AS Beri Sanksi Baru ke Hizbullah, Targetkan Perusahaan Pertukaran Emas
AS sanksi perusahaan emas Jood SARL di Lebanon karena duga keterlibatan pendanaan Hizbullah. Akses keuangan global diputus.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Sri Juliati
Ringkasan Berita:
- AS menjatuhkan sanksi baru terhadap perusahaan penukaran emas Jood SARL yang diduga membantu pendanaan Hizbullah.
- Sanksi ini bertujuan memutus akses kelompok tersebut ke sistem keuangan global.
- Sejumlah individu dan perusahaan internasional juga ikut masuk daftar hitam dan asetnya dibekukan.
TRIBUNNEWS.COM - Departemen Keuangan Amerika Serikat secara resmi menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan mekanisme pendanaan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Langkah ini menyasar sektor keuangan informal melalui perusahaan penukaran emas yang dituduh membantu kelompok tersebut mengonversi cadangan emas menjadi aset tunai untuk membiayai stabilitas ekonominya.
Mengutip pernyataan resmi dari Departemen Keuangan AS, sanksi kali ini dijatuhkan kepada perusahaan pertukaran emas bernama Jood SARL.
Perusahaan ini disebut beroperasi di bawah pengawasan Al-Qard al-Hassan (AQAH), sebuah lembaga keuangan milik Hizbullah yang sebelumnya telah masuk dalam daftar hitam AS.
Pemerintahan Presiden Donald Trump menuduh Jood SARL menyamar sebagai organisasi non-pemerintah (LSM) untuk memfasilitasi aktivitas keuangan yang menyerupai bank.
Perusahaan tersebut digunakan untuk memastikan Hizbullah tetap memiliki akses terhadap arus kas meskipun sedang menghadapi tekanan likuiditas yang besar sepanjang awal tahun 2025.
Memutus Akses Keuangan Global
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari upaya melindungi stabilitas di Timur Tengah.
"Departemen Keuangan akan berupaya memutus akses para teroris ini dari sistem keuangan global untuk memberi Lebanon kesempatan untuk kembali damai dan makmur," ujar Bessent dalam pernyataannya yang dilansir oleh Al Jazeera.
Selain Jood SARL, sanksi juga menyasar sejumlah individu dan entitas internasional, termasuk warga negara Rusia Andrey Viktorovich Borisov serta beberapa perusahaan pelayaran di Turki dan Panama.
Mereka dituduh terlibat dalam skema pengadaan internasional dan pengiriman komoditas untuk menghasilkan pendapatan bagi Hizbullah melalui koordinasi dengan rezim Iran.
Baca juga: Tentara Lebanon Bongkar Terowongan Bawah Tanah Hizbullah, Jenderal Tinggi AS Ucapkan Selamat
Konteks Ekonomi dan Konflik
Melansir laporan dari The Times of Israel, sanksi ini diberlakukan di tengah lonjakan harga emas dunia yang melampaui angka $5.000 per gram.
Lebanon sendiri dikenal memiliki salah satu cadangan emas terbesar di Timur Tengah, yang kini menjadi perhatian dalam upaya pemulihan ekonomi negara tersebut yang tengah lumpuh.
Sanksi ini muncul di saat Hizbullah terus menghadapi tekanan militer dan politik.
Meskipun gencatan senjata telah disepakati pada November 2024, ketegangan di perbatasan tetap tinggi.
Israel dilaporkan masih melakukan serangan berkala di Lebanon selatan, sementara pemerintah Lebanon didesak untuk segera melucuti senjata kelompok tersebut guna mengembalikan kedaulatan penuh negara.
Akibat dari sanksi ini, seluruh aset milik pihak-pihak yang masuk daftar hitam di Amerika Serikat akan dibekukan, dan warga negara maupun perusahaan AS dilarang keras melakukan transaksi keuangan dengan mereka.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)