Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Setelah Seminggu, Kebakaran Hutan di Yamanashi Jepang Mulai Mereda

Kebakaran hutan di Yamanashi mulai mereda, namun api masih meluas di Otsuki. Pakar ingatkan bahaya perubahan iklim dan kelalaian manusia

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Setelah Seminggu, Kebakaran Hutan di Yamanashi Jepang Mulai Mereda
HO
Pemadaman api di hutan Yamanashi masih berlangsung hingga pagi ini (16/1/2026) lewat bantuan helikopter satuan beladiri Jepang (SDF) 
Ringkasan Berita:
  • Kebakaran hutan di Prefektur Yamanashi mulai mereda di Kota Uenohara sehingga perintah evakuasi dicabut, meski api masih meluas di Kota Otsuki 
  • Luas area terdampak telah mencapai lebih dari 230 hektare dan pemadaman terus dilakukan lewat jalur darat dan udara 
  • Pakar menilai perubahan iklim, kekeringan, serta kelalaian manusia memperbesar risiko kebakaran hutan di Jepang.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO –  Kebakaran hutan yang melanda wilayah timur Prefektur Yamanashi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda di Kota Uenohara. Pemerintah setempat mencabut perintah evakuasi yang sebelumnya diberlakukan bagi warga, setelah penyebaran api di wilayah tersebut berhasil dihentikan sementara.

Seorang reporter yang berada di Kota Otsuki melaporkan kondisi terbaru dari lokasi sekitar empat kilometer di sebelah barat titik kebakaran.

“Saya berada di Kota Otsuki dan memotret dari sekitar empat kilometer sebelah barat lokasi kemarin. Api masih terlihat menyebar di lokasi kejadian, dan asap putih tampak membubung dari seluruh lereng gunung,” ujarnya.

Di kawasan Gunung Ogiyama, Kota Uenohara, upaya pemadaman terus dilakukan sejak pukul 07.00 pagi. Helikopter dikerahkan untuk menyiramkan air dari udara, sementara tim pemadam berusaha memadamkan api dari darat.

Hingga saat ini, luas area yang terbakar telah mencapai lebih dari 230 hektare. 

Baca juga: Akses Ilegal Komputer, Perawat asal Indonesia Ditangkap Polisi Jepang

Meski demikian, penyebaran api di wilayah Kota Uenohara berhasil dihentikan, sehingga pemerintah kota mencabut perintah evakuasi yang sebelumnya diberlakukan bagi 145 warga dari 77 rumah tangga.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, situasi berbeda terjadi di Kota Otsuki. Api masih terus meluas di wilayah tersebut. 

Menurut pihak pemadam kebakaran, hingga kini belum ada kepastian kapan kebakaran dapat sepenuhnya dipadamkan.

Petugas terus bekerja tanpa henti, memanfaatkan segala sumber daya yang ada untuk mencegah api meluas ke kawasan permukiman. 

Warga di sekitar area terdampak diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat.
Rantai Negatif antara Kebakaran dan Perubahan Iklim”

Profesor Keiji Kushida dari Fakultas Ilmu Sumber Daya Hayati Universitas Nihon menunjukkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan risiko meluasnya kebakaran hutan.

“Perubahan iklim menyebabkan meningkatnya kekeringan dan angin kencang, sehingga risiko kebakaran berskala besar menjadi semakin tinggi. Kini kita hidup di zaman di mana api kecil akibat kelalaian pun dapat dengan cepat menyebar jika kondisi tertentu terpenuhi,” ungkap Kushida.

Mengapa kekeringan dan angin kencang memperbesar skala kebakaran?

Ketika kondisi kering, kadar air pada daun-daun gugur dan semak di hutan menurun, membuatnya sangat mudah terbakar. Jika pada saat yang sama bertiup angin kencang, api terdorong oleh arus naik udara, melaju cepat menanjak di lereng gunung, sementara bara api dapat terbang hingga ratusan meter. Kebakaran pun berubah dari satu titik kecil menjadi satu bidang luas, lalu menyebar ke bidang-bidang lain dalam sekejap.

Kekeringan “menyiapkan bahan bakar”, sedangkan angin memberikan oksigen dan tenaga pendorong. Ketika dua faktor ini bertemu, risiko terjadinya kebakaran “di luar perkiraan” yang sulit dikendalikan oleh manusia meningkat drastis.

Padahal, hutan pada dasarnya berfungsi menyerap karbon dioksida. Namun, saat terjadi kebakaran, sejumlah besar CO₂ dilepaskan. Jika hutan kembali terbakar sebelum sempat pulih, kemampuan menyerap karbon akan menurun secara permanen. Akibatnya, terjadilah lingkaran setan yaitu  pemanasan global memicu kebakaran, dan kebakaran mempercepat pemanasan global.

“Anggapan bahwa Jepang aman karena iklimnya lembap sudah menjadi masa lalu. Kita harus menghadapi kenyataan bahwa kelalaian kecil dalam menangani api bisa berujung pada kebakaran besar,” tegas Profesor Kushida.

Baca juga: Sarwendah Ungkap Kondisi Anaknya usai Sekolahnya Alami Kebakaran

Mencegah Api Kecil demi Melindungi Masa Depan

Menurut Badan Kehutanan Jepang, sekitar 60 persen kebakaran hutan di Jepang disebabkan oleh faktor manusia. Puntung rokok yang dibuang sembarangan, api unggun, pembakaran ladang—sebagian besar merupakan “api yang sebenarnya bisa dicegah”.

Perilaku yang dahulu sering dianggap sepele, seperti “hanya sebentar” atau “sedikit saja tidak apa-apa”, kini dapat menjadi pemicu kebakaran besar ketika bertemu dengan musim kering dan angin kencang.

Tidak membawa api ke pegunungan, menghindari penggunaan api di musim kering, mengikuti pelatihan kebencanaan, serta memastikan jalur evakuasi—perhatian kecil dari setiap individu dapat menjadi kekuatan besar yang melindungi masyarakat secara keseluruhan.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai upaya pencegahan juga mulai diterapkan. Di pintu masuk jalur pendakian dan jalan hutan dipasang papan bertuliskan “Dilarang Menggunakan Api”. Sejumlah pemerintah daerah mulai memanfaatkan drone untuk pemantauan kebencanaan. Di luar negeri, bahkan ada gerakan mewajibkan pelatihan penggunaan api di area perkemahan.

Langkah-langkah pencegahan yang menggabungkan pengetahuan dan tindakan nyata kini semakin meluas.

Perawatan Hutan Dapat Mencegah Penyebaran Api

Namun, kewaspadaan manusia saja tidak cukup untuk sepenuhnya mencegah kebakaran. Di sinilah pentingnya membangun “hutan yang sulit terbakar”.

Organisasi nirlaba JUON NETWORK selama bertahun-tahun mengembangkan program perawatan hutan berbasis partisipasi warga di berbagai daerah Jepang. Mereka melakukan edukasi lingkungan, aktivitas swasembada energi, serta mengajak mahasiswa dan relawan merawat hutan secara rutin.

Direktur Eksekutif Takayuki Shikazumi menjelaskan, “Kami tidak secara khusus merawat hutan dengan tujuan mencegah kebakaran, tetapi hasilnya ternyata juga berkontribusi pada pencegahan api. Dengan memangkas semak, mengurangi rumput dan kayu mati, serta melakukan penjarangan pohon, jarak antar pohon menjadi lebih lebar dan potensi penyebaran api dapat ditekan.”

Di lapangan, sering kali dilakukan penebangan pohon untuk membuat “sabuk api” guna menghentikan laju kebakaran namun Shikazumi menekankan bahwa tidak cukup hanya mengandalkan sabuk api darurat.

Yang lebih penting adalah pengelolaan jangka panjang agar hutan selalu berada dalam kondisi “tidak mudah terbakar”. Memang, semakin banyak orang memasuki hutan, semakin tinggi risiko kelalaian. Tetapi hutan yang terang dan memiliki sirkulasi udara baik justru membuat api sulit melaju.

Diskusi  kehutanan di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas