13 Februari Berdarah, Militer AS Serang Kapal Diduga 'Narco-Terrorists' di Kawasan Karibia
Serangan Militer AS di Pasifik Timur Tewaskan Tiga Orang, Total Korban Operasi Southern Spear Capai 122
Penulis:
garudea prabawati
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap kapal di Samudra Pasifik timur.
- Kapal yang menjadi target serangan diduga terlibat perdagangan narkoba .
- Tiga orang tewas dalam operasi terbaru yang diklaim sebagai bagian dari upaya memerangi jaringan “narco-terrorism”.
TRIBUNNEWS.COM - Militer Amerika Serikat (AS) melakukan serangan terhadap sebuah kapal di Samudra Pasifik timur pada Kamis (13/2/2026).
Kapal tersebut diduga memperdagangkan narkoba.
Serangan tersebut menewaskan tiga orang.
Operasi tersebut juga telah dikonfirmasi oleh Komando Selatan AS.
Dalam pernyataan resminya di platform X, United States Southern Command (#SOUTHCOM) menyebut bahwa serangan dilakukan atas arahan komandannya, Francis L. Donovan.
“Pada 13 Februari, atas arahan komandan #SOUTHCOM Jenderal Francis L. Donovan, Joint Task Force Southern Spear melakukan serangan kinetik mematikan terhadap kapal yang dioperasikan oleh Organisasi Teroris yang Ditunjuk,” demikian bunyi pernyataan tersebut yang diunggah di sosial media X, @U.S. Southern Command.
Militer AS menyatakan bahwa intelijen mengonfirmasi kapal itu melintas di jalur yang dikenal sebagai rute perdagangan narkotika di kawasan Karibia dan terlibat dalam operasi penyelundupan narkoba.
Tiga orang yang disebut sebagai “narco-terrorists” tewas dalam serangan tersebut.
Pihak berwenang menegaskan tidak ada personel militer AS yang terluka.
Baca juga: Dua Pesawat Amerika Lepas Landas dari Dua Negara Arab Dekati Perbatasan Iran
Bagian dari Operasi Southern Spear
Serangan terbaru ini merupakan bagian dari Operasi Southern Spear, sebuah operasi keamanan regional yang dipimpin oleh United States Southern Command.
Pekan sebelumnya, militer AS juga melancarkan serangan serupa di Samudra Pasifik yang menewaskan dua orang.
Dengan tambahan tiga korban terbaru, jumlah total orang yang tewas dalam serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai terkait perdagangan narkoba dalam operasi ini mencapai sedikitnya 122 orang.
Namun, hingga kini belum ada bukti publik yang dirilis untuk memverifikasi klaim bahwa kapal-kapal yang menjadi sasaran memang digunakan untuk operasi narkotika.
Operasi ini memicu perhatian terhadap perluasan penggunaan kekuatan militer dalam pemberantasan perdagangan narkoba lintas negara, terutama di jalur maritim kawasan Amerika Latin dan Karibia.
(*)