Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Zelenskyy: Rusia Siapkan Serangan Besar dalam Beberapa Hari Lagi

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia menyiapkan serangan besar dalam beberapa hari lagi, menurut informasi intelijen.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Zelenskyy: Rusia Siapkan Serangan Besar dalam Beberapa Hari Lagi
Website Presiden Ukraina
ZELENSKYY BERPIDATO - Foto diunduh dari laman Presiden Ukraina, Selasa (13/1/2026), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat mendengarkan laporan Dinas Keamanan Ukraina pada 10 Januari 2026. Pada Senin (12/1/2026), Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia menyiapkan serangan besar dalam beberapa hari lagi, menurut informasi intelijen. 
Ringkasan Berita:
  • Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan Rusia sedang bersiap meluncurkan serangan besar dalam beberapa hari mendatang.
  • Menurut intelijen Ukraina, Rusia akan menggunakan kombinasi drone, rudal jelajah, dan rudal balistik.
  • Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.420 ketika Ukraina dan pendukungnya mengecam Rusia atas penggunaan rudal Oreshnik dalam serangan Jumat lalu.

 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia sedang mempersiapkan serangan skala besar lainnya terhadap Ukraina.

Ia mengatakan Rusia memanfaatkan musim dingin untuk menyerang infrastruktur sipil di Ukraina, menurut informasi intelijen.

Menurut laporan itu, Rusia berencana menggunakan kombinasi taktik yaitu drone kamikaze untuk melemahkan sistem pertahanan udara, serta rudal jelajah dan rudal balistik.

"Ada informasi dari intelijen: Rusia sedang mempersiapkan serangan besar-besaran baru. Drone untuk melumpuhkan pertahanan udara dan rudal. Mereka ingin memanfaatkan cuaca dingin," kata Zelensky, dalam pidatonya pada Senin (12/1/2026) malam.

"Serangan ini mungkin terjadi dalam beberapa hari mendatang. Jaga diri Anda baik-baik. Jaga Ukraina. Dan bantulah mereka yang paling kesulitan dan membutuhkan dukungan," lanjutnya.

Zelensky memastikan bahwa Angkatan Pertahanan, layanan energi, dan penyelamatan bekerja dengan intensitas tinggi. 

Rekomendasi Untuk Anda

Komunikasi terus-menerus dengan para mitra juga berlangsung terkait pasokan mendesak rudal tambahan untuk sistem pertahanan udara dan sarana peperangan elektronik.

Sebelumnya, Rusia meluncurkan 242 drone, 22 rudal jelajah, dan 13 rudal balistik ke fasilitas energi dan infrastruktur sipil Ukraina pada Jumat (9/1/2026) malam. 

Di antara senjata tersebut, militer Ukraina mengatakan Rusia menggunakan setidaknya satu rudal Oreshnik jarak menengah.

Empat orang tewas dan 20 lainnya terluka dalam serangan yang menargetkan hampir dua lusin lokasi di seluruh Ukraina.

Baca juga: Saingi Rusia, Inggris Akan Buat Rudal Jarak Jauh Nightfall untuk Ukraina

Angkatan Udara Ukraina mengatakan mereka mencegat 125 drone dari udara, tetapi mengkonfirmasi bahwa setidaknya 25 drone serang mengenai sasaran mereka, dikutip dari Euro News.

Info Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1420 pada Selasa (13/1/2026).

Perang Rusia–Ukraina dimulai ketika Rusia melancarkan serangan militer besar ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Serangan ini merupakan puncak dari hubungan yang sudah lama tegang antara kedua negara. Ketegangan tersebut tidak muncul tiba-tiba, melainkan berkembang selama bertahun-tahun.

Akar konflik bermula setelah Uni Soviet bubar, yang membuat Rusia dan Ukraina menjadi negara merdeka dengan arah politik dan kepentingan keamanan yang berbeda.

Ukraina kemudian semakin mendekat ke negara-negara Barat dan menyatakan keinginan untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa, langkah yang dianggap Rusia sebagai ancaman bagi keamanannya.

Situasi semakin memanas pada 2014, saat terjadi Revolusi Maidan yang menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dekat dengan Rusia.

Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea, dan konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.

Meski berbagai upaya diplomasi internasional telah dilakukan, konflik tersebut tidak berhasil diselesaikan. Ketegangan akhirnya memuncak ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022.

Rusia menyatakan tindakan ini dilakukan untuk melindungi warga di Donbas, menjaga keamanan nasional, dan menolak perluasan NATO ke Eropa Timur.

Sebagai balasan, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia serta memberikan bantuan militer dan keuangan kepada Ukraina.

Perang tersebut masih terus berlangsung, sementara Amerika Serikat dan sekutunya berupaya mendorong perundingan damai agar konflik tersebut dapat segera berakhir.

  • AS dan Inggris Kecam Rusia yang Gunakan Rudal Oreshnik

AS dan Inggris mengutuk Rusia karena menggunakan rudal balistik Oreshnik yang mampu membawa hulu ledak nuklir dalam serangan di Ukraina.

Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat untuk merespons serangan besar-besaran Rusia di Ukraina.

Dalam pertemuan itu, Tammy Bruce, Wakil Duta Besar AS, menyebut serangan di Lviv sebagai eskalasi yang berbahaya dan tidak dapat dijelaskan.

Pelaksana tugas Duta Besar Inggris untuk PBB, James Kariuki, menyebut serangan itu ceroboh.

"Itu mengancam keamanan regional dan internasional serta membawa risiko eskalasi dan kesalahan perhitungan yang signifikan," kata James Kariuki, Senin (12/1/2026).

  • Ukraina Gelar Pertemuan Dewan Ukraina dan NATO

Ukraina menggelar pertemuan luar biasa Dewan Ukraina–NATO dalam format komite politik.

Pertemuan ini diadakan atas permintaan pemerintah Ukraina menyusul serangan Rusia ke wilayah Lviv menggunakan rudal Oreshnik, sebagaimana disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Ukraina.

Dalam pertemuan tersebut, mitra-mitra Ukraina diberi penjelasan mengenai serangan Rusia yang terus-menerus terhadap infrastruktur vital negara itu. 

Wakil Menteri Luar Negeri Oleksandr Mishchenko, Wakil Menteri Pertahanan Serhiy Boev, dan Wakil Menteri Energi Roman Andarak menegaskan bahwa Ukraina saat ini sangat membutuhkan tambahan sistem pertahanan, khususnya penguatan pertahanan udara melalui pasokan rudal untuk sistem Patriot dan NASAMS. 

Ukraina juga meminta negara-negara sekutu untuk bergabung dalam program PURL.

Perwakilan Kementerian Pertahanan Ukraina menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2025, Rusia secara signifikan meningkatkan penggunaan rudal dan drone (UAV) dalam serangan ke wilayah Ukraina

Menurut Boev, peningkatan ini menunjukkan bahwa Rusia masih berfokus pada eskalasi konflik, bukan pada upaya perdamaian.

"Ia (Boev) juga secara terpisah menekankan bahwa penggunaan rudal balistik jarak menengah oleh Rusia di dekat perbatasan NATO adalah manifestasi lain dari kebijakan agresifnya dan kurangnya keinginan untuk perdamaian," kata Kementerian Luar Negeri Ukraina dalam siaran pers, lapor Suspilne.

  • Rusia Klaim Rudal Oreshnik Menargetkan Pabrik Terkait Militer Ukraina

Rusia mengklaim rudal Oreshnik menargetkan sebuah pabrik perbaikan penerbangan. 

Sementara Ukraina belum mengkonfirmasi apa yang terkena, tetapi mengatakan rudal tersebut menghantam selama serangan yang lebih luas menggunakan drone dan roket lainnya. 

Rudal Oreshnik yang jarang digunakan dan memiliki banyak hulu ledak diperkirakan persediaannya terbatas – militer dan pasukan khusus Ukraina mengklaim telah menghancurkan setidaknya satu rudal tersebut di darat di Rusia

Para pengamat menilai dua serangan Oreshnik sejauh ini di Ukraina sebagian besar bersifat politis dan simbolis, dengan kemungkinan menggunakan hulu ledak tiruan, dan kerusakan yang disebabkan oleh ledakan sonik dan benturan fisik, bukan bahan peledak sungguhan. 

Para analis mempertanyakan apakah Oreshnik cukup akurat untuk mengirimkan bom non-nuklir, yang harus ditargetkan lebih dekat daripada hulu ledak nuklir agar efektif.

  • Rusia Menyerang Kyiv, 2 Orang Tewas

Pasukan Rusia melancarkan serangan ke Kyiv dan Kharkiv pada Selasa (13/1/2026) pagi, menewaskan sedikitnya dua orang di Kharkiv dan melukai tiga lainnya. 

Pada hari Senin, petugas medis Sergiy Smolyak (56) dimakamkan di Kyiv setelah ia tewas dalam serangan pesawat tak berawak pada Jumat (9/1/2026).

Ia gugur ketika menjalankan tugasnya untuk menyelamatkan warga dari sebuah blok perumahan yang diserang Rusia beberapa menit sebelumnya dalam serangan besar-besaran di ibu kota Ukraina pada hari Jumat. 

“Dia sangat baik, selalu tenang dan sabar. Dia menyelamatkan begitu banyak orang,” kata Ryta Dorosh, seorang perawat yang bekerja dengan Smolyak sebelum perang.

  • Rusia Mengebom 2 Kapal Sipil di Laut Hitam

Menurut Ukraina, Rusia telah membom dua kapal sipil lagi yang mengangkut produk makanan di Laut Hitam.

“Sebuah drone musuh menyerang kapal tanker berbendera Panama yang sedang menunggu untuk memasuki pelabuhan untuk memuat minyak nabati. Sayangnya, satu anggota kru terluka,” kata Menteri Pembangunan Regional Ukraina, Oleksiy Kuleba, pada hari Selasa. 

“Ada juga serangan terhadap kapal yang mengibarkan bendera San Marino, yang sedang meninggalkan pelabuhan dengan muatan jagung... Ini adalah bukti lebih lanjut bahwa Rusia sengaja menyerang kapal sipil, perdagangan internasional, dan keselamatan maritim,” tambahnya, dikutip dari The Guardian.

Gubernur regional Odesa, Oleg Kiper, mengatakan serangan itu terjadi di sekitar pelabuhan Chornomorsk di pantai selatan Ukraina.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas