Menlu Kenya Akan Datangi Rusia: Protes Moskow Rekrut Warganya Buat Perang Lawan Ukraina
Badan intelijen Ukraina memperkirakan bahwa Rusia telah merekrut lebih dari 1.400 orang dari 36 negara Afrika ke dalam militernya
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Menlu Kenya Akan Datangi Rusia: Protes Moskow yang Rekrut Warganya Buat Perang Lawan Ukraina
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Kenya, Musalia Mudavadi, Selasa (10/2/2026) mengatakan kalau ia berencana ke Moskow dalam upaya untuk mencegah perekrutan lebih lanjut warga Kenya untuk berperang bagi Rusia dalam invasi skala penuh ke Ukraina
“Kita telah menyaksikan hilangnya nyawa, dan saya berencana untuk mengunjungi Moskow agar kita dapat menekankan bahwa ini adalah sesuatu yang perlu dihentikan,” kata Mudavadi dalam sebuah pernyataan kepada media dikutip dari AFP.
Baca juga: Dari Kenya hingga Kuba, Intel Rusia Rekrut Tentara Asing dengan Iming-iming Uang dan Kewarganegaraan
Dia tidak menyebutkan kapan kunjungan itu akan berlangsung dan Moskow belum memberikan komentar terkait rencana tersebut.
Nairobi memperkirakan sekitar 200 warga Kenya telah direkrut untuk berperang bagi Rusia, yang semuanya melakukan perjalanan dari negara Afrika Timur tersebut melalui jalur tidak resmi. Jumlah sebenarnya diyakini lebih tinggi.
Badan intelijen Ukraina memperkirakan bahwa Rusia telah merekrut lebih dari 1.400 orang dari 36 negara Afrika ke dalam militernya.
Moskow membantah merekrut pejuang asing untuk invasi skala penuhnya ke Ukraina.
Mudavadi mengatakan lebih dari 30 warga Kenya telah dievakuasi dari Rusia selama dua bulan terakhir dan 600 agen perekrutan yang menyesatkan warga Kenya dengan janji pekerjaan di luar negeri telah ditutup
Dia mengatakan akan juga mengupayakan pembebasan warga Kenya yang ditahan sebagai tawanan perang di Ukraina dan memeriksa kondisi mereka yang dirawat di rumah sakit.
Mudavadi mengatakan kepada BBC kalau Kenya akan mendesak Kenya untuk mengekang praktik perekrutan ilegal melalui diskusi tentang kebijakan visa dan perjanjian kerja bilateral yang menetapkan larangan wajib militer.
Menteri tersebut menambahkan, pihak berwenang Kenya memberikan perawatan psikologis kepada para pejuang yang dipulangkan untuk "menderadikalisasi" mereka dan mengatasi trauma yang mereka alami.
Dalam sebuah penggerebekan polisi pada bulan September, AFP melaporkan bahwa polisi Kenya menyelamatkan 21 pemuda yang hendak terbang ke Rusia.
Seorang karyawan agen perekrutan Kenya yang menyewa apartemen tempat para pemuda itu tinggal sedang diadili atas tuduhan "perdagangan manusia".
Seorang warga negara Rusia yang terlibat dalam kasus ini, Mikhail Lyapin, dilaporkan diusir dari Kenya atas permintaan Moskow.
Duta Besar Ukraina untuk Kenya, Yurii Tokar, mengatakan bahwa Rusia pertama kali menargetkan bekas republik Soviet di Asia Tengah, kemudian India dan Nepal, sebelum beralih ke Afrika.
“Mereka mencari orang untuk dijadikan umpan meriam di mana pun memungkinkan,” kata Tokar kepada AFP.
Masih belum jelas berapa banyak warga Kenya yang tewas saat berperang melawan Ukraina.
(oln/bbc/afp/tmt/*)