Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

AS–Iran Kembali Memanas, Apa yang Sebenarnya Diperebutkan?

AS dan Iran saling mengancam di tengah peningkatan militer. Nuklir, sanksi, dan pengaruh regional jadi sumber konflik utama.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Ringkasan Berita:
  • Ketegangan AS dan Iran meningkat setelah Washington mengerahkan kapal perang ke Laut Arab dan memperingatkan Teheran soal program nuklirnya.
  • AS menuntut penghentian pengayaan uranium dan pembatasan rudal, sementara Iran meminta pencabutan sanksi ekonomi dan mempertahankan program nuklir sipil.
  • Meski ancaman perang menguat, jalur diplomasi masih terbuka dengan mediasi negara kawasan dan negosiasi tertutup yang terus berlangsung.

 

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Washington mengerahkan kapal perang ke Laut Arab.

Situasi ini memicu kekhawatiran akan eskalasi militer, meski sejumlah negara di kawasan mendorong jalur diplomasi.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa waktu Iran untuk kembali bernegosiasi hampir habis.

Ia menegaskan Washington siap bertindak jika Teheran terus melanjutkan program nuklirnya.

Iran pun membalas dengan pernyataan keras, menyebut militernya siap merespons setiap serangan.

Ketegangan ini terjadi setelah serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada pertengahan 2025.

Rekomendasi Untuk Anda

Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Qatar dan meluncurkan rudal ke wilayah Israel.

Tuntutan Amerika Serikat

AS menuntut Iran menghentikan seluruh aktivitas nuklirnya, termasuk pengayaan uranium, serta menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.

Baca juga: Rincian Terbaru Pengerahan Kapal Perusak AS dan Persiapan Iran: Washington Ajak Rapat Saudi-Israel

Washington juga menekan Iran agar membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan seperti Hizbullah dan milisi pro-Iran lainnya.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya melaporkan Iran memiliki lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen.

Level ini mendekati kadar bahan untuk senjata nuklir.

Tuntutan Iran

Di sisi lain, Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi yang telah melumpuhkan perekonomiannya sejak 2018.

Teheran juga bersikeras mempertahankan program nuklir sipil dan kemampuan rudal sebagai alat pertahanan.

Iran menilai sanksi AS menyebabkan inflasi tinggi dan jatuhnya nilai mata uang, serta menekan kehidupan masyarakat.

Ancaman Perang dan Jalur Diplomasi

Meski retorika kedua negara semakin keras, sejumlah pihak menilai perang terbuka masih bisa dihindari.

Negara-negara Teluk seperti Qatar berupaya memediasi, sementara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menolak wilayahnya digunakan untuk serangan terhadap Iran.

Baca juga: IRGC Unjuk Gigi di Selat Hormuz, Akan Gelar Latihan Tembak di Tengah Ketegangan Iran–AS

Namun, kehadiran kapal induk AS di kawasan dan sejarah konflik panjang membuat situasi tetap rawan.

Para pengamat menilai masa depan hubungan AS–Iran sangat bergantung pada hasil negosiasi tertutup yang kini tengah berlangsung serta keputusan politik Presiden Trump dalam beberapa bulan ke depan.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas