Yoichi Hokkaido Jepang Jadi Bintang Baru Dunia Anggur
Dari krisis apel ke wine kelas dunia, tujuh samurai Yoichi mengubah kota Hokkaido jadi pusat produksi anggur berkualitas tinggi
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Yoichi di Hokkaido kini menjadi pusat wine Jepang berkat tujuh petani pionir “Seven Samurai of Yoichi” yang mengubah kebun apel menjadi kebun anggur
- Produksi anggur kini stabil, kualitasnya diakui dunia, termasuk Pinot Noir legendaris Nanatsumori
- Generasi muda pun mulai memproduksi wine sendiri, menjadikan Yoichi simbol wine kelas dunia.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Yoichi, sebuah kota kecil di Hokkaido yang selama ini dikenal sebagai rumah Nikka Whisky, kini menjelma menjadi bintang baru dunia anggur Jepang.
Di balik kebangkitan ini, terdapat kisah tujuh petani yang dijuluki “Seven Samurai of Yoichi”—tujuh pionir yang mengubah krisis menjadi peluang.
"Kualitas minuman wine dan lainnya di Yoichi sangat baik. Itu sebabnya kami juga mau mengekspornya ke Indonesia di masa depan," papar Walikota Yoichi, Keisuke Saito khusus kepada Tribunnews.com beberapa waktu lalu.
Pada 1970-an, harga apel di Yoichi anjlok drastis akibat banjir impor murah. Dari sebelumnya lebih dari 2.000 yen per peti, harganya jatuh ke kisaran 200–300 yen.
Para petani berada di ambang kehancuran. Dalam situasi hidup-mati itulah, tujuh orang petani—Fujimoto Tsuyoshi, Kimura Tadashi, Tasaki Masanobu, Nagai Hiroshi, Aki Shin’ichi, Hijino Shigeru, dan Hirose Kazuya—mengambil langkah berani.
Pada 1983, mereka sepakat mengganti kebun apel dengan kebun anggur wine.
Baca juga: Wali Kota Yoichi Incar Pasar Indonesia untuk Promosikan Wine Hokkaido ke Dunia
Varietas yang ditanam disesuaikan dengan iklim dingin Hokkaido, seperti Kerner, Müller-Thurgau, Zweigelt, hingga Pinot Noir.
Anggur mereka dijual melalui kontrak ke pabrik wine, sehingga penghasilan petani lebih stabil dan tidak tergantung fluktuasi pasar.
Keputusan itu menjadi fondasi kebangkitan Yoichi.
Kini, berdasarkan survei pemerintah kota Yoichi tahun 2024, terdapat 72 petani anggur yang mengelola lebih dari 160 hektare lahan, menghasilkan lebih dari 960 ton anggur per tahun.
Hokkaido menyumbang sekitar 30 persen produksi anggur Jepang, dan setengahnya terkonsentrasi di Yoichi dan wilayah Shiribeshi.
Nama Yoichi semakin mendunia setelah Domaine Takahiko—didirikan Takahiko Soga pada 2010—melahirkan Pinot Noir legendaris Nanatsumori.
Pada 2025, kritikus wine dunia Jancis Robinson mengunjungi Jepang dan mencicipi 24 wine lokal. Dua pertiganya mendapat nilai “Good to Great”, dengan lima di antaranya berasal dari Yoichi. Ia menilai kualitas wine merah Jepang kini melonjak tajam, terutama dari Hokkaido.
Salah satu figur kunci adalah Kimura Tadashi, petani yang tetap menanam Pinot Noir sejak 1985 ketika banyak petani lain menyerah.
Selama hampir 20 tahun, hasilnya belum memuaskan. Namun ketekunan dan metode seleksi alami akhirnya membuahkan anggur berkualitas tinggi. Kini, anggur Kimura dipakai oleh pabrik wine Jepang hingga produsen legendaris Prancis, De Montille.
“Buah anggur Kimura punya karakter erotis yang unik,” ujar seorang pembeli wine.
Perubahan iklim turut memainkan peran. Suhu Yoichi yang dulu setara Alsace kini mendekati Burgundy, wilayah penghasil Pinot Noir terbaik dunia.
Namun, pemanasan global juga membawa ancaman: hujan berlebih, burung perusak buah, hingga risiko penurunan keasaman anggur.
Menyadari tantangan ini, Walikota Yoichi Keisuke Saito bahkan menjalin “wine accord” dengan Gevrey-Chambertin di Burgundy untuk saling bertukar pengetahuan.
Kini, generasi muda mulai melangkah lebih jauh.
Baca juga: Panen Perdana Anggur di Ciburial Bandung Jadi Contoh Pengelolaan Wakaf Modern
Mizuki Nakai, generasi kelima keluarga petani anggur, mendirikan Domaine Mizuki Nakai setelah berguru di Domaine Takahiko.
Ia menjadi simbol fase baru: petani yang tak hanya menanam, tetapi juga memproduksi wine sendiri.
“Ketika petani mulai membuat wine dari anggurnya sendiri, Yoichi akan benar-benar terlahir sebagai wilayah wine yang sangat baik,” kata Takahiko Soga juga kepada Tribunnews.com beberapa waktu lalu.
Dari krisis apel, tujuh samurai Yoichi menorehkan sejarah.
Mereka membuktikan bahwa keberanian, kesabaran, dan visi jangka panjang mampu mengubah kota kecil di utara Jepang menjadi pusat wine kelas dunia.
Diskusi minuman tradisional di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.