Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Bagaimana Mungkin Pilot Pesawat Pengebom B-2 Tidur saat Terbang 30 Jam Nonstop?

Pesawat pembom B-2 Spirit mampu terbang nonstop hingga lebih dari 30 jam dengan dua pilot yang bergantian tidur siang di ruang sempit kokpit.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
  • Pesawat pembom B-2 Spirit mampu terbang nonstop hingga lebih dari 30 jam dengan dua pilot yang bergantian tidur siang di ruang sempit kokpit.
  • Pada Juni 2025, tujuh pesawat B-2 menjalankan misi pengeboman ke Iran selama 37 jam tanpa henti.
  • Keberhasilan misi bergantung pada disiplin, pelatihan, serta dukungan medis untuk menjaga fokus dan ketahanan fisik para pilot.


TRIBUNNEWS.COM – Pesawat pembom strategis jarak jauh B-2 Spirit buatan Northrop Grumman merupakan salah satu pesawat militer tercanggih di dunia.

Tujuan B-2 adalah menyusup ke wilayah udara musuh, menjatuhkan bom, dan kembali ke pangkalan, yang jaraknya bisa sangat jauh dari target.

Seluruh armada B-2 dioperasikan oleh Sayap Pembom ke-509 Angkatan Udara AS dan Sayap Pembom ke-131 Garda Nasional Udara Missouri dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman, Missouri.

Pesawat B-2 memiliki jangkauan nyaris tak terbatas berkat kemampuan pengisian bahan bakar di udara.

Artinya, pesawat ini dapat meninggalkan pangkalan angkatan udara, terbang ke wilayah jauh seperti Iran, mengebom target, lalu kembali, semuanya dalam satu misi.

Meski secara teknologi luar biasa, pencapaian manusia juga tak kalah menakjubkan karena B-2 membutuhkan dua pilot untuk dioperasikan.

Keduanya harus tetap berada di dalam pesawat sepanjang misi, yang sering kali berlangsung lebih dari 20 hingga 30 jam penerbangan nonstop.

Rekomendasi Untuk Anda

Lalu, bagaimana awak pesawat pengebom B-2 bisa tidur, makan dan melakukan hal lainnya?

MISI PENGEBOMAN - Pesawat pengebom (bomber) B-2 militer Amerika Serikat (AS). Tujuh pesawat ini dilibatkan saat AS memutuskan membantu Israel dalam perangnya melawan Iran dengan mengebom tiga fasilitas nuklir Teheran pada Sabtu (21/6/2025) malam atau Minggu (22/6/2025) dini hari.
MISI PENGEBOMAN - Pesawat pengebom (bomber) B-2 militer Amerika Serikat (AS). Tujuh pesawat ini dilibatkan saat AS memutuskan membantu Israel dalam perangnya melawan Iran dengan mengebom tiga fasilitas nuklir Teheran pada Sabtu (21/6/2025) malam atau Minggu (22/6/2025) dini hari. (khaberni/tangkap layar)

Mengutip SlashGear, para pilot tidak bisa tidur dengan cara yang sama seperti di darat.

Mereka perlu merencanakan waktu tidur secara bergantian.

Baca juga: Inilah B-21 Raider, Pesawat Bomber Siluman Nuklir AS Penerus Era Pesawat Pengebom B-2

Penyesuaian ini memungkinkan mereka mendapatkan cukup istirahat untuk menyelesaikan misi berjam-jam tanpa mengganggu kemampuan operasional B-2.

Sebagian orang mungkin melihat keterbatasan pilihan tidur ini sebagai kekurangan desain pada pesawat militer termahal di dunia itu.

Namun pada akhirnya, disiplin dan pelatihan para pilotlah yang memungkinkan semua ini, dan persiapan menjadi kunci keberhasilan awak B-2.

Pesawat B-2 bukanlah pesawat kecil karena mampu membawa muatan lebih dari 40.000 pon (sekitar 18,1 ton).

Sayangnya bagi awak pesawat, hal itu berarti sebagian besar kapasitas internal digunakan untuk penyimpanan bom, sehingga membatasi ruang di dalam kabin.

Kokpit B-2 relatif sempit, tetapi terdapat ruang selebar sekitar 1,83 meter tepat di belakang kursi tempat pilot dapat berbaring.

Pilot dilatih dan didukung oleh tenaga medis yang mengajari mereka teknik untuk mengatasi beban fisik dan psikologis dari kondisi tersebut.

Kapten Caleb James, seorang dokter dari Grup Medis ke-509, mengatakan kepada Defense News:

“Ada cara untuk menggeser ritme sirkadian maju atau mundur dengan mendapatkan jumlah tidur yang cukup, mengubah jadwal tidur, dan bahkan memodifikasi pola makan.”

Untuk misi yang melebihi kemampuan kebanyakan orang dalam satu hari, dokter terkadang meresepkan obat jika awak membutuhkan sedikit dorongan tambahan agar tetap fokus pada misi.

Setiap waktu tidur siang yang diambil harus dijadwalkan di antara tugas-tugas penting selama misi.

Letnan Kolonel Niki “Rogue” Polidor, seorang pilot B-2 sekaligus kepala keselamatan Sayap Pembom ke-509, menjelaskan kepada media bahwa pilot biasanya tidur siang selama beberapa jam, tetapi hal itu bergantung pada rute penerbangan, lokasi pengisian bahan bakar di sepanjang rute, serta jadwal aktivitas persenjataan.

Setelah kru mendarat, mereka melakukan pengarahan dan kemudian beristirahat sejenak.

Misi Serangan ke Iran Butuh Waktu 37 Jam

Mengutip National Interest, penerbangan komersial terpanjang saat ini adalah rute New York–Singapura, yang menempuh jarak hampir 9.536 mil (15.348,7 kilometer) dalam waktu kurang dari 19 jam.

Untungnya bagi penumpang, kabin pesawat memiliki kelas bisnis dan ekonomi premium yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan.

Bahkan penumpang kelas ekonomi masih dapat berdiri dan meregangkan kaki dengan berjalan ke toilet.

Hal ini sangat berbeda dengan kondisi para awak tujuh pesawat B-2 Angkatan Udara Amerika Serikat yang menjalankan misi pengeboman ke Iran tahun lalu.

OPERATION MIDNIGHT HAMMER - Gambar yang dirilis Kementerian Pertahanan AS, memperlihatkan rute tim pesawat pengebom B-2 Spirit dalam serangan ke Iran pada 21 Juni 2025.
OPERATION MIDNIGHT HAMMER - Gambar yang dirilis Kementerian Pertahanan AS, memperlihatkan rute tim pesawat pengebom B-2 Spirit dalam serangan ke Iran pada 21 Juni 2025. (Kementerian Pertahanan AS)

Sebagai informasi, pada 21 Juni 2025, pesawat pembom siluman B-2 Spirit AS melakukan serangan jarak jauh yang sangat presisi ("Operasi Midnight Hammer") terhadap fasilitas nuklir Iran, khususnya menargetkan lokasi yang sangat terlindungi di Fordow dan Natanz. 

Tujuh pesawat B-2 terbang dari Missouri, AS menggunakan 14 bom penghancur bunker (GBU-57) berukuran besar untuk merusak infrastruktur bawah tanah yang dalam.

Serangan oleh B-2 menyebabkan "kerusakan parah" pada situs-situs nuklir Iran, menurut laporan IAEA.

Selama menjalankan misi, sebanyak 14 pilot di 7 pesawat menghabiskan waktu 37 jam terbang tanpa henti dalam misi dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman, Missouri, lalu kembali ke pangkalan semula.

Ini merupakan penerbangan terpanjang yang pernah dilakukan Angkatan Udara AS sejak serangan udara ke Afghanistan setelah serangan teroris 11 September 2001.

Keuntungan terbesar dari misi jarak jauh adalah pesawat pembom tidak perlu ditempatkan di pangkalan udara lain, begitu pula awak darat dan personel pendukung tidak perlu dikerahkan lebih dulu.

Namun, kelemahannya adalah durasi penerbangan yang sangat panjang ke Timur Tengah dan kembali.

Dokter serta ahli fisiologi di Pangkalan Angkatan Udara Whiteman membantu para pilot mempersiapkan tubuh dan pikiran mereka untuk misi tersebut.

Selain tempat tidur lipat untuk beristirahat, B-2 juga dilengkapi microwave dan pendingin yang berisi makanan ringan.

Meski kokpit B-2 tampak kecil dibandingkan ukuran luarnya, terdapat cukup ruang kepala bagi awak di belakang kursi.

Hal ini cukup unik di antara pesawat pembom Angkatan Udara AS yang masih beroperasi saat ini, meskipun pesawat Rockwell B-1B Lancer dan Boeing B-52H Stratofortress memiliki ruang interior yang lebih besar dibandingkan B-2 Spirit.

Namun, awak kabin Lancer dan Stratofortress yang lebih banyak dengan cepat memenuhi ruang yang tersedia, sementara mereka tetap hanya berbagi satu tempat tidur untuk beristirahat selama penerbangan panjang.

Untuk toilet, B-2 memiliki kamar kecil yang terletak tepat di belakang kursi awak.

Mengingat kondisinya yang terbatas, sebagian besar pilot B-2 perlu memperhatikan apa yang mereka makan sebelum misi dan kemudian hanya mengonsumsi makanan sederhana, seperti sandwich, selama penerbangan.

Fokus utama adalah menjaga tubuh tetap terhidrasi selama penerbangan panjang.

Kafein umumnya dihindari karena dehidrasi sudah menjadi masalah di ketinggian.

Sebagai gantinya, pilot dianjurkan minum sekitar satu botol air per jam selama misi panjang.

Letnan Jenderal Steve Basham (Purn.), yang menerbangkan B-2 selama sembilan tahun, mengatakan kepada Reuters bahwa makanan andalannya adalah sandwich kalkun dengan roti gandum tanpa keju, meski rasanya sangat hambar.

Makanan ringan dapat berupa permen, sementara biji bunga matahari menjadi favorit di antara sebagian awak.

Namun, makanan asin umumnya dihindari.

Terdapat pula laporan bahwa beberapa pilot B-2 diberi Modafinil, yang dijuluki “pil penambah energi” dan dianggap sebagai pilihan yang lebih baik dibandingkan amfetamin tradisional untuk mengatasi kelelahan dalam misi panjang.

Obat ini diyakini memiliki efek samping lebih sedikit serta potensi penyalahgunaan yang lebih rendah, meski para ahli tetap memperingatkan bahwa obat tersebut bukan pengganti tidur yang sesungguhnya.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas