Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Libya Berduka: Panglima Militer dan Rombongan Tewas dalam Kecelakaan Pesawat Sepulang dari Turki

Sebuah jet pribadi yang membawa Panglima Militer Libya, Jenderal Mohammed al-Haddad, bersama empat perwira dan tiga awak jatuh di Turki

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Bobby Wiratama
zoom-in Libya Berduka: Panglima Militer dan Rombongan Tewas dalam Kecelakaan Pesawat Sepulang dari Turki
tangkapan layar
LIBYA BERDUKA - Tangkap layar YouTube Al Jazeera English, memperlihatkan panglima militer Libya Jenderal Muhammad Ali Ahmad al-Haddad. Ia dan rombongan tewas dalam kecelakaan pesawat saat akan kembali setelah kunjungan Turki, Selasa (23/12/2025) 
Ringkasan Berita:
  • Sebuah jet pribadi yang membawa Panglima Militer Libya, Jenderal Mohammed al-Haddad, bersama empat perwira dan tiga awak jatuh setelah lepas landas dari Ankara, Turki, menewaskan seluruh penumpang.
  • Pemerintah Libya menyebut kecelakaan diduga akibat kerusakan teknis, dan menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari.
  • Kematian al-Haddad dianggap sebagai kehilangan besar karena ia berperan penting dalam upaya menyatukan militer Libya yang terpecah.


TRIBUNNEWS.COM – 
Sebuah jet pribadi yang membawa panglima militer Libya, empat perwira lainnya, serta tiga awak pesawat jatuh pada Selasa (23/12/2025) setelah lepas landas dari ibu kota Turki, Ankara.

Seluruh penumpang dan awak di dalam pesawat tersebut tewas, lapor Associated Press.

Pejabat Libya mengatakan penyebab kecelakaan diduga akibat kerusakan teknis pada pesawat.

Delegasi Libya berada di Ankara untuk mengikuti pembicaraan pertahanan tingkat tinggi yang bertujuan meningkatkan kerja sama militer antara kedua negara, kata pejabat Turki.

Perdana Menteri Libya Abdul-Hamid Dbeibah mengonfirmasi kematian Jenderal Muhammad Ali Ahmad al-Haddad bersama keempat perwira lainnya.

Dalam pernyataan yang diunggah di Facebook, ia menyebut kecelakaan tragis itu terjadi saat delegasi tersebut dalam perjalanan kembali ke tanah air.

Perdana Menteri menyebut insiden tersebut sebagai kehilangan besar bagi Libya.

Rekomendasi Untuk Anda

Al-Haddad merupakan komandan militer tertinggi di Libya barat.

Ia memainkan peran penting dalam upaya menyatukan militer Libya yang selama ini terpecah, sama halnya seperti berbagai institusi negara di Libya.

Proses penyatuan tersebut hingga kini masih berlangsung dan dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Empat perwira lainnya yang tewas dalam kecelakaan itu adalah Jenderal Al-Fitouri Ghraibil, Kepala Pasukan Darat Libya; Brigadir Jenderal Mahmoud Al-Qatawi, pimpinan otoritas manufaktur militer; Mohammed Al-Asawi Diab, penasihat kepala staf; serta Mohammed Omar Ahmed Mahjoub, seorang fotografer militer di kantor kepala staf.

Identitas tiga awak pesawat lainnya belum diumumkan secara resmi.

Baca juga: 10 Negara Paling Kering di Dunia: Hampir Tak Ada Hujan di Mesir, Libya Terletak di Gurun Sahara

Pejabat Turki mengatakan puing-puing jet bisnis tipe Falcon 50 ditemukan di dekat Desa Kesikkavak, Haymana, sebuah distrik sekitar 45 mil di selatan Ankara.

Mengutip Al Jazeera, Pemerintah Persatuan Nasional (GNU) yang diakui PBB di Tripoli mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari.

Dalam pernyataannya, GNU menyebut seluruh lembaga negara akan mengibarkan bendera setengah tiang, sementara upacara dan perayaan resmi ditangguhkan.

Kronologi Kecelakaan Pesawat

Sebelumnya pada Selasa malam, pengatur lalu lintas udara Turki mengatakan mereka kehilangan kontak dengan pesawat tersebut yang sedang dalam perjalanan kembali ke Libya, tak lama setelah lepas landas dari Bandara Esenboğa, Ankara.

Menteri Dalam Negeri Turki, Ali Yerlikaya, mengatakan dalam unggahan di media sosial bahwa pesawat lepas landas pukul 20.30 waktu setempat dan kontak terputus sekitar 40 menit kemudian.

Menurut Yerlikaya, pesawat sempat mengirimkan sinyal pendaratan darurat di dekat Haymana sebelum seluruh komunikasi terputus.

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Turki, Burhanettin Duran, mengatakan pesawat telah memberi tahu pengatur lalu lintas udara mengenai adanya gangguan listrik dan meminta izin untuk melakukan pendaratan darurat.

Pesawat tersebut kemudian diarahkan kembali ke Bandara Esenboğa, di mana persiapan pendaratan darurat mulai dilakukan.

Namun, pesawat menghilang dari radar saat dalam proses penurunan untuk pendaratan darurat, kata Duran.

Rekaman kamera keamanan yang ditayangkan di stasiun televisi lokal memperlihatkan langit malam di atas Haymana tiba-tiba diterangi cahaya yang diduga berasal dari ledakan.

Selama berada di Ankara, al-Haddad sempat bertemu dengan Menteri Pertahanan Turki Yaşar Güler serta sejumlah pejabat lainnya.

Bandara di Ankara sempat ditutup sementara, dan beberapa penerbangan dialihkan ke bandara lain.

Kementerian Kehakiman Turki menyatakan empat jaksa telah ditugaskan untuk menyelidiki kecelakaan tersebut, sebagaimana prosedur dalam insiden serupa.

Menurut pernyataan pemerintah di Facebook, Libya akan mengirim tim ke Ankara untuk bekerja sama dengan otoritas Turki dalam penyelidikan kecelakaan tersebut.

Situasi di Libya

Baca juga: Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy Divonis 5 Tahun Penjara terkait Kasus Kolusi dengan Libya

Kontributor Al Jazeera, Malik Traina, yang melaporkan dari Tripoli, menyebut kematian al-Haddad sebagai “kerugian besar” bagi militer Libya.

Ia mengatakan terjadi “curahan duka cita” dari berbagai wilayah di Libya, termasuk dari pemerintahan saingan di Benghazi, wilayah timur negara itu.

Komandan Libya Timur, Khalifa Haftar, turut menyampaikan belasungkawa atas kehilangan tragis tersebut.

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat di Benghazi juga menyampaikan simpati kepada keluarga al-Haddad dan seluruh anggota delegasi yang tewas.

Menurut Traina, al-Haddad sangat dihormati, tidak hanya di Libya barat, tetapi juga di seluruh negeri.

Ia merupakan prajurit karier yang telah mengabdikan diri di militer selama beberapa dekade.

“Di Libya barat, situasinya sangat terpecah. Ada kelompok-kelompok bersenjata kuat yang mengendalikan wilayah luas dan memiliki pengaruh besar terhadap pemerintah. Namun, Mohammed al-Haddad menolak tunduk pada tekanan kelompok-kelompok bersenjata tersebut. Ia selalu berbicara tentang rekonsiliasi,” kata Traina.

“Ia berupaya menyatukan negara. Banyak orang mendukungnya dan menaruh harapan bahwa melalui Mohammed al-Haddad, kesepakatan dengan Libya timur dapat dicapai untuk menyatukan kembali negara yang terpecah ini.”

Tentang Libya

Libya merupakan negara di Afrika Utara yang berbatasan dengan Tunisia dan Mesir.

Mengutip Britannica, sebagian besar wilayah Libya berada di Gurun Sahara, dengan mayoritas penduduk terkonsentrasi di sepanjang pesisir dan daerah pedalaman terdekat, tempat Tripoli, ibu kota de facto, dan Benghazi, kota besar lainnya, berada.

Libya terjerumus ke dalam kekacauan sejak pemberontakan pada 2011 yang menggulingkan dan menewaskan diktator Moammar Gadhafi.

Sejak saat itu, negara tersebut terpecah dengan pemerintahan yang bersaing di wilayah timur dan barat, yang masing-masing didukung oleh berbagai milisi bersenjata serta negara asing.

Turki selama ini bersekutu dengan pemerintah Libya di wilayah barat, namun belakangan juga mengambil langkah untuk meningkatkan hubungan dengan pemerintah yang berbasis di wilayah timur.

Baca juga: HNW Minta Mesir dan Libya Buka Jalan Bagi Relawan Kemanusiaan Global untuk Gaza

Kunjungan delegasi Libya pada Selasa tersebut terjadi sehari setelah parlemen Turki menyetujui perpanjangan mandat pasukan Turki yang bertugas di Libya selama dua tahun.

Turki mengerahkan pasukannya ke Libya berdasarkan perjanjian kerja sama keamanan dan militer yang disepakati antara Ankara dan pemerintah berbasis di Tripoli pada 2019.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas