Separatis Yaman Selatan Umumkan Pembubaran STC di Riyadh, Internal Kelompok Terbelah
Kelompok separatis Yaman Selatan umumkan pembubaran STC di Riyadh, namun klaim ini dibantah internal dan memicu ketegangan regional.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Ketegangan Saudi–UEA meningkat di tengah tudingan dukungan Abu Dhabi terhadap STC dan konflik bersenjata di Yaman selatan.
- Kelompok separatis Yaman Selatan mengumumkan pembubaran Dewan Transisi Selatan (STC) usai perundingan di Riyadh.
- Sekjen STC menyebut langkah ini demi stabilitas, sementara juru bicara STC menilai keputusan tidak sah dan menegaskan hanya dewan penuh yang berwenang.
TRIBUNNEWS.COM - Kelompok separatis utama Yaman Selatan mengumumkan pembubaran Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) setelah pembicaraan di Riyadh, Arab Saudi.
Pengumuman tersebut segera dibantah oleh juru bicara STC, menandakan adanya perpecahan serius di dalam tubuh kelompok itu.
Sekretaris Jenderal STC Abdulrahman Jalal al-Subaihi mengatakan pembubaran dilakukan demi menjaga perdamaian dan keamanan di Yaman selatan serta negara-negara tetangga.
Dalam siaran televisi Yaman pada Jumat (9/1/2026), ia memuji peran Arab Saudi yang dinilainya telah menawarkan solusi politik sesuai aspirasi masyarakat selatan, sebagaimana dilaporkan AFP.
Namun, juru bicara STC Anwar al-Tamimi yang berada di Abu Dhabi menolak klaim tersebut.
Ia menyebut pengumuman pembubaran STC sebagai “tidak masuk akal”.
Al-Tamimi menegaskan bahwa keputusan strategis hanya bisa diambil oleh dewan penuh di bawah kepemimpinan ketua STC, Aidarous al-Zubaidi, menurut AFP.
Dalam unggahan di media sosial X, al-Tamimi menyatakan STC tetap berkomitmen pada proses politik dan akan melanjutkan perjuangan hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Yaman selatan.
Ia juga mengisyaratkan bahwa delegasi STC di Riyadh tidak dapat dihubungi, memperkuat indikasi adanya konflik internal.
Secara terpisah, Majelis Nasional STC menyerukan demonstrasi di Aden dan Mukalla pada Sabtu (10/1/2026), menolak apa yang mereka sebut sebagai solusi parsial terhadap isu selatan.
Seruan ini menunjukkan bahwa sebagian struktur STC masih aktif dan menentang pembubaran.
Baca juga: 3 WNI yang Terjebak di Pulau Socotra Yaman Berhasil Dievakuasi, Kemlu: Kondisinya Baik
Ketegangan Arab Saudi dan UEA Meningkat
Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) meningkat setelah STC, yang menurut Riyadh didukung Abu Dhabi, melancarkan serangan terhadap pasukan pemerintah Yaman pada Desember lalu.
Al Jazeera melaporkan, langkah tersebut dipandang Saudi sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional Yaman.
Koalisi pimpinan Saudi menuduh pemimpin STC Aidarous al-Zubaidi melarikan diri ke UEA melalui Somaliland setelah absen dari pembicaraan di Riyadh.
Tuduhan ini semakin memperuncing hubungan Saudi–UEA, yang sebelumnya menjadi sekutu utama dalam perang melawan kelompok Houthi.
Analis Al Jazeera, Hashem Ahelbarra, menilai kemungkinan pembubaran STC sebagai perkembangan politik penting, meski tidak mengejutkan.
Baca juga: Aidarous Al-Zubaidi Dipecat dari PLC Yaman Setelah Khianati Koalisi Arab
Ia menyebut ekspansi militer STC ke wilayah kaya minyak seperti Hadramout dan al-Mahra sebagai kesalahan strategis besar yang memicu respons keras Saudi.
STC didirikan pada April 2017 sebagai payung kelompok-kelompok yang memperjuangkan kembalinya Yaman selatan sebagai negara merdeka, seperti sebelum penyatuan Yaman pada 1990.
Kini, masa depan STC berada dalam ketidakpastian di tengah tekanan regional dan konflik internal yang kian terbuka.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.