Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

10 Pemimpin Dunia yang Digulingkan AS Sepanjang Sejarah: Saddam Hussein hingga Muammar Gaddafi

Amerika Serikat tercatat berulang kali terlibat dalam penggulingan pemimpin dunia, dengan alasan keamanan, demokrasi, dan stabilitas regional.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Endra Kurniawan
zoom-in 10 Pemimpin Dunia yang Digulingkan AS Sepanjang Sejarah: Saddam Hussein hingga Muammar Gaddafi
Departemen Pertahanan AS
INVASI AMERIKA - Foto yang dirilis Departemen Pertahanan AS, memperlihatkan patung Saddam Hussein roboh di Lapangan Firdos, Baghdad, pada 9 April 2003. Amerika Serikat tercatat berulang kali terlibat dalam penggulingan pemimpin dunia, dengan alasan keamanan, demokrasi, dan stabilitas regional, Saddam Hussein dari Irak adalah salah satu contohnya. 
Ringkasan Berita:
  • Amerika Serikat tercatat berulang kali terlibat dalam penggulingan pemimpin dunia, dari Iran, Guatemala, Irak, Vietnam Selatan, hingga Libya, dengan alasan keamanan nasional, demokrasi, dan stabilitas regional.
  • Kudeta yang didukung AS sering menyingkirkan pemimpin terpilih atau diktator yang dianggap mengancam kepentingannya
  • Meski banyak operasi berhasil, tidak semua upaya sukses


TRIBUNNEWS.COM – Sejarah politik mencatat bahwa Amerika Serikat kerap terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam pergantian rezim di berbagai negara dengan dalih keamanan nasional, demokrasi, hingga stabilitas regional.

Venezuela, yang presidennya Nicolás Maduro ditangkap pada Sabtu (3/1/2026), bukanlah “target” pertama Amerika Serikat.

Sebelumnya, AS tercatat pernah berperan dalam kejatuhan sejumlah pemimpin dunia yang dianggap mengancam kepentingannya.

Berikut deretan pemimpin dunia yang digulingkan AS sepanjang sejarah, seperti dilansir Newsweek.

1. Mohammad Mossaddegh — Iran (1953)

Pada 19 Agustus 1953, badan intelijen Amerika Serikat, CIA, bersama Inggris, mengatur kudeta untuk menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh dari kekuasaan.

Kudeta tersebut bertujuan memperkuat kekuasaan Raja (Shah) Mohammad Reza Pahlavi.

AS dan Inggris melabeli Mossadegh sebagai seorang diktator, padahal ia dipilih secara demokratis oleh rakyat Iran.

Rekomendasi Untuk Anda

Mossadegh baru saja menasionalisasi industri minyak yang sebelumnya dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan Inggris.

Nasionalisasi industri minyak berarti pemerintah mengambil alih kepemilikan dan pengelolaan sektor minyak dari pihak swasta atau asing, lalu menjadikannya milik negara.

Kudeta tersebut, yang memulihkan pemerintahan otoriter Reza Pahlavi, secara luas dipandang sebagai upaya melindungi kepentingan industri minyak Inggris di kawasan tersebut.

2. Jacobo Arbenz — Guatemala (1954)

Pada Juni 1954, Presiden Guatemala yang terpilih secara demokratis, Jacobo Arbenz, digulingkan dalam operasi yang didukung CIA.

Arbenz disingkirkan karena kebijakan-kebijakannya yang condong ke kiri, yang memicu kekhawatiran pejabat AS di tengah ketegangan Perang Dingin.

Kudeta tersebut menempatkan diktator militer Carlos Castillo Armas sebagai penguasa baru dan memicu kekerasan politik selama beberapa dekade di negara tersebut.

Baca juga: Serang Venezuela, Donald Trump Incar Bisnis Narkoba, Minyak, dan China

Dalam siaran radio pada Juli tahun yang sama, Arbenz berkata mengenai kudeta itu:

“Mereka telah menggunakan dalih antikomunisme. Kebenarannya sangat berbeda. Kebenarannya terletak pada kepentingan finansial perusahaan buah dan monopoli AS lainnya yang telah menginvestasikan sejumlah besar uang di Amerika Latin dan takut bahwa contoh Guatemala akan diikuti oleh negara-negara Amerika Latin lainnya.”

3. Abdul-Karim Qasim — Irak (1963)

Pada Februari 1963, CIA mendukung kudeta yang dilakukan sayap militer Partai Ba’ath di Irak terhadap pemerintahan berhaluan kiri yang dipimpin Perdana Menteri Abdul-Karim Qasim.

Kebijakan pro-komunis dan anti-Barat Qasim dipandang sebagai ancaman oleh AS.

Sehari setelah kudeta, ia dieksekusi oleh regu tembak.

Kudeta dan pembunuhan Qasim membuka jalan bagi pemerintahan otoriter selama bertahun-tahun di bawah Partai Ba’ath.

4. Ngo Dinh Diem — Vietnam Selatan (1963)

Ngo Dinh Diem, pemimpin otoriter Vietnam Selatan yang sebelumnya dianggap AS sebagai benteng melawan komunisme di kawasan, digulingkan dan dibunuh dalam kudeta militer yang didukung CIA.

Kudeta itu terjadi setelah AS kehilangan kepercayaan terhadap kemampuannya melanjutkan Perang Vietnam.

Dokumen yang kemudian dideklasifikasi mengonfirmasi peran AS di balik layar.

5. Hudson Austin — Grenada (1983)

Pada Oktober 1983, Jenderal Hudson Austin dikudeta karena ia membentuk pemerintahan militer setelah pembunuhan Maurice Bishop pada Oktober 1983, yang memicu krisis politik di Grenada, negara kecil di Karibia.

Tindakan itu menimbulkan kecaman internasional.

Amerika Serikat bersama pasukan koalisi regional melakukan Invasi Grenada (Operasi Urgent Fury) untuk menggulingkan rezim militer Austin.

6. Jean-Claude Duvalier (Baby Doc) — Haiti (1986)

Jean-Claude Duvalier, dijuluki “Baby Doc”, adalah Presiden Haiti dari 1971 hingga 1986.

Ia mewarisi kekuasaan dari ayahnya, François Duvalier (Papa Doc), dan memerintah sebagai diktator seumur hidup hingga digulingkan oleh protes rakyat dan tekanan Amerika Serikat.

Baca juga: Reaksi Rakyat Venezuela setelah Presiden Maduro Ditangkap AS, Hening dan Cemas Menyelimuti

Pada 1986, protes meletus menuntut reformasi dan mengakhiri dinasti Duvalier.

AS menarik dukungan politik dan militer, memaksa Duvalier meninggalkan Haiti.

Peristiwa itu mengakhiri dinasti Duvalier, yang memerintah Haiti sebagai kediktatoran selama hampir tiga dekade.

7. Manuel Noriega — Panama (1989)

Manuel Noriega, tokoh militer kuat Panama dan mantan aset intelijen AS, digulingkan setelah Presiden George W.H. Bush melancarkan Operasi Just Cause dengan menginvasi Panama pada Desember 1989.

Pasukan AS menangkap Noriega dan membawanya ke Amerika Serikat, tempat ia diadili dan dipenjara atas tuduhan perdagangan narkoba.

Setahun sebelumnya, pada 1988, Noriega telah didakwa oleh dewan juri federal di Miami dan Tampa, Florida, atas tuduhan pemerasan, penyelundupan narkoba, dan pencucian uang.

8. Saddam Hussein — Irak (2003)

Saddam Hussein memerintah Irak sebagai diktator selama hampir 25 tahun sebelum digulingkan dalam invasi yang dipimpin AS pada 2003.

Pada Desember tahun itu, koalisi yang terdiri dari AS, Inggris, Australia, dan Polandia (dikenal sebagai “koalisi sukarelawan”) menangkap Hussein dalam Operasi Fajar Merah.

Ia kemudian diadili oleh Pengadilan Khusus Irak dan dijatuhi hukuman mati atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

Hussein dieksekusi dengan cara digantung pada 2006.

9. Muammar Gaddafi — Libya (2011)

Koalisi internasional yang melibatkan beberapa negara, termasuk AS, mendukung penggulingan Muammar Gaddafi di Libya pada 20 Oktober 2011, di tengah gelombang pemberontakan Musim Semi Arab.

Gaddafi digulingkan akibat kombinasi kemarahan rakyat terhadap pemerintahan otoriternya, ketidakpuasan ekonomi, pengaruh Arab Spring, serta intervensi militer NATO yang mendukung pemberontak Libya.

Ia kemudian dibunuh oleh pemberontak di Sirte.

Meski pasukan darat AS tidak menduduki Libya, kekuatan udara dan intelijen AS berperan penting dalam runtuhnya rezim Gaddafi.

10. Nicolás Maduro — Venezuela (2026)

Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri atas arahan Presiden AS Donald Trump sebagai bagian dari “Operasi Absolute Resolve” pada 3 Januari 2026.

Politikus berusia 63 tahun itu memimpin Venezuela selama lebih dari satu dekade, periode ketika produk domestik bruto negara tersebut menyusut sekitar 80 persen dan terjadi eksodus penduduk dalam skala besar.

Maduro secara luas dianggap sebagai diktator dan pemimpin tidak sah karena diyakini mencurangi pemilihan presiden terakhir.

Setelah penangkapannya, Trump mengumumkan bahwa AS akan mengelola Venezuela hingga transisi yang aman, tertib, dan bijaksana dapat dipastikan.

Operasi yang Gagal: Fidel Castro — Kuba (1961)

Tidak semua operasi penggulingan AS berakhir dengan keberhasilan.

Pada 1961, AS mencoba menggulingkan Fidel Castro dan membentuk pemerintahan pro-AS melalui Operasi Bay of Pigs (Invasi Teluk Babi), namun upaya tersebut gagal.

Mengutip EBSCO, setelah Castro berkuasa pada 1959 dan mendirikan rezim sosialis, banyak warga Kuba melarikan diri ke AS, terutama ke Florida, dan membentuk kelompok pengasingan yang menentangnya.

Di bawah Presiden Dwight D. Eisenhower dan kemudian John F. Kennedy, CIA melatih sekelompok pengungsi Kuba untuk melakukan invasi dengan harapan memicu pemberontakan rakyat.

Namun, operasi tersebut menghadapi berbagai kendala, termasuk intelijen yang buruk dan minimnya dukungan lokal, sehingga berujung pada kegagalan.

Invasi dimulai di Teluk Babi pada 17 April 1961, tetapi unsur kejutan hilang karena pasukan pengasingan langsung menghadapi perlawanan militer Castro.

Dalam beberapa hari, pasukan tersebut kewalahan, mengalami banyak korban, dan sebagian besar anggotanya ditangkap.

Insiden ini menjadi aib besar bagi pemerintah AS dan mempertegas ketegangan Perang Dingin, yang kemudian berujung pada Krisis Rudal Kuba.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas