Pasukan Khusus Iran Siap Bertindak Tegas, Siaga Hadapi Serangan AS Kapan Saja
IRGC nyatakan siaga penuh hadapi ancaman AS. Penarikan pasukan, desakan Netanyahu, dan tekanan sekutu memicu kekhawatiran perang besar Timur Tengah.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- IRGC menyatakan kesiapan penuh merespons serangan AS dan Israel, menuding kedua negara berada di balik eskalasi protes yang telah menewaskan ribuan orang di Iran.
- Penarikan sebagian personel AS dari Pangkalan Udara al-Udeid di Qatar dinilai sebagai indikasi meningkatnya kesiapan militer, meski arah kebijakan Trump tetap sulit diprediksi.
- PM Israel Benjamin Netanyahu serta negara-negara Teluk mendesak Trump menunda serangan terhadap Iran demi mencegah konflik regional besar di Timur Tengah.
TRIBUNNEWS.COM - Pasukan Khusus Iran yang dikenal dengan nama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa negaranya berada dalam kesiapan penuh untuk merespons secara serangan terbaru dari AS.
Pernyataan keras tersebut disampaikan Komandan IRGC Mohammad Pakpour dalam pernyataan tertulis yang dikutip televisi pemerintah Iran.
“IRGC berada dalam kesiapan penuh untuk menanggapi secara tegas kesalahan perhitungan musuh,” tegas Pakpour, sembari menyebut Trump dan Netanyahu sebagai “pembunuh pemuda Iran”.
Peringatan pimpinan IRGC itu muncul di tengah eskalasi demonstrasi anti-pemerintah di berbagai kota Iran yang dipicu oleh memburuknya ekonomi negara dan depresiasi atau merosotnya nilai mata uang rial Iran.
Demo yang berlangsung sejak akhir Desember 2025 awalnya berjalan dengan kondusif hingga akhirnya massa mulai yang tak puas dengan respon pemerintah mulai meningkatkan aksi hingga menyebabkan ribuan penangkapan dan korban tewas tembus 2.500 jiwa.
Pasca ketegangan meningkat, Washington memberi dukungan moral kepada demonstran dan memperingatkan kemungkinan intervensi jika pemerintah Iran terus melakukan tindakan kekerasan.
Namun, pemerintah Iran menolak keras dukungan Amerika Serikat dan melihatnya sebagai bentuk campur tangan langsung dalam urusan dalam negeri.
Otoritas Teheran menuduh Washington dan sekutunya, termasuk Israel, berusaha mengubah protes yang dimotivasi oleh masalah domestik menjadi kekacauan yang dapat melemahkan pemerintah Iran.
Menurut pernyataan pejabat Iran, dukungan AS terhadap demonstran merupakan upaya memanfaatkan ketidakpuasan rakyat Iran untuk tujuan politik luar negeri yang lebih luas.
Bahkan dianggap sebagai bentuk agresi psikologis dan politik yang melanggar kedaulatan nasional.
Baca juga: Mantan Panglima IRGC Peringatkan Arab Saudi, Irak, dan Turki soal Agresi Israel, Serukan Koalisi
Sinyal Kesiapan Militer AS Muncul
Situasi semakin memanas setelah seorang pejabat Amerika Serikat mengkonfirmasi adanya penarikan sebagian personel dari Pangkalan Udara al-Udeid di Qatar pada Rabu (14/1/2026).
Pejabat tersebut menyebut langkah itu sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi personel di tengah meningkatnya risiko keamanan.
Namun, sejumlah analis dan pengamat militer menilai penarikan terbatas tersebut justru dapat dibaca sebagai indikator meningkatnya kesiapan militer AS, bukan semata-mata langkah defensif.
Penilaian ini diperkuat oleh pernyataan seorang pejabat militer Barat yang identitasnya dirahasiakan.
Ia mengatakan bahwa berbagai indikator tempur mulai dari pergerakan logistik, kesiapan pasukan, hingga koordinasi sekutu menunjukkan kemungkinan serangan Amerika Serikat sudah berada di depan mata.
Meski demikian, sumber lain mengingatkan bahwa dinamika kebijakan luar negeri AS di bawah Presiden Donald Trump kerap diwarnai ketidakpastian strategis.
Karakter kepemimpinan Trump yang sering mengkombinasikan tekanan militer dengan manuver politik mendadak membuat arah kebijakan sulit diprediksi secara pasti, termasuk apakah ancaman militer akan benar-benar diwujudkan atau digunakan sebagai alat tekanan diplomatik.
Kondisi tersebut semakin memperuncing ketegangan regional, mendorong Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meningkatkan status kewaspadaan.
Netanyahu Minta Trump Tahan Diri
Di tengah meningkatnya ancaman konflik terbuka di Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menahan diri dan menunda rencana serangan militer terhadap Iran.
Informasi tersebut pertama kali diungkap oleh New York Times, mengutip seorang pejabat senior AS yang mengetahui langsung pembahasan tersebut.
Menurut laporan itu, Netanyahu secara khusus meminta Trump untuk “menunda rencana apa pun” terkait aksi militer terhadap Teheran.
Gedung Putih kemudian mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin telah melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon.
Namun, pihak Gedung Putih tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai substansi percakapan tersebut.
Langkah Netanyahu dinilai sebagai upaya untuk menahan eskalasi konflik yang berisiko meluas menjadi perang regional.
Kekhawatiran itu muncul mengingat Iran telah secara terbuka mengancam akan membalas Israel jika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap wilayahnya, yang berpotensi menempatkan Israel sebagai sasaran utama serangan balasan.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membenarkan adanya komunikasi antara Trump dan Netanyahu, namun menegaskan bahwa pemerintah AS tidak akan mengungkap isi pembicaraan tersebut kepada publik.
Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.
Tekanan untuk menahan diri juga datang dari sejumlah sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Mesir.
Seorang pejabat negara Teluk Arab memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat memicu konflik regional berskala luas yang dampaknya sulit dikendalikan, baik secara politik, keamanan, maupun ekonomi.
Desakan dari Israel dan negara-negara sekutu ini mencerminkan kekhawatiran internasional yang semakin besar terhadap kemungkinan pecahnya perang besar di Timur Tengah, di tengah situasi keamanan yang dinilai semakin rapuh dan penuh ketidakpastian.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.