari Reuters, Kasus ini juga menjadi kali pertamanya xAI ditempatkan sebagai pihak tergugat. 

Hingga berita ini diunggah, perwakilan perusahaan-perusahaan tergugat belum memberikan tanggapan segera atas permintaan komentar mengenai gugatan ini.

Berbeda dengan kasus-kasus lain yang masih berlangsung, para penulis ini tidak berupaya menggabungkan gugatan mereka dalam satu tindakan kelas atau class action

Baca juga: Kementerian Ekraf Hadirkan Pelatihan Gig Economy dan AI Challenge untuk Gen Z di Jakarta

Classa Action adalah jenis tuntutan hukum yang diajukan oleh satu atau beberapa perwakilan kelompok (kelas) atas nama banyak orang yang memiliki klaim atau kerugian serupa terhadap tergugat yang sama.

Karena sifat tersebut, gugatan Class Action pun tidak digunakan oleh Carreyrou dan rekan-rekannya karena menurut mereka hal itu bisa menguntungkan tergugat.

Hal ini terjadi karena para tergugat dapat membuka opsi negosiasi penyelesaian tunggal dengan banyak penggugat sehingga ribuan klaim bernilai tinggi dapat diselesaikan oleh perusahaan besar tersebut dalam satu kesepakatan "murah".

"Perusahaan-perusahaan LLM seharusnya tidak dapat dengan mudah menghilangkan ribuan klaim bernilai tinggi dengan harga murah," demikian bunyi gugatan Carreyrou tersebut.

Di kasus sejenis sebelumnya, Anthropic selaku perusahaan AI mencapai penyelesaian masalah serupa dalam sengketa hak cipta pelatihan AI di bulan Agustus, dengan pembayaran senilai 1,5 miliar dolar kepada sekelompok penulis yang menuduh perusahaan tersebut membajak jutaan buku.

Gugatan baru ini menyatakan bahwa anggota kelas dalam kasus tersebut hanya akan menerima sebagian kecil (hanya 2 persen) dari batas maksimum Undang-Undang Hak Cipta yakni 150.000 dolar per karya yang dilanggar.

Untuk gugatan terbaru ini, Carreyrou dan rekan-rekannya menggandeng pengacara dari firma hukum Freedman Normand Friedland.

Baca juga: Bahasa Inggris Makin Krusial di Era AI, Indonesia Tetap di Peringkat 80 Dunia

Satu di antara anggota firma hukum tersebut adalah Kyle Roche, yang profilnya juga pernah ditulis oleh Carreyrou dalam artikel New York Times tahun 2023.

Selama sidang pada November dalam gugatan kelas Anthropic, Hakim Distrik Amerika Serikat William Alsup mengkritik firma hukum terpisah yang didirikan bersama Roche karena mengumpulkan penulis untuk mengundurkan diri dari penyelesaian demi mencari "kesepakatan yang lebih manis" 

Carreyrou mengatakan kepada hakim dalam sidang berikutnya bahwa mencuri buku untuk membangun AI merupakan "dosa asal" Anthropic dan bahwa penyelesaian tersebut belum cukup memadai.

(Tribunnews.com/Bobby)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas