Aidarous Al-Zubaidi Dipecat dari PLC Yaman Setelah Khianati Koalisi Arab
Aidarous Al-Zubaidi dipecat dari keanggotaan PLC Yaman setelah khianati Koalisi Arab dengan menyerang para pejuang selatan untuk merebut 2 kota.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Pemimpin kelompok bersenjata STC, Aidarous al-Zubaidi, resmi dipecat dari keanggotaan PLC setelah menyerang para pejuang selatan dan merebut kota Hadhramaut dan Mahra.
- Kepala PLC, Rashad al-Alimi, menuduh Aidarous al-Zubaidi melakukan pengkhianatan tingkat tinggi.
- Aidarous al-Zubaidi kabur ke Aden dan gagal memenuhi panggilan ke Arab Saudi untuk bertemu koalisi Arab dan menjelaskan serangannya.
- STC sebelumnya bergabung dengan PLC yang didukung koalisi Arab untuk melawan Houthi di Yaman selatan.
TRIBUNNEWS.COM - Kepala Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman (PLC) resmi mengeluarkan Aidarous al-Zubaidi dari keanggotaan badan tersebut atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi.
Aidarous al-Zubaidi yang juga menjabat Kepala Dewan Transisi Selatan Yaman (STC), dituduh mengkhianati koalisi Arab setelah meluncurkan serangan untuk mengambil alih wilayah Hadhramaut dan Al-Mahra dari para pejuang selatan.
“Dewan Kepemimpinan Presiden mengeluarkan keputusan hari ini, Rabu, untuk mencabut keanggotaan Aidarous al-Zubaidi di Dewan Kepemimpinan Presiden karena melakukan pengkhianatan tingkat tinggi dan untuk menyerahkannya kepada Jaksa Agung,” ungkap dekrit yang ditandatangani ketua dewan, Rashad al-Alimi, Rabu (7/1/2026).
Al-Zubaidi melarikan diri dan bersembunyi di lokasi yang belum diketahui hingga saat ini.
"Al-Zubaidi menghilang ke suatu tempat yang belum kita ketahui saat ini," kata Thabet Al-Ahmadi, penasihat kantor kepresidenan Yaman, mengatakan kepada Al Jazeera.
Pemerintah Yaman menuduhnya berkhianat atas serangan dari STC.
Aidarous Al-Zubaidi adalah pemimpin kelompok separatis STC di Yaman, yang mendapat dukungan Uni Emirat Arab (UEA).
STC sebelumnya bagian dari Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) koalisi yang didukung negara Teluk untuk melawan pemberontak Houthi.
Namun STC baru-baru ini mengambil tindakan militer sendiri dan menguasai beberapa wilayah selatan, yang memperburuk ketegangan politik.
Al-Zubaidi didakwa atas pengkhianatan tingkat tinggi oleh PLC dan kasusnya dirujuk ke jaksa agung.
Baca juga: Koalisi Pimpinan Saudi Serang Yaman, Klaim Pemimpin STC al-Zubaidi Kabur
Al-Zubaidi Mangkir dari Panggilan Koalisi Arab
Dalam sebuah pernyataan, juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki Al Malki mengatakan Al Zubaidi telah diminta untuk melakukan perjalanan ke Arab Saudi dalam waktu 48 jam untuk membahas alasan di balik eskalasi dan serangan oleh pasukan yang berafiliasi dengan STC.
Namun, Al Zubaidi gagal menaiki penerbangan yang membawa sejumlah besar pemimpin STC pada hari Selasa dan malah melarikan diri ke lokasi yang tidak diketahui.
Jenderal tersebut menuduhnya mendistribusikan senjata dan amunisi kepada para pejuang dan memobilisasi pasukan di dekat Aden
“Pada pukul 4 pagi, pasukan koalisi melakukan serangan pendahuluan terbatas untuk mengganggu pasukan ini dan menggagalkan upaya Al Zubaidi untuk meningkatkan konflik dan memperluasnya ke Al Dhale di dekat Aden," kata Mayor Jenderal Turki Al Malki, Rabu.
Ia memperingatkan akan adanya eskalasi lebih lanjut, mendesak warga sipil untuk menjauhi kamp-kamp militer di Aden dan Al Dhale, menghindari berkumpulnya kendaraan militer, dan melaporkan pergerakan mencurigakan kepada pihak berwenang keamanan.
Pernyataan STC
Menanggapi tuduhan PLC dan koalisi Arab, STC mengeluarkan pernyataan yang mengatakan Al Zubaidi beroperasi dari Aden dan mengawasi urusan militer, keamanan, dan sipil.
"Serangan Arab Saudi menewaskan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dan menyebut serangan tersebut sebagai "eskalasi yang tidak dapat dibenarkan yang merusak prospek dialog," kata kelompok itu.
STC juga mengatakan telah kehilangan kontak dengan delegasi yang tiba di Riyadh beberapa jam sebelumnya, dan menyatakan keprihatinan atas kurangnya informasi resmi mengenai keberadaan delegasi tersebut.
Kelompok tersebut menyerukan kepada pihak berwenang Saudi untuk menghentikan serangan udara, menjamin keselamatan delegasi, dan mengizinkan komunikasi segera, serta mendesak aktor regional dan internasional untuk campur tangan guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
Sementara itu, Hani Bin Brek, Wakil Presiden STC, menulis di X bahwa, “Arab Saudi telah memilih jalan pengkhianatan dan penipuan. Pengkhianatan dan penipuan memiliki konsekuensi langsung dan jangka panjang."
Ketegangan politik di Yaman terus meningkat selama beberapa minggu terakhir, mengungkap keretakan yang mendalam di dalam kubu anti-Houthi, dikutip dari The National News.
UEA, anggota koalisi yang melatih pasukan selatan dalam memerangi Houthi yang didukung Iran, telah menarik pasukan antiterorisme yang tersisa setelah serangan Arab Saudi menghantam kendaraan lapis baja yang terkait dengan pasukannya, sambil menyerukan de-eskalasi dan dialog.
Arab Saudi kemudian mengumumkan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah dialog Yaman mengenai isu selatan setelah STC mengusulkan periode transisi dua tahun yang berpuncak pada referendum tentang penentuan nasib sendiri.
Meskipun STC menyambut inisiatif Saudi, serangan pada hari Rabu dan keputusan untuk mengesampingkan Al Zubaidi mengancam akan semakin memperparah ketegangan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.