Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Jubir Putin Desak Perundingan AS–Iran, Peringatkan Risiko Kekacauan Jika Kekerasan Digunakan

Rusia turun tangan desak diplomasi untuk meredakan ketegangan Iran Vs AS, Rusia khawatir risiko konflik dinilai bisa guncang energi global.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Ringkasan Berita:
  • Jubir Putin, Dmitry Peskov, meminta AS dan Iran memprioritaskan perundingan dan memperingatkan bahwa penggunaan kekerasan dapat memicu kekacauan regional dan internasional.
  • Moskow menilai tekanan militer AS terhadap Iran berisiko memicu balasan Teheran, menyeret negara kawasan, serta mengganggu jalur energi strategis yang dapat mengguncang harga minyak dunia.
  • Iran menegaskan menolak perundingan dengan AS selama ancaman militer dan sanksi terus dilakukan.

TRIBUNNEWS.COM - Kremlin menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran memprioritaskan jalur diplomasi di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

Ultimatum itu diungkap Dmitry Peskov, juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (29/1/2026).

Adapun dorongan Kremlin berangkat dari kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang menerapkan strategi tekanan maksimum terhadap Teheran, termasuk sanksi ekonomi berat, tekanan diplomatik, dan ultimatum soal program nuklir Iran.

Situasi semakin memanas setelah Presiden Trump secara terbuka mengumumkan pengerahan armada militer besar, termasuk kelompok kapal induk, menuju wilayah Teluk Persia.

Dengan tujuan memberi tekanan kepada Iran agar “datang ke meja perundingan” dan menyepakati perjanjian yang menghapus kemampuan nuklirnya.

Namun Teheran merespons dengan penolakan tegas terhadap pembicaraan yang dilakukan di bawah tekanan militer.

“Tidak mungkin membicarakan perundingan dalam suasana ancaman,” tegas Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, mengutip dari Reuters.

Rekomendasi Untuk Anda

Pemerintah Iran menyatakan bahwa negosiasi semacam itu tidak bisa terjadi ketika ancaman kekerasan dan sanksi terus digencarkan, bahkan pemerintah Teheran bersumpah akan membalas setiap tindakan militer, dari Amerika.

Ketegangan ini  lantas memicu ketakutan pemimpin global, termasuk pemerintah Rusia yang khawatir jika penggunaan kekerasan terhadap Iran akan memicu reaksi berantai.

Termasuk balasan militer Teheran dan keterlibatan negara-negara lain di kawasan.

Rusia Khawatir Stabilitas Energi Terancam

Baca juga: Iran Lontarkan Ultimatum, Ancam Bakal Buat AS Alami Kerugian Besar jika Trump Nekat Serang Teheran

Selain faktor keamanan, Rusia juga menilai kepentingan ekonomi global menjadi pertimbangan utama.

Lantaran setiap eskalasi di Timur Tengah berisiko mengganggu jalur energi strategis dan memicu gejolak harga minyak dunia.

Situasi tersebut dinilai merugikan banyak negara, termasuk Rusia, yang berkepentingan menjaga stabilitas pasar energi.

Oleh karena itu mencegah konflik yang semakin memanas, Moscow mendesak kedua belah pihak untuk mengupayakan perundingan terkait program nuklir Iran melalui mekanisme politik dan kesepakatan internasional, tanpa harus menggunakan tekanan militer.

Rusia berpandangan pendekatan ancaman justru akan memperkeras sikap Teheran dan menjauhkan kemungkinan kompromi.

“Penggunaan kekerasan terhadap Iran dapat menciptakan kekacauan besar dan membawa konsekuensi yang sangat berbahaya, tidak hanya bagi kawasan tetapi juga bagi keamanan internasional,” ujar Peskov dalam pernyataan resminya.

Dengan mendesak perundingan, Moskow berupaya menempatkan diri sebagai pihak yang mendorong stabilitas regional.

Sekaligus menegaskan peran diplomasi multilateral dalam menyelesaikan konflik internasional, tanpa menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam konflik berskala lebih luas.

Dampak Konflik Iran VS AS

Terpisah, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang terus meningkat berpotensi memiliki dampak luas jika konflik pecah, tidak hanya terbatas pada kedua negara tetapi juga pada stabilitas regional dan ekonomi global.

Analis dan pelaku pasar kini semakin waspada, karena setiap eskalasi militer di kawasan Teluk Persia dapat mengguncang pasar energi dunia, rantai pasok global, dan stabilitas perdagangan secara keseluruhan.

Salah satu dampak paling langsung dirasakan pada harga minyak dunia.

Tanda-tanda ketegangan yang meningkat telah mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, dengan harga Brent dan West Texas Intermediate menunjukkan kenaikan signifikan akibat kekhawatiran investor bahwa konflik bisa mengganggu pasokan minyak dari kawasan tersebut.

Harga yang melonjak ini mencerminkan kecemasan pasar terhadap kemungkinan gangguan aliran energi, terutama melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang merupakan rute utama ekspor sekitar 20 persen minyak dunia.

Selain itu, eskalasi konflik berpotensi memicu gangguan lebih luas pada perdagangan internasional. Kenaikan risiko di kawasan Teluk akan mendorong biaya asuransi pengiriman dan biaya logistik secara umum, yang pada gilirannya meningkatkan harga barang dan jasa di pasar global.

Ketidakpastian geopolitik yang tinggi juga cenderung memicu volatilitas di pasar keuangan, dengan investor cenderung menarik modal dari aset berisiko dan beralih ke aset “safe haven” seperti emas.

Risiko ini tidak hanya memengaruhi negara-negara besar, tetapi juga ekonomi berkembang yang bergantung pada impor energi dan pasokan barang dari luar negeri.

(Tribunnews.com / Namira)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas