Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Hamas Umumkan Juru Bicara Baru Pengganti Abu Obeida

Hamas mengonfirmasi kematian juru bicara lamanya, Abu Obeida, dan memperkenalkan pengganti dengan nama samaran yang sama

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Bobby Wiratama
zoom-in Hamas Umumkan Juru Bicara Baru Pengganti Abu Obeida
Telegram Hamas Brigade al-Qassam
JURU BICARA HAMAS - Tangkap layar video yang dirilis Brigade Al-Qassam di Telegram pada 29 Desember 2025, memperlihatkan juru bicara baru Hamas, Abu Obaida yang mengumumkan kematian pejabat tinggi Hamas. 
Ringkasan Berita:
  • Hamas mengonfirmasi kematian juru bicara lamanya, Huthaifa Samir al-Kahlout alias Abu Obeida, dan memperkenalkan pengganti dengan nama samaran yang sama.
  • Selama lebih dari dua dekade, Abu Obeida dikenal sebagai simbol perlawanan Palestina, tampil bertopeng dan menyampaikan pidato yang membangkitkan semangat rakyat.
  • Popularitasnya meningkat setelah serangan Hamas ke Israel pada 2023, dan ia sempat dikenai sanksi AS pada 2024 karena dianggap memimpin propaganda digital.


TRIBUNNEWS.COM – Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, mengonfirmasi kematian juru bicaranya sekaligus memperkenalkan juru bicara baru pada Senin (29/12/2025).

Dalam pidato yang direkam sebelumnya dan disiarkan melalui media Arab, juru bicara baru tersebut mengungkapkan bahwa pendahulunya, yang dikenal dengan nama samaran Abu Obeida, bernama asli Huthaifa Samir al-Kahlout.

Mengutip Middle East Eye, juru bicara baru tersebut, yang identitas aslinya tidak diungkap, juga menggunakan nama samaran Abu Obeida.

Ini menjadi kali pertama Hamas secara resmi mengonfirmasi identitas al-Kahlout, yang selama lebih dari dua dekade menjabat sebagai juru bicara Brigade al-Qassam tanpa pernah memperlihatkan wajahnya kepada publik.

“Kami berduka atas pemimpin besar Huthaifa Samir al-Kahlout, Abu Ibrahim, kepala aparat media al-Qassam, yang gugur setelah dua dekade menggagalkan musuh dan membangkitkan semangat kaum beriman,” ujar Abu Obeida yang baru dalam pernyataannya.

“Kami memberi penghormatan kepada pria dengan keffiyeh merah, suara lantang bangsa, Abu Obeida, yang tidak pernah meninggalkan rakyatnya di masa-masa tergelap dan selalu berbicara dari jantung pertempuran.”

Juru bicara baru tersebut juga mengonfirmasi bahwa Mohammed al-Sinwar, mantan komandan Brigade Izzuddin al-Qassam, tewas dalam serangan Israel pada Mei lalu.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menambahkan bahwa sejumlah pemimpin militer senior Hamas lainnya juga telah tewas, termasuk Raed Saad, yang dilaporkan meninggal dunia awal bulan ini.

Kahlout diketahui menjabat sebagai juru bicara sayap militer Hamas selama lebih dari 20 tahun.

Selama itu, ia selalu tampil dengan wajah tertutup keffiyeh, sehingga kehidupan pribadinya nyaris tidak pernah diketahui publik.

Ia dikenal luas melalui pidato-pidatonya di televisi.

Ia menyampaikan perkembangan medan tempur, mengklaim keberhasilan militer Hamas, serta melontarkan kecaman terhadap Israel.

Baca juga: Perjalanan Abu Obaida, Juru Bicara Hamas sejak 2007 hingga Kematiannya

Sebagai salah satu figur paling menonjol dalam Hamas, Kahlout meraih popularitas luas di dunia Arab.

Sosoknya kerap dijadikan simbol perlawanan, dengan gaya penampilan dan ucapannya yang banyak ditiru dalam demonstrasi maupun karya budaya.

Popularitasnya meningkat tajam setelah serangan mendadak Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023 dan perang besar yang menyusul di Jalur Gaza.

Meski sedikit informasi yang diketahui tentang kehidupan pribadinya, Kahlout pernah mengatakan dalam sebuah wawancara pada 2005 bahwa keluarganya terusir dari rumah mereka selama peristiwa Nakba 1948 dan kemudian mengungsi ke sebuah kamp di Gaza.

Sumber internal Hamas menyebut hanya segelintir orang yang mengetahui identitas aslinya sebelum kematiannya.

Asal Usul Nama Abu Obeida

Nama “Abu Obeida” sendiri digunakan Kahlout sejak Intifada Kedua (2000–2005), saat ia mulai tampil di hadapan publik.

Nama tersebut diyakini merujuk pada Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, salah satu sahabat Nabi Muhammad yang dikenal sebagai panglima perang terkemuka.

Penampilan publik pertamanya sebagai juru bicara Brigade al-Qassam terjadi pada 2004, ketika ia menggelar konferensi pers selama serangan darat Israel di Gaza utara.

Sejak saat itu, ia menjadi satu-satunya juru bicara militer kelompok tersebut, menyampaikan perkembangan medan tempur melalui berbagai saluran resmi Hamas.

Peran besarnya semakin terlihat pada 2006 ketika ia mengumumkan penangkapan tentara Israel Gilad Shalit.

Ia kembali muncul pada 2014 untuk mengumumkan penangkapan tentara Israel lainnya, Shaul Aron, lengkap dengan penyebutan nomor identitasnya.

Di luar periode perang, ia sesekali menyampaikan pernyataan politik.

Pada 2022, misalnya, ia bersumpah bahwa Hamas akan mengupayakan pembebasan para tahanan Palestina yang kembali ditangkap Israel.

Salah satu pidatonya yang paling dikenal disampaikan pada 28 Oktober 2024, ketika ia mengecam para pemimpin Arab karena dinilai gagal menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Baca juga: Setelah Bertemu Netanyahu, Trump: Ada Konsekuensi jika Hamas Gagal Lucuti Senjata

“Semoga Tuhan melarang warga Palestina harus meminta para penguasa Arab untuk campur tangan secara militer di Gaza,” ucapnya kala itu.

Ungkapan tersebut kemudian menjadi slogan yang luas digunakan di dunia Arab sebagai bentuk kekecewaan terhadap sikap negara-negara kawasan.

Israel sendiri telah beberapa kali berupaya membunuhnya selama dua dekade terakhir, termasuk dua upaya sejak Oktober 2023.

Pada April 2024, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadapnya dengan menyebutnya sebagai “kepala operasi perang informasi” Hamas.

Departemen Keuangan AS menuduhnya memimpin aktivitas propaganda dan pengaruh digital Brigade al-Qassam.

Situasi Gaza Terkini

Sementara itu, seperti dilaporkan ABC News, gencatan senjata di Gaza hingga kini secara umum masih berlaku.

Meski demikian, bentrokan sporadis masih terjadi antara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan kelompok bersenjata Gaza, disertai serangan mematikan dari pihak Israel.

Gencatan senjata tersebut masih berada pada fase pertama dari tiga tahap yang direncanakan, sementara rincian fase kedua belum mencapai kesepakatan.

Sementara itu, jenazah seorang sandera yang tewas diyakini masih berada di Gaza.

Israel juga terus melancarkan serangan terhadap target yang disebut sebagai milik Hizbullah di wilayah selatan dan timur Lebanon.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas